mengingat untuk kritik sekarang

Hari ini adalah hari pameran tunggal Dhanurendra Pandji, biasa dipanggil Panji, salah satu partisipan Milisifilem Collective.

Di Forum Lenteng, lewat platform Milisifilem, masing-masing partisipan diberi kesempatan untuk menyelenggarakan pameran tunggal yang dikurasi oleh seorang partisipan lainnya. Bulan ini, adalah pelaksanaan pameran tunggal pertama, yaitu pamerannya Panji, yang dikurasi oleh Luthfan Nur Rochman. Judul pameran tunggal Panji adalah Remembrance of Things Past, memamerkan 40 gambar yang dibuat dengan medium oil pastel di atas karton board. Dalam penjelasan kuratorialnya disebutkan bahwa Panji menelusuri ingatan-ingatannya yang kabur tentang Temanggung, lokasi masa kecilnya.

Kegiatan persiapan pameran tunggal Dhanurendra Pandji semalam.

Men-display karya-karya Dhanurendra Pandji untuk pameran tunggalnya, Remembrance of Things Past, yang dikurasi oleh Luthfan Nur Rochman, di Forum Lenteng (22 Maret – 18 April 2019).

Gambar yang dibuat Panji menerapkan komposisi warna-warna yang solid, berjibaku pada konstruksi-konstruksi geometris, atas ruang-ruang yang sebagian besarnya adalah eksterior. Menurut pendapat Otty, salah satu guru kami di Milisifilem, Panji “mengurung” (atau, dalam istilah yang lain, bisa disebut “menginteriorkan”) pengalaman-pengalaman atau ingatan-ingatan tentang yang eksterior tersebut.

Suasana pembukaan pameran tunggal Pandji, dibuka oleh Hafiz Rancajale (Ketua Forum Lenteng).

Kiri ke kanan: Dhanurendra Pandji, Lutfhan Nur Rochman, Hafiz, Wahyu Budiman Dasta, Paul Soewarso, dan Dhuha Ramadhani, pada pembukaan pameran tunggal Dhanurendra Pandji, Remembrance of Things Past. (Foto: Pingkan Polla).

Dalam sesi diskusi yang dilakukan ketika pameran resmi dibuka, saya sempat bertanya kepada Panji: “Apa tujuan lu dalam mengingat?” (terutama kaitannya dengan proyek pameran tunggal yang sudah dia kerjakan). Sebab, di mata saya, ingatan-ingatan yang dituangkannya ke dalam gambar-gambar oil pastel tersebut justru tak berniat menghadirkan hal-hal yang detail. Sepertinya Panji hanya mengutip sejumlah elemen dengan tujuan menghadirkan esensi-esensi rupanya. Bagi Panji, pengalaman justru menjadi pijakan bagi eksperimentasi bentuk. Pendapat saya itu, ternyata, sama dengan jawaban Panji.

“Tapi, gue berani bertanggung jawab atas narasi-narasi di setiap gambar-gambar yang lu lihat ini,” kata Panji, menambahkan jawabannya. “Lu tunjuk mana aja, gue bisa kasih lu cerita tentang gambar itu.”

Suasana diskusi tentang pameran tunggal Pandji, yang dimoderasi oleh Otty Widasari. (Foto: Pingkan Polla).

20 karya gambar oil pastel yang dikompos menjadi satu dalam Pameran Tunggal Dhanurendra Pandji: “Remembrance of Things Past”, dikurasi oleh Luthfan Nur Rochman.

20 karya gambar oil pastel yang dikompos menjadi satu dalam Pameran Tunggal Dhanurendra Pandji “Remembrance of Things Past”, dikurasi oleh Luthfan Nur Rochman.

Menurut pendapat saya, 40 karya gambar oil pastel yang disusun menjadi dua pajangan karya besar (masing-masing terdiri dari 20 gambar-gambar kecil) itu memang membahana. Banyak pujian terdengar di telinga saya, yang berasal dari mulut-mulut para partisipan Milisifilem Collective lainnya, juga dari beberapa wajah yang adalah pengunjung pameran di luar anggota Forum Lenteng.

Dhanurendra Pandji di depan Remembrance of Things Past. (Foto: Pingkan Polla).

Suatu ketika di masa lalu, dini hari, beberapa hari setelah dibukanya pameran ICAD #9, Panji mencurakan isi hatinya kepada saya tentang kegelisahannya terhadap ketidakdisiplinannya sendiri. Setelah saya memberikan sedikit pandangan kepadanya, Panji kemudian berjanji bahwa dia akan menjadi lebih disiplin dan akan menghasilkan karya senirupa sebanyak-banyaknya. Saya kira, usaha Panji sejak hari itu membuahkan hasil. Buktinya, ia adalah partisipan pertama di Milisifilem Collective yang siap berpameran tunggal, dan karyanya di Remembrance of Things Past ini, jelas sekali, bukan karya kacangan.

Saya juga takjub kepada Luthfan. Saya rasa, Luthfan mempunyai bakat di dunia kurasi-mengurasi. Pameran tunggal ini ia kemas dengan sederhana, tapi tak kehilangan energi. Bahkan, ia piawai membingkai praktik Panji sebagai kritik tentang fenomena milenial sekarang yang kerap kali terjebak untuk “mematerialkan ingatan” dengan perangkat-perangkat bantuan dan melupakan pergulatan tubuh yang mengharuskan usaha lebih. Interpretasi saya terhadap bingkaian kuratorial Luthfan: si kurator melihat bahwa, daripada memunculkan hal-hal yang semata menekankan kecantikan gambar, permainan komposisi garis-garis dan warna-warna Panji dalam Remembrance of Things Past justru hadir sebagai peringatan atas eksperimen rupa yang mengamini rasionalitas dan logika.

Dhanurendra Pandji (kanan) dan kuratornya, Luthfan Nur Rochman (kiri). (Foto: Alifah Melisa).

Terima kasih atas pengadaan pameran yang baik ini, Luthfan! Dan selamat berpameran tunggal dan memulai kehidupan sebagai seniman profesional, Panji! #asyek

 

Jakarta, 22 Maret 2019, pukul 21:36 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: