berkutat dengan literatur dan kebingungan

Ternyata, membuat esai tentang @masdalu, yang saya coba untuk dielaborasi dengan meninjau praktik Barbara Kruger, tidak semudah dugaan saya awalnya. Pengerjaan esai ini saya mulai sejak tanggal 29 Maret, dan hingga hari ini, esai itu belum selesai. Saya kira, saya masih membutuhkan satu hari lagi untuk menambah satu subjudul—dengan memaparkan analisa yang cukup signifikan dan beralasan untuk dipaparkan—serta pemolesan agar tata bahasa di dalamnya tidak ngawur dan mengada-ada. Memang, esai ini bersifat spekulasi dan ajakan untuk memikirkan peluang-peluang interpretasi mengenai @masdalu daripada pemaparan tentang analisis itu sendiri.

Salah satu jurnal yang saya baca tentang Barbara Kruger.

Kebetulan, telusuran literatur yang saya lakukan tentang sejarah desain grafis bertalian pula dengan tema kelas “Roman Picisan” hari ini, yaknti tentang hubungan generasi analog dan generasi digital, yang ditawarkan Otty dalam rangka mendiskusikan fenomena millennial. Meskipun begitu, diskusi di kelas tersebut tidak menyumbang inspirasi yang berpengaruh terhadap konstruksi esai saya tersebut. Jujur saja, saya pribadi masih kebingungan mengemas dan membingkai gagasan dalam esai itu secara pasti karena keterbatasan wawasan pula. Selain itu, saya menyadari bahwa ternyata ada banyak hal yang belum terkaji, bahkan oleh para pengamat di negeri ini—atau, setidaknya, saya sulit menemukan kajian-kajian yang relevan yang ditulis langsung oleh penulis lokal, terutama tentang masalah keterkaitan “media sosial” dengan “seni” dalam konteks estetika.

Hari ini, saya juga hanya bisa merekam audio untuk proyek Bunyi sebanyak satu materi saja, yaitu bunyi hujan. Itu pun tidak terekam dengan maksimal gara-gara kepala saya sedang tersita dengan upaya menyelesaikan esai tersebut.

Saya berpikir-pikir, esai berikutnya (yaitu esai yang keempat), yang idenya juga sudah ada di kepala saya, mungkin akan lebih mudah karena materi-materi analisa untuk esai tersebut cukup lengkap di dalam storage laptop saya.

Baru jam delapan malam, saya sudah merasa energi saya terkuras habis karena berkutat dengan teori-teori semiologis dan desain yang sangat runyam ini.

Oh, iya! Afifah sudah mengirimkan tulisan terbaru yang akan menjadi tambahan untuk bukunya yang sedang saya sunting. Saya baru akan menyentuh tulisan itu setelah menyelesaikan esai tentang @masdalu ini, besok malam atau lusa. Dan setelah semuanya kelar, barulah saya akan meninjau satu per satu film-film yang jumlahnya sudah ratusan, dalam rangka mempersiapkan festival film Agustus nanti. Tapi, gara-gara menulis kalimat ini, saya juga ingat bahwa masih ada PR yang lain: buku Forum Festival 2018. Huft…!

 

Jakarta, 2 April 2019, pukul 20:01 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: