gutenberg editor sucks!

Gutenberg editor sucks!
Bagi yang sudah biasa bekerja dengan [dot]o-er-ge pastinya mengerti dengan seruan itu. Saya baru terpikir sore tadi untuk menjadikannya judul. Dan memang inovasi penyunting halaman situs yang sudah mulai diperkenalkan sejak pertengahan tahun lalu itu, menurut saya pribadi—dan sebagian orang lainnya di dunia per-situs-online-an—sangat menyebalkan. Sungguh aneh mengapa WordPress mengeluarkan fitur yang sangat ribet itu dengan embel-embel iklan “lebih user-friendly” … dari Hongkong…?!

Orang-orang sedang berkumpul bergembira dengan iringan lagu-lagu sederhana Zakaria di sebuah warung di depan sana, di pinggir jalan raya. Di sini, di area campcraft Pasirputih sepi. Saya duduk sendiri berkutat dengan laptop, mencari cara bagaimana supaya situs web Pasirputih ini bisa tampil dengan kemasan yang baik tapi mudah akses. Sibawaihi sudah menunggu-nunggu sejak tiga hari lalu terkait situs ini karena tulisan-tulisan dari para pegiat sudah terkumpul dan harus segera diterbitkan online.

Sejak kemarin, saya tidak bisa menyentuh sedikit pun gambar-gambar oil pastel yang terletak di pinggir dinding campcraft ini karena ternyata menghadapi kerumitan Gutenberg Editor lebih menciptakan suatu atmosfer “waktu yang begitu cepat berlalu”. Rasanya baru saja saya membuka laptop, pagi-pagi hari pukul sepuluh, dan tiba-tiba sudah pukul sembilan malam.

Namun begitu, di situ pulalah terletak sensasi candunya. Serumit-rumitnya tools yang harus digunakan dalam membangun situs online, selalu terselip rasa puas di setiap fase yang berhasil disiasati. Saya bukan ahli CSS ataupun seorang web designer, tapi saya berusaha bersiasat dengan teknologi ini, mencari cara bagaimana konten bisa terkemas rapi lagi menarik, terbit dengan cukup baik dan, setidaknya, tampil berkelas dibanding situs-situs orang lain.


Otty, Anggra, dan Pingkan tiba di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, tadi siang. Mereka bertiga sekarang turut berkumpul di warung depan sana. Seperti biasanya, Otty kerap mengeluarkan komentar atas gaya saya yang selalu menyuntuki laptop. Ketika saya mencoba meninjau keramaian di warung itu, Otty berteriak, “Tuh, keluar juga dari sarang, dia!”

“Ngapain, sih?!” tanyanya kesal. Saya menjawab singkat, “Website!” Lalu Otty diam saja dengan wajah yang tak lepas dari kesal.

Suasana keramaian di sebuah warung di pinggir jalan, di dekat markas Pasirputih, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, malam ini, 13 Februari 2019.


Pada suatu hari, Sarah melihat saya dari balik paha ibunya. Pandangannya penuh penasaran, tapi segan-segan. Ketika melihat tatapannya yang malu-malu ke arah saya itu, saya tiba-tiba dihampiri rasa rindu yang kuat untuk kembali ke dunia anak-anak. Tatapan Sarah cukup menginspirasi saya untuk menyusun 21 satu renungan yang sambung-menyambung menyerupai cerita pendek. Dua puluh satu renungan tentang harapan tanpa beban, tapi diselimuti oleh imajinasi yang nyaris dapat diterima oleh akal sehat maupun logika sastra sekalipun—begitulah saya memaksudkannya sementara ini.

Mungkin renungan itu akan bertambah lagi, menjadi seratus, atau dua ratus. Terkait hal itu, saya jadi berniat untuk membuat semua-semuanya berjumlah seratus. Seratus oil pastel, seratus puisi, seratus garis, seratus found object berupa bungkus rokok, seratus terbitan, membaca seratus buku, menulis seratus buku, dan seratus seratus lainnya.

Pada suatu hari, tatapan Sarah membuat saya berpikir, bahwa tawa di seberang meja sembari menikmati soto di Surabaya itu mungkin hanyalah sebuah buaian situasi yang kebetulan sama saja. Bahwa, tawa pingkal hingga bertitik air mata itu bukan tanda tentang kebaruan, bukan awal dari narasi yang manis ataupun baik. Setahun lewat sudah, dan visual dari ingatan di Surabaya yang masih sering melintas sekilas itu masih tetap membuat kepala saya berdengung-dengung, menyesali alur yang sebenarnya sudah saya sadari, tapi saya terlalu angkuh untuk bermain api. Untung saja Sarah kala itu berada di Suwon, dan udara di sana waktu itu tidak gerah sama sekali, dan juga tidak ada soto. Dan dari Jakarta, suatu hari saya melihat Sarah justru bermain air, dan dari situlah saya melihat bahwa Burung Tukan ternyata juga mempunyai kepribadian yang menarik ketika ia berhasil menemukan kedewasaannya dalam berpikir.

Suatu hari di masa depan, saya mungkin akan melihat Sarah berbaring di balik bantal besar sembari melihat-lihat layar mungil yang sudah tak lagi sama dengan yang saya punya sekarang ini. Mungkin saja, saat itu, ia sedang gundah—walau tak segulana saya detik ini—terhadap hal-hal kecil di sekolahnya. Oh, iya, kira-kira berapa umurnya nanti, di waktu saya melihat adegan itu? Dan apakah saya masih akan terus mencatat seperti satu setengah bulan ini…? Oh, besok adalah hari yang diribut-ributkan orang itu.


Keadaan sekarang, biasanya, akan dikeluhkan dalam dua kata, “senja dituang”, oleh orang yang mengajarkan saya tentang cara membuat sambal sunda. Saya tidak tahu kapan angin di jendela bus kota berhasil membuat helai demi helai rambut seorang remaja SMA di tanah Melayu berhenti merenung lantas bernyanyi. Sudah berapa penduduk yang dicatat olehnya sekarang ini…?

Gutenberg dikenal sebagai salah satu pencetus pesebaran informasi. Tapi namanya kini terdengar agak menjengkelkan gara-gara ulah para inovator konyol yang salah perhitungan. Saya rasanya mulai mengerti perasaan pria yang menulis catatan dari bawah tanah itu, tapi mengakui tak akan sanggup hidup dalam keadaan terjepit, tak punya uang, tapi dituntut untuk merangkai kata-kata yang cemerlang. Seandainya ia tahu bahwa kebiasaan beberapa orang yang menelan kalimatnya setengah-setengah, atau efek-efek tak langsung lainnya yang berkembang akibat perkembangan dari apa yang ditemukan oleh Gutenberg, membuat seorang pemuda menjadi angkuh di titik nadir perasaannya. Saya menjadi geli sendiri ketika membaca utasan kemarahannya beberapa waktu lalu, dan geli juga memperhatikan beberapa utasan yang saya buat.

Maria tiba-tiba mengirimi saya pesan WhatsApp, ia memberi tahu saya bahwa Otty mengajak kami semua untuk rapat.

Pemenang, 13 Februari 2019, pukul 23:07 WITA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: