intensitas untuk membingkai

Materi kelas “Roman Picisan” dari Otty Widasari di Forum Lenteng hari ini sangat menarik. Ia berbagi metode—yang kerap ia kembangkan sendiri—cara membuat karya tulis. Salah satu penekanannya dalam materi tersebut ialah: jangan terjebak menjadi ‘sok-sok serius’ (menggunakan kalimat-kalimat yang terkesan pintar) dan ‘sok-sok puitis’ (menggunakan kalimat yang terkesan puitis atau indah) tanpa mengetahui alasan dan dasar mengapa gaya itu digunakan. Hal ini menjadi penekanan Otty karena ia banyak menemukan karya tulis dari para penulis muda yang kerap menggunakan kalimat-kalimat yang terkesan canggih tapi ompong dalam segi substansi. Menggunakan gaya bahasa puitik dalam tulisan dan membuat konten yang serius itu boleh, asal tahu cara membingkainya, berlandaskan kepada kejujuran berpikir, dan mau melatih diri. Saran yang berkali-kali diulang oleh Otty sejak dulu, terkait salah satu cara melatih kepekaan atas yang puitik (baik dalam hal pemahaman maupun praktik) ialah dengan membaca karya sastra yang baik.

Tapi, selain itu, ada banyak metode yang bisa digunakan dalam latihan praktisnya, salah satunya ialah metode yang dikembangkan oleh Otty pribadi.

Suasana kelas “Roman Picisan” di Forum Lenteng, 26 Maret 2019.

Dalam materi “Roman Picisan” hari ini, Otty meminta kami memilih satu objek yang ada di dekat kami, lalu membuat cerita tentang objek itu. Tapi, tugas dari Otty di kelas hari ini, ialah, kami harus membuat cerita tentang objek yang kami pilih itu dengan panjang tulisan yang singkat dengan menggunakan bahasa segamblang mungkin—tidak boleh berputis-puitis dan ber-serius-serius.

Secara keseluruhan, masing-masing partisipan kelas mendapat enam tugas. Yang pertama, membuat satu paragraf tentang “dari mana” objek yang kami masing-masing pilih itu. Setelah tugas pertama diselesaikan dan dibacakan di hadapan semua orang, kami mengerjakan tugas kedua, yaitu membuat satu paragraf lagi tentang “mengapa objek yang kami pilih tersebut ada di lokasi tempat kami memilihnya”. Lalu, yang ketiga, kami harus membuat satu paragraf tentang “spekulasi yang akan terjadi pada objek itu, apakah ia kembali ke tempat asalnya atau tidak”. Dan paragraf keempat: “keputusan kami masing-masing terhadap objek tersebut”.

Secara tidak langsung, masing-masing kami sudah membuat satu tulisan.

Lalu, untuk tugas kelima, Otty menyuruh kami menulis ulang tulisan tersebut menjadi satu, tapi dengan dua syarat: mengganti semua kata benda yang berdekatan dengan objek yang kami ceritakan, dan mengganti semua kata kerja yang melekat pada objek itu. Dengan kata lain, hasilnya nanti akan menjadi karya tulis yang berbeda isinya, tapi bisa saja konteksnya sama. Pada tugas kelima tersebut, kami diperbolehkan menggunakan majas-majas atau kalimat-kalimat metaforis. Untuk tugas yang kelima ini, pada karya tulis beberapa orang (termasuk saya), hasilnya menjadi absurd. Namun, lewat simulasi tersebut kami menjadi paham logika dari menulis. Bahwa, dengan jujur mengungkapkan pemikiran, kita tidak akan keliru ketika mengemasnya lewat kalimat-kalimat puitik. Penjelasan lainnya: logika kemasan satraik kemudian dapat dipahami. Dan dengan berlatih pada gaya penulisan yang gambling (dalam arti: jujur), pembingkaian justru menjadi lebih lugas, menarik, dan justru tidak kering.

Pada tugas yang keenam, kami diminta untuk memilih salah satu tulisan hasil buatan orang lain. Kami harus melakukan “possessing” terhadap objek atau topik yang ditulis oleh si penulis aslinya. Lalu, kami membuat karya tulis baru dengan merujuk pada tulisan yang kami pilih, sebagaimana membuat karya tulis yang bersifat referensial, tetapi dengan ketelitian juga menjadikan topik itu tertampil sebagai “topik yang sudah kami miliki”.

Di antara tulisan yang ada, saya memilih tulisan Asti untuk saya ceritakan ulang.

Anda bisa membaca dua tulisan saya, hasil kegiatan kelas “Roman Picisan” hari ini. Empat paragraf pertama (yang belum diubah menggunakan kalimat-kalimat metaforis), beserta versi yang sudah diubah beberapa katanya, saya beri judul “Kamus” (dapat dibaca pada link ini); dan sedangkan tulisan saya yang menceritakan secara baru karya tulis Asti bisa dibaca di link yang satu lagi ini, saya beri judul “Si Piano Kecil Biru”. Kedua tulisan tersebut, di dalam blog pribadi ini, saya masukkan ke dalam kategori “Glimpses of Anything”.

 

Jakarta, 26 Maret 2019, pukul 21:35 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: