melawan kebisingan dengan menyertakan kesunyian

Pada kegiatan merekam bunyi untuk arsip Bunyi hari ini, saya dengan sengaja menyelidiki perbedaan antara suasana yang bising atau berisik dan suasana yang sepi atau tenang. Saya tahu, dalam keadaan apa pun (kecuali mungkin kalau dalam ruang yang vakum), bunyi pasti selalu ada. Akan tetapi, perbedaan yang kontras antara kebisingan dan ketenangan acap kali memunculkan suatu “keadaan lega”. Dalam proses perekaman yang saya lakukan hari ini, “momen lega” itu tak jarang menciptakan sebuah aura yang sangat berpengaruh pada berbagai sensori yang ada pada tubuh—saya mungkin akan mulai sering menggunakan kata “sensori” pada catatan-catatan berikutnya untuk mencoba menarik praktik Bunyi ke mata pelajaran yang saya dapat di Forum Lenteng—tentunya untuk catatan saya pribadi.

Pertama, saya merekam soundscape di sebuah tikungan Jalan Saidi, yang mana tikungan itu berada di dekat Jalan Simatupang. Saya baru tahu, ternyata, pada malam hari, suara serangga di sekitaran tikungan itu lumayan kencang. Kedua, saya berjalan ke area di dekat flyover pada persimpangan Jalan Simatupang, Jalan Lenteng Agung, dan Jalan Pasar Minggu, untuk merekam kebisingan kendaraan bermotor di “jam-jam ngebut”—sekitar sejam atau dua jam setelah “jam-jam macet”. Saya sengaja merekam soundscape di bawah flyover tersebut karena beton-beton yang menaungi langit-langit, tentunya, memengaruhi bentuk akustik dari ruang bising tersebut. Selain itu, flyover itu juga berada di atas jalur kereta. Adalah momen yang saya tunggu-tunggu setiap kali kereta melintas karena suara bisingnya memiliki durasi yang lebih lama dibandingkan kendaraan bermotor jenis apa pun yang melintas laju di dekat alat perekam digital saya. Bunyi getaran kereta yang melintas itu pun berbeda daripada yang lain.

Ketiga, saya menekan tombol record sejak berada di Jalan Simatupang yang sangat berisik itu, lalu berjalan perlahan menuju Jalan Saidi, menuju titik lokasi tempat saya merekam pertama kali—lokasi yang ada suara serangga-serangganya. Suatu kontras bunyi teralami oleh telinga saya, dan tentu saja terekam oleh alat perekam digital yang saya gunakan. Tak puas hanya sampai di situ, saya melanjutkan jalan kaki. Bukan menelusuri Jalan Saidi yang mengarah ke Jalan Swadaya, tapi saya berbelok ke kiri, menuju komplek kuburan di daerah itu. Saya berniat ingin menemukan suara serangga yang lain. Suasana di jalan yang menuju komplek kuburan itu sepi, hanya sesekali motor dan mobil melintas. Saya baru mematikan alat perekam digital saya ketika pesawat melintas di atas kuburan itu.

Suasana TPS pada malam hari di Jalan Saidi, Tanjung Barat, Jagakarsa, tanggal 17 April 2019.

Dalam perjalanan pulang, saya mampir ke tempat pemungutan suara (TPS) yang ada di Jalan Saidi, tepatnya di lapangan futsal yang lokasinya tak jauh dari lokasi markas Forum Lenteng, lebih dekat ke rumahnya Mahfud MD. Di TPS itu, suasananya tidak bising, tapi penuh dengan suara mulut orang-orang. Kegiatan menghitung dan mengonfirmasi hasil hitungan suara cobolsan ternyata belum selesai. Peristiwa semacam itu—keramaian di lapangan futsal pada malam hari—adalah peristiwa yang jarang terjadi.

Keempat, saya merekam soundscape dari balik tempat jemuran di lantai dua markas Forum Lenteng. Dari situ, kita bisa melihat pemandangan rumah kos-kosan yang ada di belakang markas Forum Lenteng. Suasana di tempat jemuran itu benar-benar sepi, tetapi kita masih bisa mendengar suara anak-anak yang berlari-larian sambil teriak-teriak, suara motor yang melintas sesekali, dan suara orang-orang yang berbincang di balik tembok-tembok rumah.

Di depan markas Forum Lenteng, biasanya berisik pada jam-jam siang hingga maghrib, tidak begitu jika malam hari. Frekuensi kendaraan bermotor yang melintas tidak setinggi saat matahari masih bersinar. Makanya, saya juga merekam soundscape di depan markas Forum Lenteng. Saya duduk di pinggir jalan, merekam dengan posisi diam. Pada kegiatan merekam yang keempat ini, kontras antara yang bising dan yang sunyi berkali-kali dapat saya rasakan melalui telinga.

Saya pun sekarang jadi bertanya-tanya, apakah realitas yang saya coba share pada paragraf-paragraf di atas, dirangkul oleh para sound artist Indonesia dalam mengonstruksi karya-karya bebunyian mereka? Saya juga menjadi bertanya, mengapa ada kelompok yang bernama “Melawan Kebisingan Kota”? Menandingi bising jalanan dengan suara-suara yang mereka buat dengan berbagai alat…? Mengapa mereka justru tidak berpikir untuk “menangkap kebisingan kota”…?

 

Jakarta, 17 April 2019, pukul 21:13 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: