senangnya merekam bunyi hari ini

Di sejumlah artikel yang mengulas masalah “bebunyian” (sound) atau di beberapa video para praktisi seni (seniman) yang mengulik medium bunyi, kerap disebutkan bahwa alasan memili bebunyian sebagai medium adalah untuk menguji kepekaan indera pendengaran terhadap lingkungan sekitar. Biasanya, penelusuran dan penyelidikan bunyi mencakup pula bunyi-bunyi detail yang jarang disadari oleh orang-orang, tetapi exist di suatu lokasi. Secara visual mungkin keberadaan sebuah objek yang menjadi sumber bunyi itu terlihat oleh mata, tetapi karena bising yang melanda hari-hari manusia, tidak sedikit objek-objek sumber suara itu luput dari telinga.

Salah satu contohnya, saya alami sendiri. Baru hari ini saya menyadari bahwa toko penjual air minum galonan yang ada di sebelah kosan saya, ternyata memiliki sekitar lima sangkar burung kenari dan pleci. Jika kita berdiam sebentar di depan toko itu, akan terdengar suara burung-burung itu. Kalau bukan karena mengerjakan proyek Bunyi, mungkin sekali eksistensi burung di dalam sangkar itu luput selamanya dari amatan saya. Nah, karena telah merekam suara burung kenari dan pleci yang dimiliki toko bernama Depot Air Minum Feby Water, saya rasa saya bisa mengerti kenapa para pecinta burung di dalam sangkar sering kali berujar: suara burung-burung itu merdu. Untuk menilainya merdu (indah) atau tidak, saya belum punya kemampuan itu, tapi saya menyadari ada semacam tempo dan irama yang bisa kita ikuti pelan-pelan ketika mengamati burung-burung tersebut.

Setelah merekam bunyi-bunyi burung itu, saya bergerak ke Jalan Swadaya (dari Jalan Saidi), berbelok ke arah kanan dan berjalan terus hingga hampir tiba di Jalan Nangka. Di sekitaran situ, di dekat poskamling atau di depan komplek yang memiliki ATM Bank BNI, biasanya ada tukang penjual gorengan gerobak, namanya gorengan Darma Ayu. Anggota Forum Lenteng pernah beberapa kali membeli gorengan itu. Terlintas di pikiran saya untuk merekam bunyi kompor yang digunakan si pedagang untuk menggoreng tahu, pisang, tempe, cireng, singkong, dan bakwan itu.

Awalnya saya kebingungan, bagaimana kiranya hanya dengan merekam soundscape, para pendengar file rekaman saya bisa mengetahui nama objek atau ruang yang saya rekam. Sebenarnya mudah saja, tinggal sebut gerobak pedagang gorengan atau dengan mengajak ngobrol si ibu/bapak pedagang. Tapi, ternyata, dengan berpegang teguh pada “keajaiban peristiwa massa”, informasi semacam itu muncul dengan sendirinya lewat bunyi-bunyi yang tercipta dari percakapan natural antara para pembeli dan si pedagang. Bahkan, nama-nama setiap gorengan pun tersebutkan oleh mulut-mulut mereka lengkap dengan harganya. Jadilah saya hanya diam merekam sambil mengunyah lima tahu yang satunya berharga seribu rupiah.

Rekaman ketiga yang membuat saya tertarik sore ini adalah bunyi gemericik air yang mengalir di selokan kotor di area Jalan Saidi, yang lokasinya deka dengan pintu tol di Jalan Simatupang. Seperti yang saya bilang tadi, sebelum mengerjakan proyek Bunyi ini, kehadiran got itu luput dari perhatian saya meskipun setiap hari saya melintasi di sampingnya, entah itu berjalan kaki ataupun menaiki kendaraan bermotor. Dengan merekamnya menggunakan alat perekam digital yang sudah akrab di tangan saya, saya pun menyadari betapa bunyi gorong-gorong selokan itu memiliki “keindahan” tertentu, yang dengan mengenalinya kita akan bisa menerka bagaimana visual dari saluran air tersebut. Saya pun berasumsi, jangan-jangan, studi bunyi semacam ini mempunyai manfaat dalam pengembangan penelitian sipil, arsitektur, dan lain-lainnya yang berkaitan; isu lingkungan juga, mungkin? Menelaah lingkungan dari tekstur bunyi? Itu mungkin saja.

Kemarin, saya dan Theo menyimak karya bebunyian dari seorang sound artist Indonesia yang kini tinggal di Bandung. Ia membuat komposisi bunyi dari materi rekaman suara air laut (ombak di pantai). Tapi, sayangnya, yang membuat saya tak suka dengan karyanya itu adalah kegenitannya untuk mendistorsi irama bunyi air atau (mungkin) menambah-nambah efek tertentu sehingga komposisi yang dihasilkan menjadi “dimusik-musikkan”. Padahal, seperti yang saya alami tadi sore, bunyi yang alamiah memiliki keindahannya sendiri. Selokan yang secara visual tampak kumuh itu seakan mampu menegur ketidakpedulian saya dengan bunyinya yang “mempesona”.

Kegiatan merekam hari ini membuat saya semakin asyik khusyuk dengan kegiatan merekam bebunyian di sekitaran. Bahkan kini, buat saya, suara bising dari kendaraan bermotor bukanlah gangguan, tetapi materi yang menyimpan banyak kejutan. Saya pun bisa menikmati kegiatan merekam suara air leding yang jatuh di sebelah kosan saya dengan menimbang-nimbang tempo ketika kendaraan bermotor datang dan pergi ke/dari lokasi di mana saya merekam dengan posisi diam. Suara bocah-bocah yang datang penasaran, juga bukan gangguan. Tapi saya malah menunggu-nunggu mereka menghampiri, karena suara mereka juga akan memperkaya rekaman soundscape yang saya buat.

Kegiatan ini, ternyata, memang menarik!

 

Jakarta, 16 April 2019, pukul 17:58 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: