seruan pergulatan

Hari ini, saya merekam tiga belas bunyi (dengan kata lain: ada tiga belas file audio yang berhasil saya buat) untuk diarsipkan ke dalam Bunyi: sound-archive project. Terbilang produktif jika dibandingkan dengan hari-hari kemarin. Biasanya, paling banyak saya hanya merekam tiga macam bunyi. Namun, keproduktifan untuk mengumpulkan bunyi ini harus dibayar dengan tak tersentuhnya pekerjaan menyunting buku Afifah.

Semalam, saya menunjukkan proyek ini kepada Pingkan. Saya mengatakan padanya bahwa apa yang saya lakukan sebenarnya tak jauh berbeda dengan metode yang sudah kami pelajari di kelas Milisifilem Collective yang difasilitasi oleh Forum Lenteng, yaitu membangun intensitas terhadap suatu fokus medium. Mengumpulkan bebunyian ini, bagi saya, sama saja dengan membuat gambar garis sebanyak mungkin. “Menubuhkan” metode yang dikembangkan oleh Milisifilem itulah, yang saya pikir, akan menjadi bernilai suatu hari nanti. Orientasinya bukan lagi output dalam bentuk “karya jadi”, tapi lebih kepada bagaimana menciptakan suatu pergulatan terhadap subjek matter dari praktik kesenian yang dipilih. Jika pergulatan ini bisa konsisten, suatu hari nanti pasti akan ditemukan titik performativitasnya. Saya percaya itu.

Dulu, saya sering mengeluh melihat sejumlah teman seniman yang tampak sangat malas berkarya. Maksud saya, bukan soal karyanya yang sedikit, tapi lebih ke perilaku sehari-harinya yang tidak menunjukkan loyalitas terhadap bidang yang ia pilih. Pingkan adalah salah satu teman yang paling sering saya kritik. Masalahnya, sebenarnya, hanya satu: malas. Saya sering mengeluh, tak jarang pula marah, karena masalah kemalasan ini akan berdampak pada ketidakproduktivitasan di ranah yang lain, misalnya dalam hal kebutuhan untuk memproduksi teks-teks yang berguna bagi wacana kesenian. Misalnya, jika saya ingin menulis tentang praktik berkeseniannya Pingkan, akan menjadi tidak mungkin jika Pingkan tidak memiliki materi (atau tidak mengumpulkan materi) yang bisa ditafsir, atau jika ia tidak melakukan aktivitas berkeseninan (dan juga jika ia tidak mendokumentasikan aktivitas itu). Sebaliknya, meskipun tidak banyak membuat “karya jadi”, wacana seorang seniman bisa dibaca sejauh ia bisa konsisten dengan praktik berkeseniannya dan jika dokumentasi atau sketsa-sketsa dari praktik berkeseniannya tersebut terarsipkan dengan baik.

Bukan hanya Pingkan, teman saya yang lain, yaitu Asti, juga sering saya kritik karena persoalan malam ini.

Sejak mengikuti kelas Milisifilem, saya seakan mendapatkan clue tentang apa itu kedisiplinan membangun intensitas dalam berkesenian. Baik Pingkan maupun Asti, mereka juga mengikuti kelas yang sama dengan saya. Kami sama-sama menjadi murid di kelas itu. Artinya, Pingkan dan Asti seharusnya juga mendapatkan clue yang sama pula dengan apa yang saya dapatkan sekarang. Jika saya mencoba berusaha meneladani pedoman-pedoman berkesenian yang diajarkan di Milisifilem, salah satunya dengan memulai proyek Bunyi ini, saya harap Pingkan dan Asti juga memulainya segera. Soalnya, di mata saya, mereka berdua ini adalah seniman performans yang sangat potensial. Jika saya lebih memposisikan proyek semacam ini sebagai lahan studi untuk menguji spekulasi-spekulasi yang tengah saya pikirkan setengah tahun belakangan, metode yang sama barangkali juga bisa diterapkan oleh Pingkan dan Asti untuk menguji sejauh apa eksplorasi estetika dari praktik kesenian mereka bisa diwujudkan (dan dibaca kemudian).

Selain itu, saya seakan mendapatkan mainan baru daripada marah melulu kepada Pingkan dan Asti. Bwahahaha!

Seorang teman yang lain yang mengetahui aktivitas saya sejak tanggal 1 April 2019 ini adalah Dhuha. Tadi maghrib—sekarang sudah pukul tujuh malam kurang empat menit—Dhuha bertanya kepada saya, “Kalau lu milih bebunyian, gue enaknya milih apa yak?” Dhuha tampaknya juga tertarik untuk menerapkan metode yang sama, tapi masih memikirkan medium apa yang akan ia dalami. Saya lantas menjawab dengan melemparkan pertanyaan balik, “Kenapa tak memilih medium bunyi juga?”

Maksud saya dengan pertanyaan balik itu adalah, supaya Dhuha tidak terjebak tendensi untuk “menjadi beda”. Ya, “menjadi beda” itu boleh saja, tapi bukankah yang lebih penting adalah mengulik segala kemungkinan yang ada? Bebunyian, bukan hanya milik saya, tapi miliki semua orang yang ingin menguliknya. Dan saya justru akan menjadi lebih semangat jika, misalnya, Dhuha juga memulai “proyek bebunyian” versinya, karena itu akan memperkaya praktik pengarsipan bunyi ini. Sebab, secara jujur perlu saya utarakan di sini, bahwa proyek arsip Bunyi yang sedang saya kerjakan ini terinspirasi dari Theo Nugraha, seorang seniman bebunyian asal Samarinda. Sekarang ini, Theo juga menjadi salah satu partisipan di Milisifilem. Lagipula, praktik mengumpulkan soundscape masih terbilang jarang di Indonesia. Kebanyakan, mereka yang mengaku sebagai sound-artist Indonesia lebih tertarik dengan bunyi-bunyian elektronis yang ke-noise-noise-an itu.

Tapi sepertinya Dhuha memang lebih tertarik dengan medium yang lain selain bunyi. Saya pun menawarkan saran: “Kenapa tak moving image seperti yang di YouTube saja?”

Dhuha tampak setuju dengan saran itu. Apakah ia akan merealisasikannya atau tidak, kita lihat saja nanti.

Saya pribadi juga punya rencana, sedikit demi sedikit, akan memulai proyek moving image yang seperti itu. Mungkin dua bulan lagi. Saya tertarik dengan ide moving image ini untuk meng-counter orang-orang yang mengaku “seniman video Indonesia” itu. #asyek

 

Jakarta, 10 April 2019, pukul 19:05 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: