diskusi, sunting, rekam, arisp

Hari ini, saya merekam bunyi sebanyak dua kali dengan Teknik sound-walking, dimulai dari lokasi markas Forum Lenteng menuju jalan raya yang ada di dekat pintu tol Jalan Simatupang, lalu berbelok ke Jalan Nangka hingga mencari suasana agak sepi dan mematikan alat rekam. Lalu, saya berjalan menuju jembatan penyeberangan yang ada di Jalan Simatupang, di dekat gedung McD, dan ketika menaiki tangga jembatan penyeberangan itu, saya memencet tombol rekam alat perekam digital yang saya bawa. Saya berdiri sekitar empat menit di atas jembatan, merekam bunyi-bunyi yang terdengar jika berdiri di jembatan itu, lalu membawa turun alat rekam digital tersebut dan saya genggam sembari berjalan menelusuri Jalan Swadaya, berbelok ke Jalan Saidi, mendekati sebuah masjid, lalu masuk ke gang-gang kecil, dan terus berjalan berkelok-kelok hingga saya sampai kembali ke markas Forum Lenteng.

Buat saya pribadi, teknik sound-walking ini sangat menarik karena durasi berjalan dan bunyi yang timbul-tenggelam atau mendekat menjauh yang terekam ke dalam alat perekam digital itu, ketika didengarkan kembali tanpa menyaksikan visual-visual, akan memunculkan nuansa naratif tertentu yang masuk ke wilayah abstraksi. Terkadang, ketika peristiwa-peristiwa yang bunyi terekam selama perjalanan adalah persitiwa-peristiwa yang menarik (magic moment), maka rekaman yang dihasilkan pun menjadi sinematis dalam derajat tertentu.

Saya ingat ketika masih di Lombok bulan lalu, saat Theo melakukan lokakarya kepada beberapa kawan di Pasirputih, ia mengajak partisipan untuk merekam soundscape dengan teknik sound-walking. Rekaman para partisipan tidak ada yang menarik. Sementara, Theo juga merekam dengan teknik yang sama, dan ketika ia memperdengarkan hasil rekamannya ke telinga kami semua, saya merasakan nuansa naratif yang mendorong telinga saya menyimak lebih saksama. Terutama ketika di ujung rekamannya itu, ada “puncak bunyi”, yaitu bunyi bertalu-talu dari suara kodok yang selalu kami dengar di waktu-waktu hujan dan gerimis malam hari.


Tadi siang, Forum Lenteng dikunjungi oleh enam orang mahasiswa FISIP UI. Empat di antaranya tergabung dalam organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan tiga orang pertama adalah anggota panitia acara “Hari Seni Rupa”, sedangkan seorangnya adalah teman saya, Wilsa, yang tahun ajaran ini menjabat sebagai Wakil Ketua Bem.

Mereka datang ke Forum Lenteng untuk berkonsultasi dengan saya dan Dhuha tentang format acara “Hari Seni Rupa” tahun ini. Mereka berencana akan membuat pameran, seperti tahun lalu, dan sudah menjalin komunikasi dengan Senat Mahasiswa IKJ (kalau tidak salah ingat, senat yang rencananya akan mereka ajak untuk bekerja sama adalah senat dari fakultas senirupa).

Karena saya dimintai saran, saya pun menyarankan mereka untuk mengadakan simposium senirupa (yang akan diselenggarakan dengan memanfaatkan perspektif dari ilmu-ilmu sosial dan politik) ketimbang mengadakan acara pameran. Sebab, saya berpikir, bahwa perayaan hari senirupa di kampus itu tidak mesti berformat pameran. Selain itu, format simposium mungkin lebih relevan dengan lingkungan perkuliahan mereka, dan hitung-hitung juga bahwa pewacanaan dunia kesenian di ranah ilmu-ilmu sosial masih terbilang sangat sedikit sekali.

Saya tak tahu, apakah mereka akan mengikuti saran itu atau tidak. Tapi, saya merasa bahwa ide simposium itu justru yang paling dibutuhkan sekarang ini, terutama bagi kalangan mahasiswa itu sendiri.


Proses penyuntingan buku Afifah, yang berjudul Aksara Tani, masih mandek di Bab 3. Bukan kontennya yang mandek, tapi layout-nya. Berhubung ini proyek Sayurankita dan Pasirputih, maka saya bertanggung jawab untuk menyelesaikan proyek ini hingga benar-benar tuntas. Keterbatasan dana menyebabkan saya terpaksa harus bertindak pula sebagai perancang tata letak buku itu. Saya tidak bisa mengajak teman-teman desainer grafis yang saya kenal untuk me-layout buku itu karena, saya tahu, bayarannya cukup mahal.

Tampilan layar laptopp saya ketika membuat catatan ini (12 April 2019).

Tapi, ada baiknya juga kalau buku itu saya sunting sendiri. Saya justru bisa menerapkan pemahaman saya di Milisifilem tentang permainan sistem grid. Ini seakan pemanasan sebelum saya menyunting “buku seni” yang tenggat waktunya sudah semakin dekat itu.

Sebentar lagi, kelas “Roman Picisan” angkatan Anggrek akan segera dimulai. Sama seperti minggu lalu, para partisipan kelas “Roman Picisan” angkatan Melati-Mawar juga diminta hadir oleh fasilitator kami, Otty.

Detik ini, jam di laptop saya menunjukkan angka 18:57. Agaknya saya masih punya waktu untuk mengunggah catatan ini dan memindahkan dua file rekaman bunyi yang saya buat tadi ke Bandcamp.

 

Jakarta, 12 April 2019, pukul 18:58 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: