meninjau pr-pr

Hari ini, saya isi dengan kegiatan menyunting tulisan panjang lima bab, yang akan direncanakan untuk terbit menjadi sebuah buku tentang proyek Aksara Tani yang digarap oleh Sayurankita dan Pasirputih di Gili Meno sejak tahun 2018. Buku itu ditulis oleh kakak saya, Afifah Farida. Kami menargetkan bahwa buku itu bisa terbit pertengahan tahun ini.

Membaca tulisan-tulisan Afifah seakan kembali menapaki perkenalan saya dengan Pasirputih pada awal tahun 2015. Sedikit/banyak, apa yang dicatat oleh Afifah dalam bingkaiannya tentang pemberdayaan pertanian, berkaitan dengan apa yang saya lakukan dulu dalam mengembangkan ide pemberdayaan media. Saya kira, jika buku ini berhasil terbit, Afifah harus membuat buku-buku lainnya tentang pertanian. Saya penasara, bagaimana jika kiranya proyek tentang herbarium yang pernah ia utarakan saya juga dijadikan bahan utama pembuatan sebuah buku tentang jenis-jenis tanaman, dan tentunya bukan buku-buku jenis tanaman ala kadarnya yang sering dijual di Gramedia, tetapi buku tentang tanaman yang dapat memberikan perspektif baru dalam menumbuhkan kearifan dalam bersentuhan dengan tanah dan tanaman.

Siang hari, saya, Dhuha, Maria, Pingkan, dan Theo, melakukan rapat bersama Otty untuk membicarakan materi presentasi kami mengenai Bangsal Menggawe yang sudah selesai tangagl 3 Maret lalu. Presentasi itu akan dilakukan di markas Forum Lenteng, ke hadapan audiens yang merupakan anggota Forum Lenteng. Presentasi ini, sebenarnya, bagian dari evaluasi sekaligus metode untuk merancang buku pasca-acara Bangsal Menggawe. Dengan kata lain, ini adalah buku kedua yang harus digarap tahun ini.

Saya juga tidak lupa bahwa tugas “buku seni” di kelas Milisifilem harus segera diselesaikan. Selama di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, saya hanya mampu membuat tak lebih dari dua puluh gambar tentang adegan-adegan film Pickpocket karya Bresson. Masih ada banyak film darinya yang harus saya tonton untuk melengkapi konten “buku seni” yang ingin saya buat.

Selain itu, ke dalam harddisk saya, Robby sudah meletakkan hampir seratus film yang mendaftar ke Festival ARKIPEL, untuk saya tonton. Untuk ARKIPEL tahun ini, saya mendapat amanah sebagai salah satu selector sesi kompetisi. Dan semua film yang kemungkinan akan sampai ribuan, harus ditonton oleh tujuh orang selector. Dengan kata lain, hingga bulan Juni nanti, saya harus menonton setidaknya lima hingga sepuluh film setiap hari.

Terakhir, ya, saya juga masih ingat utang-utang artikel tentang @masdalu dan transkripsi wawancara yang saya lakukan. Proyek pameran tunggal @masdalu harus segera direalisasikan. Proyek ini sudah tertunda sangat lama sekali.

Theo dan Onyong malam ini; baju kaos mereka belum berubah dari kemarin.

Detik ini, pukul sepuluh malam lebih satu setengah menit, lagu berjudul Weird Fishes karya Radiohead terdengar dari speaker yang terhubung ke laptop Theo yang duduk di sebelah saya. Dan sekarang saya bingung, setelah catatan malam ini, pekerjaan yang mana dulu yang harus saya lanjutkan.

 

Jakarta, 18 Maret 2019, pukul 22:03 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: