forum lenteng memulai kembali kelas seni performans

Seperti kemarin, hari ini saya mulai dengan melanjutkan pekerjaan menyunting tulisan-tulisan Afifah yang akan dibukukan, sebuah sebuku tentang proyek Aksara Tani yang ia kerjakan bersama Muhammad Imran dan Sri Hayati di Gili Meno, Kecamatan Pemenang. Karena semangat dan senang dengan isinya, saya sempat memberikan sedikit cuplikan beberapa paragraf kepada kawan-kawan di Pemenang dengan mengirimkan screencapt layar laptop saya ke chat group WhatsApp.

Saya menyunting tulisan-tulisan Afifah itu hingga pukul tiga. Masih ada tiga setengah bab lagi yang harus saya sunting esok hari.

Pada pukul tiga sore, kelas baru dimulai di Forum Lenteng, yaitu kelas khusus tentang seni performans, dalam rangka Program 69 Performance Club. Kelas baru ini sebenarnya adalah “pembaharuan” dari kelas-kelas 69 Performance Club yang pernah aktif lebih dari setahun yang lalu. Kali ini, partisipan kelas adalah mereka-mereka yang aktif di Milisifilem Collective, termasuk saya.

Suasana kuliah seni performans di Forum Lenteng hari ini, tanggal 19 Maret 2019. (Foto: diambil dari akun Instagram @69performanceclub)

Hafiz dan Otty memberikan materi tentang dasar-dasar seni performans, termasuk sejarah kemunculan praktik dan gagasan tentang seni itu di dalam medan senirupa dunia. Pemberian materi itu berlangsung hingga pukul enam sore. Setelahnya, kami melakukan semacam praktik kecil tentang “estetika tubuh”, karena seni performans adalah “seni yang menempatkan tubuh sebagai pusat statement-nya, yang didalamnya dikandungkan beragam konsepsi dan permainan estetik, dan karenanya ia pasti bersifat politis.”

Hafiz membuat garis lurus di atas lantai dengan menggunakan lakban hitam. Garis itu adalah penanda antara “ruang realitas” dan “ruang representasi”. Setiap partisipan yang akan mempresentasikan gerak tubuhnya, diminta untuk memasuki “ruang representasi” itu. Ruang yang termasuk dalam batas lakban hitam seakan menjadi kertas putih yang di atasnya bisa digambari garis-garis, layaknya dengan praktik menggambar bentuk-bentuk dasar senirupa pada masa-masa awal kelas Milisifilem tahun lalu.

Seni performans oleh Onyong. (Foto: Pingkan Polla)

Seni performans oleh Asti. (Foto: Pingkan Polla)

Senni performans oleh Rian. (Foto: Pingkan Polla)

Seni performans oleh Robby. (Foto: Pingkan Polla)

Saya yang sebelumnya tidak pernah melakukan praktik seni performans—hanya menulis beberapa ulasan tentang karya beberapa teman di Forum Lenteng—cukup kebingungan memikirkan apa kira-kira yang bisa saya tampilkan di dalam “ruang representasi” tersebut. Karenanya, saya pun berpatok pada metode yang saya gunakan ketika membuat gambar, dan mencoba bermain-main dengan perspektif penonton yang duduk di “ruang realitas”, sekaligus sedikit mengganggu batas yang merupakan lakban hitam itu. Gerak tubuh yang saya lakukan di dalam “ruang representasi” sengaja saya hentikan ketika ia melewati batas garis lakban hitam.

Dan kabar baiknya, usaha ini mendapatkan komentar yang baik dari partisipan lainnya yang menonton saat itu.

Sekarang pukul tujuh malam lebih tiga puluh menit. Kelas sudah usai. Beberapa orang kembali ke mejanya masing-masing, ada yang melanjutkan pekerjaan menyunting video, ada yang duduk-duduk saja di meja rapat, atau ada juga yang seperti saya: kembali mengetik.

Tapi, perut saya keroncongan sekarang ini.

 

Jakarta, 19 Maret 2019, pukul 19:31 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: