pong pang kelinti capung

Pukul tujuh malam lebih enam belas menit sekarang ini. Saya baru saja pulang dari rumah Gozali, menemani teman-teman dari Pasirputih latihan bernyanyi lagu rakyat “pong pang kelinti capung, umba anak tengari desa”. Rencananya, “pertunjukan menyanyikan lagu” ini akan dipersembahkan untuk Mintarja, salah satu partisipan utama di Bangsal Menggawe 2019, persembahan dari Pasirputih khusus untuknya, untuk merespon skeptisisme Mintarja terhadap penggunaan-penggunaan bahasa dalam banyak kegiatan-kegiatan lokal saat ini yang, menurut pendapatnya, sering kali melupakan bahasa-bahasa asli dari lingkungan dan tradisi berkehidupan masyarakat lokal.

Rencana ini adalah bagian dari proyek teater yang digarap oleh Gozali, Ana (istrinya), dan Pingkan, yang dikurasi oleh Otty dan Sibawaihi, difasilitasi oleh Pasirputih. Dan setiap aksi “pertunjukan” teater mereka “menolak bentuk pertunjukan atau pemanggungan” (dan dengan begitu, menurut pendapat saya, berada di jalur wacana “anti-teater”). Para penonton dilibatkan untuk menjadi “juga aktor”; mereka adalah pihak-pihak yang sebenarnya mengalami beberapa hal di dalam aksi teater yang berkaitan konteksnya dengan keseharian mereka.

Tapi, dua paragraf di atas tidak bisa saya terbitkan detik ini. Sebab, aksi untuk berteater di lapangan dekat rumah Mntarja berupa “paduan suara pong pang kelinti capung” itu baru akan kami lakukan bersama-sama (seperti flashmob) di rumah Mintarja pada waktu ba’da Isya, Waktu Indonesia Tengah. Dengan kata lain, hingga Isya nanti, saya baru akan bisa melanjutkan catatan ini nanti, sekitar pukul sepuluh malam, mungkin.

Sekarang, orang-orang sedang menunggu makan malam. Pingkan mendapat tugas untuk menjadi koki hari ini. Sebenarnya, ia dipasangkan dengan Hamdani, tetapi si bujang itu tak tampak batang hidungnya sejak usai pertandingan Bangsal Cup tadi. Mungkin, Hamdani, bersama Dhuha, sedang sibuk mendatangi banyak orang untuk dimintai rekaman ekspresi tersenyum sepanjang tujuh detik untuk dikompilasi menjadi video berdurasi dua jam, dan akan ditayangkan di layar public yang ada di dekat Pelabuhan Bangsal). Di dapur, detik ini, Pingkan memasakan makan malam ditemani oleh Izom. Agaknya, baru setelah makan malam nanti, pasukan dari Pasirputih bersia-siap menuju rumah Mintarja. Saya dimintai Otty untuk merekam peristiwa tersebut secara tidak mencolok. Saya penasaran, bagaimana keseruan flashmob ini nantinya.

***

Pukul sebelas malam lebih lima puluh tujuh menit, Waktu Indonesia Tengah. Saya baru saja pulang dari Dusun Karang Desa, Pemenang Barat; baru kembali dari sebuah area di dekat rumah Mintarja. Sebenarnya, aksi flashmob—saya sebut saja seperti itu meskipun sebenarnya saya setuju bahwa aksi yang kami lakukan itu tidak tepat jika diistilahkan semata “flashmob”—selesai sebelum pukul sepuluh. Kami segera bubar dari lapangan di depan rumah Mintarja dan kembali ke markas Pasirputih. Sekembalinya ke Pasirputih, kami segera makan malam. Otty, Maria, Pingkan, dan Gozali melakukan evaluasi. Usai makan malam, saya diajak oleh Sibawaihi untuk ke Dusun Karang Desa lagi, ke rumahnya Rizal untuk melihat orang-orang di sana latihan musik gambus. Kunjungan ke kelompok musik gambus ini juga dalam rangka membantu Pak Zakaria mengurus perekaman lagu untuk mengiringi senam rudat, proyek seni yang ia garap untuk Bangsal Menggawe.

Suasana di lapangan dekat rumah Mintarja, beberapa saat sebelum kami mengejutkannya.

Maria (kiri) dan Otty (kanan), serta Anggra (kiri bawah) dan Pingkan (kanan bawah; mengenakan baju warna pink). Pria yang duduk mengenakan kemeja putih dan bertopi pedora (di sebelah kanan) adalah Mintarja.

Saya berhasil merekam aksi “teater pong pang”, yang saya sebut di bagian sebelumnya di catatan ini, dengan cukup baik, menggunakan kamera handphone milik Pingkan. Namun, rekaman itu rupanya belum bisa diunggah ke media sosial. Untung saja, tadi siang, saya merekam sesi latihan. Dan karena aksi “teater pong pang” sudah dilakukan, saya berniat akan mengunggah video itu ke blog ini kapan-kapan.

Suasana di rumahnya Rizal (yang memegang gambus) yang ramai oleh para pemuda, berlatih musik gambus.

Di berugak di sebelah rumahnya Rizal berlatih gambus, Mintarja (paling kiri), Sibawaihi (di sebelah Mintarja), dan Pak Zakaria (paling kanan) berdiskusi tentang Bangsal Menggawe. Saya tidak tahu nama bapak yang berbaju biru di sebelah Sibawaihi.

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya tulis tentang hari ini, tetapi saya tidak punya cukup waktu karena harus mengerjakan hal yang lain. Semoga saja besok saya punya kesempatan lebih banyak untuk menghadapi laptop—tapi saya sudah berjanji bahwa mulai hari ini hingga ke depannya, saya harus keluar dari tempurung dan lebih banyak berbaur ke masyarakat sembari menyelesaikan proyek Sound of Our Earth yang sudah mengumpulkan jawaban-jawaban singkat dari 60 responden warga Kecamatan Pemenang (mayoritas, responden yang kami dapat adalah warga Dusun Karang Subagan, Pemenang Barat).

Mhammad Gozali (Ketua Umum Pasirputih).

Detik ini, pukul sebelas malam lebih delapan belas menit, di sebelah saya ada Gozali. Sepertinya ia ingin berdiskusi tentang “teater pong pang” yang kami lakukan tadi di mana ia menjadi “aktor” utama yang memberikan kejutan untuk Mintarja.

Saya lebih baik berdiskusi dulu dengan Gozali.

 

Pemenang, 22 Februari 2019, pukul 23:19 WITA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: