sepulang dari rumah mintarja

Saya dan para pegiat Bangsal Menggawe 2019 baru saja pulang dari rumah Mintarja, salah seorang tokoh pemuda di Kecamatan Pemenang. Kalau kata Sibawaihi, Mintarja inilah tokoh lokal yang selalu perhatian terhadap keadaan warga di Pemenang walaupun cara menuangkan perhatiannya itu dengan cara-cara yang di luar sistem. Terkadang jahil, terkadang filosofis. Otty juga mengakui “jiwa kearifan lokal” yang ada pada seorang Mintarja dan juga kawan-kawannya.

Mintarja (bertopi) sedang membersihkan bambu untuk membuat kerangka terompet raksasa.

Selama proyek kami di Pemenang, Maria berkolaborasi dengan Mintarja untuk merealisasikan ide Mintarja, yaitu membuat terompet besar yang ketika ditiup, dari dalam terompet itu akan keluar peragawati dan peragawan. Karenanya, seminggu terakhir, Maria sibuk bolak-balik dari Pasirputih ke rumah Mintarja, dan juga sibuk mencari bambu dan botol-botol bekas yang akan dijadikan bahan untuk membuat patung terompet itu. Sewaktu kami ke rumahnya tadi, dia sedang mengerjakan terompet itu.

Nongkrong di lapangan dekat rumah Mintarja.

Di rumah Mintarja juga terjadi suatu diskusi tentang bagaimana cara mengaktivasi warga agar bisa menyelenggarakan sebuah peristiwa kultural tanpa bergantung pada para pemegang modal dan pemerintah. Ide ini menjadi utama untuk membaca apakah pemberdayaan yang dilakukan selama ini memiliki efek dalam kehidupan mewarga, dan apakah kehidupan bertetangga kita selama ini memiliki fungsi yang positif dalam prinsip gotong-royong yang sebenarnya. Dan bagaimana juga jika warga bisa bergerak sendiri, serta bisa menaikkan posisi tawarnya di depan para pemangku kepentingan lainnya. Dalam konteks ini, yang ditekankan ialah bukan lagi “pemberdayaan masyarakat” (memberdayakan masyarakat), tapi justru “masyarakat berdaya” (yang sedari awal sudah mempunya energinya sendiri yang sesungguhnya aktif).

Sepulang dari rumah Mintarja, kami sekarang berkumpul di bangku-bangku kayu yang ada di depan campcraft Pasirputih. Sebentar lagi, kami akan melaksanakan rapat harian (setiap malam), mengevaluasi aktivitas yang sudah dilakukan seharian dalam rangka Bangsal Menggawe. Biasanya, rapat ini akan memakan waktu yang lama, hingga larut malam. Dan, setiap orang dilarang untuk mengerjakan hal-hal lain selain fokus pada jalannya rapat, demi kualitas komunikasi dan kerja di hari berikutnya.

Satu per satu orang sudah berdatangan. Di sini, sekarang, di dekat saya, ada Otty, Sibawaihi, Rajib, Alya, Anggra, Maria, Hamdani. Anggota pegiat yang lain belum kelihatan. Menunggu-nunggu kehadiran orang hingga lengkap juga memakan waktu.

Saya tidak bisa mencatat lebih banyak sekarang. Belum lagi, setelah rapat ini, saya harus melanjutkan pengerjaan website Pasirputih. Tapi mungkin saya akan melakukan video call dulu dengan Juli. Saya rindu sekali dengan Juli…, sungguh!

 

Pemenang, 15 Februari 2019, pukul 21:54 WITA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: