intensitas untuk diam

Tadi pagi, saya hanya tidur satu jam. Semalam saya begadang mengerjakan suntingan tulisan-tulisan Afifah. Saya hampir lupa bahwa Sabtu pagi ada kelas seni performans di Program 69 Performance Club Forum Lenteng. Al-hasil, saya menjalani kelas itu dengan berusaha menahan kantuk.

Hari Senin dan Sabtu, mulai minggu ini, adalah hari untuk kelas 69 Performance Club. Jika Senin adalah sesi pemberian materi, Sabtu adalah sesi olah tubuh dalam rangka mendalami seni performans.

Hari ini, Hafiz mengajak kami mempelajari sekaligus menumbuhkan kesadaran tentang perbedaan antara ruang presentasi dan ruang realitas. Seperti yang sudah pernah saya catat sebelumnya, di Forum Lenteng, Hafiz membuat garis batas menggunakan lakban hitam di atas lantai, yang membagi ruang tengah Forum Lenteng menjadi dua: ruang presentasi (“ruang seni”) dan ruang realitas (ruang sehari-hari). Setiap pertemuan kelas, setiap kami melewati batas garis itu, memasuki “ruang presentasi”, maka kami harus sadar bahwa itu adalah area untuk melakukan seni performans. Tentu, ketentuan itu hanya berlaku ketika kami melakukan simulasi.

Garis batas hitam dari lakban yang dibuat Hafiz untuk kebutuhan sesi kelas seni performans di Forum Lenteng, dalam rangka program 69 Performance Club.

Latihan olah tubuh yang diberikan oleh Hafiz tadi pagi sebenarnya sederhana saja: kami diminta untuk berdiam beberapa lama di dalam “ruang presentasi” itu. Dan setelahnya, kami diminta berputar mengitari meja panjang yang diletakkan di dalam “ruang presentasi” tersebut.

Olah tubuh untuk memahami “ruang presentasi”: diam. (Foto: Hafiz Rancajale).

Meskipun kami hanya diminta diam, ternyata “intensitas untuk menjadi diam” adalah poin utama dalam konteks olah tubuh pada sesi latihan olah tubuh pertama ini. Dan itu tidak mudah. Tapi, ketika irama kediaman itu telah mampu diikuti, tubuh justru menjadi lebih peka terhadap dirinya sendiri. Saya bisa mendengar bunyi napas saya sendiri, dan bagaimana tubuh itu memancarkan frekuensi tertentu terhadap suasana ruang dan objek-objek lainnya yang ada di dalam area “ruang presentasi”.

Setelah sesi latihan olah tubuh yang “mendiamkan diri”, Hafiz meminta kami satu per satu melakukan satu pose atau gerakan yang mengandung statement “saya keren” dengan membingkai gestur sehari-hari ke dalam “ruang presentasi” tersebut. Ada banyak macam pose dan gerakan dari masing-masing orang. Saya pribadi, memilih pose duduk melipat kaki kanan sembari memperhatikan karya oil pastel Pandji.

Gestur sehari-hari Asti, yang ia bingkai ke dalam “ruang representasi” untuk memberikan statement: “saya keren”. (Foto: Hafiz Rancajale).

Gestur sehari-hari Ufik, yang ia bingkai ke dalam “ruang representasi” untuk memberikan statement: “saya keren”. (Foto: Hafiz Rancajale).

Gestur sehari-hari Luthfan, yang ia bingkai ke dalam “ruang representasi” untuk memberikan statement: “saya keren”. (Foto: Hafiz Rancajale).

Gestur sehari-hari Andra, yang ia bingkai ke dalam “ruang representasi” untuk memberikan statement: “saya keren”. (Foto: Hafiz Rancajale).

Gestur sehari-hari Pandji, yang ia bingkai ke dalam “ruang representasi” untuk memberikan statement: “saya keren”. (Foto: Pingkan Polla).

Gestur sehari-hari saya, yang saya bingkai ke dalam “ruang presentasi” untuk mencoba memberikan statement: “saya keren”. (Foto: Pingkan Polla).

Gestur sehari-hari yang kerap saya senangi adalah mengamati karya senirupa, layaknya menyelam ke dalam air dan memperhatikan buih-buih kecil yang mengambang menuju permukaan air. Tenang. Tak jarang juga mengejutkan.

 

Jakarta, 23 Maret 2019, pukul 22:09 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: