mencatat sore hari

Nanti malam, sepertinya, akan menjadi malam yang benar-benar padat. Selain kegiatan menonton film bersama di program Senin Sinema Dunia, aka nada pula kelas seni performans. Kelas ini, seharusnya, dilangsungkan tadi pagi. Tapi sepertinya Hafiz dan Otty berhalangan sehingga kelas itu diundur ke sore hingga malam.

Gambar lukisan yang tampak di layar laptop saya itu adalah karya Paul Cézanne, berjudul The Large Bathers, tahun 1906.

Bangun pukul sepuluh pagi, saya segera mandi dan kemudian melanjutkan pekerjaan menyunting tulisan Afifah. Sebelum memulainya, saya sempat diri melihat beberapa gambar di Google, beberapa karya lukisan Paul Cézanne. Hafiz sering mengatakan bahwa melihat-lihat karya lukisan para seniman dunia itu sama dengan mengasah kosakata dan frekuensi pemikiran dalam senirupa. Karya-karya para seniman dunia, termasuk nama-nama seniman itu, merupakan kosakata wajib yang harus kami pahami dan hapalkan di luar kepala. Jujur saja, saya masih takt ahu banyak tentang seniman-seniman dunia ini meskipun sudah menggeluti kegiatan kesenian sejak tahun 2010.

Di sebelah saya, Dhuha masih sibuk mengunduh film-film yang masuk ke festival kami. Dia sudah mengerjakan hal itu sejak beberapa hari yan lalu, membantu Yuki (Direktur Festival ARKIPEL) yang juga sibuk mengunduh film-film yang didaftarkan oleh para pembuatnya untuk diterima di sesi kompetisi internasional.

Tahun ini, saya bertindak sebagai salah satu selektor. Maka, film-fim yang diunduh oleh Dhuha dan Yuki (juga Theo) itulah yang nanti akan harus saya tonton satu per satu.

Tapi, saya juga ingat bahwa saya harus menonton dua film lainnya, untuk kebutuhan diskusi pad akelas “Roman Picisan” besok. Film yang dimaksud adalah The God Father karya Coppola.

Otty, fasilitator kelas “Roman Picisan”, menyuruh kami untuk secara khusus menonton film The God Father pertama dan kedua karena dalam pertemuan berikutnya di kelas “Roman Picisan” itu, kami akan mempelajari metode penulisan scenario film.

Saya sengaja membuat catatan harian ini pada sore hari, yaitu (sekarang) pada pukul empat lebih dua puluh delapan menit, demi menghindari ketidaksempatan yang sangat mungkin akan terjadi nanti malam.

 

Jakarta, 8 April 2019, pukul 16:28 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: