tiba-tiba teringat dua kejadian di Lombok

Maghrib. Pukul enam lebih empat puluh tujuh menit. Saya sedang membereskan database website AKUMASSA. Untuk merapikan kategorisasi setiap terbitan, mau tidak mau saya pun meninjau kembali isi dari artikel-artikel yang sudah terbit. Dari beberapa artikel yang terbaca oleh saya hari ini, saya jadi teringat sebuah peristiwa yang saya alami ketika berada di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, bulan lalu.

Jadi, dalam rangka persiapan Bangsal Menggawe 2019, panitia berniat membuat sebuah video yang berisi orang-orang Pemenang yang tersenyum ke hadapan depan kamera. Video itu dimaksudkan sebagai “senyum Pemenang dari dan untuk warga Pemenang”. Tapi, Otty, yang kala itu menjadi kurator, mewajibkan tim pembuat video untuk memasukan ratusan footage orang-orang tersenyum. Maka, kami semua yang bergiat untuk acara itu akhirnya mendatangi setiap orang yang kami temui di mana pun, meminta kesediaan mereka untuk direkam sambil tersenyum.

Suatu sore, usai mendokumentasikan kegiatan latihan senam rudat di SDN 8 Pemenang, saya meminta izin kepada salah seorang guru yang sedang mengawas kegiatan latihan hari itu untuk merekam wajah-wajah tersenyum murid-muridnya. Guru itu mengizinkan.

Peristiwa merekam wajah-wajah senyum murid-murid di sekolah tersebut demikian ricuh. Setiap anak tampak selalu penasaran dengan tampilan yang ada di layar handphone saya. Ada banyak murid yang, setelah direkam, memilih untuk berdiri di belakang saya, melihat penampakan di layar kamera. Ada banyak anak yang berdiri di belakang saya itu menggoda atau menertawakan temannya yang tengah direkam. Hal itu, awalnya, saya anggap biasa saja, tapi lama kelamaan mengganggu pekerjaan saya juga.

Saya tahu betul bahwa kecenderungan untuk meledek teman-teman, seperti yang terjadi di tengah-tengah aksi saya merekam setiap murid, adalah bagian dari peristiwa bullying—ledekan yang mengintimidasi dan membuat kecil hati si anak yang terkena ledekan. Dan biasanya, calon-calon korban adalah tipikal anak yang pendiam, atau mempunyai ciri-ciri yang dianggap “buruk rupa” oleh teman-temannya, seperti kulit hitam, badan gendut, kulit berkoreng, hidung pesek, mulut monyong, badan yang pendek, dan lain-lainnya (semua hal yang dianggap sebagai kategori “jelek”).

Dari semua murid yang berjumlah hampir dua ratus itu, saya juga menyadari ada beberapa murid (perempuan dan laki-laki) yang memiliki salah satu ciri-ciri yang saya sebut di atas. Bagi saya tentu ciri-ciri itu biasa saja, tapi anggapan umum yang melabel ciri-ciri tersebut “buruk rupa”—dan begitu jugalah anggapan itu ada di kepala murid-murid yang lain—pada akhirnya akan memancing terjadinya bullying, atau cemoohan.

Saya ingat betul, ada seorang murid perempuan yang tak lama kemudian tiba gilirannya untuk direkam. Dan saya juga sudah menduga bahwa dia akan menjadi korban bullying ketika peristiwa perekaman terjadi. Maka, sebelum si murid perempuan yang dimaksud saya rekam, saya menghentikan kamera, lalu berbalik badan, dan dengan tegas menyuruh semua anak-anak yang berdiri di belakang saya untuk pindah, pergi menjauh. Untung saja guru yang tengah mengawasi peristiwa itu juga membantu saya untuk “menghalau” para murid yang sedari tadi suka meledek itu. Dengan begitu, si murid perempuan yang “bakal calon korban bullying” itu pun dapat tersenyum dengan lepas, tanpa terganggu oleh ledekan teman-temannya. Dan buat saya, senyumnya betapa manis. Dan saya begitu senang karena dia bisa tersenyum tanpa merasa terintimidasi.


Di malam terakhir saya di Kecamatan Pemenang, saya mendengar seorang kawan—tak perlu saya sebut namanya—berkeluh-kesah tentang saudara laki-lakinya. Menurut teman saya itu, saudara laki-lakinya itu tak bertanggung jawab, serta bodoh karena memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai PLN dan lebih memilih berkebun, sementara dia sudah punya istri dengan dua anak. Teman saya berpandangan bahwa seharusnya, untuk bisa menjadi berarti, kita harus bersyukur dengan pekerjaan kita dan loyal terhadap pekerjaan itu. Bukannya malah meninggalkannya.

Tapi, buat saya, ada hal yang terlewatkan oleh teman saya itu. Saya mengeal betul saudara laki-lakinya itu. Dan saya tahu betul apa alasan yang melatarbelakangi saudara laki-lakinya meninggalkan pekerjaan sebagai pegawai PLN dan memilih menjadi pengangguran (atau, sebenaranya, dia memilih untuk berkebun). Saudara laki-lakinya itu memikirkan hal yang jauh melampaui apa yang biasanya orang-orang kejar hari ini. Saudara laki-lakinya itu memikirkan masa depan, bukan hanya masa depan istri dan anak-anaknya, tetapi juga masa depan pulau tempat mereka tinggal, Gili Meno, dan daerah tempat ia lahir dan besar, Kecamatan Pemenang.

Tapi, memang, keputusan-keputusan semacam itu jarang sekali dapat dimengerti oleh orang-orang. Sebab, orang-orang hanya melihat bahwa saudara laki-lakinya itu “menganggur”, menjadi “pengangguran”, tanpa status sebagai pekerja aktif. Berkebun di rumah, tidak masuk kategori sebagai pekerjaan karena tidak ada pemasukan yang riil yang bisa dilihat. Dan memang, nyatanya, saudara laki-laki teman saya itu tampak tidak melakukan apa-apa selain berkebun, juga tampak tak bertanggung jawab dengan urusan-urusan keluarga besar.

Namun, di mata saya, apa yang dilakukan oleh saudara laki-laki teman saya itu adalah sesuatu yang besar. Jujur di dalam hati, saya justru mendukung 100% keputusannya untuk menjadi pengangguran dan lebih memilih untuk berkebun, memulai sesuatu yang dahulu pernah berjaya di Gili Meno: bertani. Justru, dengan dia bertani, dia sedang melakukan hal yang demikian besar untuk keluarga batihnya, keluarga besarnya, dan keluarga-keluarganya atau saudara-saudaranya yang lain yang ada di Pemenang. Dan semua itu, jelas, tak bisa dilihat. Sering kali malah disalahpahami sebagai tindakan yang tidak mempunyai hati. Barangkali saudara laki-laki teman saya itu memilih diam karena ia berpikir untuk tak perlu berdebat lebih jauh. Padahal, dia adalah orang yang sangat keras, salah satu yang paling keras yang pernah saya kenal. Atau, mungkin ia diam saja karena ia lelah bertengkar dengan orang yang memang belum mengerti jalan yang ia pilih. Buat saya, saudara laki-laki teman saya itu justru orang yang benar-benar memiliki hati, tapi ia menghidupkannya dengan ilmu dan akal-budi, tidak mau larut dalam drama pariwisata yang membius itu.


Iqomat Isya terdengar sementara Dhuha dan Andang tengah berdiskusi terkait usaha perbaikan website Forum Lenteng. Sementara itu, pikiran saya masih terpaku kepada dua pengalaman di Pemenang yang sudah saya ceritakan di atas.

 

Jakarta, 27 Maret 2019, pukul 19:21 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: