pikiran yang melintas setelah melihat acara pembukaan MTQ tingkat kecamatan

Detik ini, saya mendengar lagu P.O.D. yang rilis tahun 2001, berjudul Youth of The Nation. Lagu itu akrab di telinga saya karena ketika masih di usia Sekolah Dasar, saya sering mendengarnya di televisi, dan ketika beranjak SMP, lagu itu juga menjadi salah satu favorit kawan-kawan yang hobi di dunia per-band-an.

Saya baru saja pulang dari melihat acara pembukaan MTQ tingkat Kecamatan Pemenang yang diadakan di sebuah area bekas Pasar Pemenang. Tanah lapang itu kini dimanfaatkan sebagai ruang publik. Katanya, akan dibangun sekolah baru di situ pascagempa ini.

Suasana acara pembukaan MTQ tingkat kecamatan di Kecamatan Pemenang, tanggal 11 Maret 2019.

Tapi, menyimak pidato para pejabat yang mengisi acara pembukaan tersebut, saya jadi kesal karena yang mereka gadang-gadangkan adalah aspek perlombaannya: bagaimana memotivasi peserta MTQ untuk bisa menang. Saya jadi merasa esensi membaca ayat suci jadi hilang dan karenanya, sekarang ini, saya malah berpikir bahwa jangan-jangan penyelenggaraan MTQ itu, sejak awalnya, sudah menggunakan kerangka berpikir yang salah. Mungkin, ya…? Ini hanya pendapat pribadi saja.

Beberapa hari lalu, tepatnya ketika saya memulai hari ketiga lokakarya Kelas Wah bersama Pasirputih, di saat jam istirahat, saya menunjukkan sebuah video YouTube ke beberapa kawan di markas ini. Yaitu, sebuah video kuliah singkat dari seorang peneliti berkebangsaan Yahudi, Lesley Hazleton. Walau ia seorang Yahudi yang agnostik, ia mengerjakan penelitiannya tentang Islam dan Al-qur’an secara penuh hati, dan dalam kuliahnya itu ia berbagi kesan-kesan yang ia dapatkan selama melakukan penelitian, dan menunjukkan betapa kitab suci umat Islam tersebut memiliki keunggulan, baik dari segi bahasa maupun dari sudut pandang sastra.

Saya kira, penelitian-penelitian semacam itulah semestinya yang harus digalakkan oleh sarjana-sarjana Islam di negeri ini kalau memang tujuannya untuk menambahkan kecintaan masyarakat muslim terhadap kitab suci yang diyakini. Jika cara yang dilakukan hanya lewat perlombaan-perlombaan yang dapat membiaskan esensi dari membaca kitab, saya rasa hal itu hanya akan membawa kepada situasi kemunduran berpikir.

Pemenang, 11 Maret 2019, pukul 23:31 WITA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: