jadi kepikiran soal gamblang

Dari manakah kemetaforaan bisa dibangun? Seorang guru berkata, dari kegamblangan. Lewat yang gamblang, kita akan lebih mudah memahami apa yang menjadi dasar, dan melatih kejujuran. Latihan untuk jujur lewat ungkapan-ungkapan gamblang, menurutnya, adalah cara yang bisa mendorong kita mengakses pengertian-pengertian dan fungsi-fungsi istilah. Uraian gamblang bukan berarti merupakan konstruksi yang berkualitas rendah, berindah-indah kata bukan pula seketika dewasa wacana.

Saya pribadi juga menyadari, kecenderungan untuk menggunakan kata-kata indah, puitis, filosofis, teoretis, rumit, memang sangat sulit dihindarkan. Ada semacam gejolak nafsu untuk tampil menjadi orang pintar hingga tanpa sadar terjebak pada gaya komunikasi yang menggurui pembaca. Saya adalah salah satu korban dari gejolak nafsu semacam itu, dan masih terus berusaha untuk belajar bagaimana menghindarinya sesering mungkin. Bahkan, detik ini, saya pun bertanya-tanya ke diri sendiri, apakah dua paragraf yang saya tulis ini cukup gamblang dan jujur, dan bukan tercipta oleh gejolak nafsu untuk sok menjadi pintar dan bijak? Apakah dua paragraf saya ini adalah ungkapan yang diindah-indahkan dan dipuitis-puitiskan?

Sebenarnya, topik ini terlintas begitu saja di kepala saya karena saya seakan merasa kehilangan ide untuk membingkai peristiwa hari ini. Apalagi, esai keempat tentang @masdalu belum juga saya selesaikan sehingga beban itu membuat otak saya mandek. Catatan-catatan di hari sebelumnya juga pendek-pendek saja. Sudah hampir empat bulan saya berusaha membuat “catatan harian” setiap hari, tapi saya belum menemukan sesuatu yang bisa dikatakan berarti terkait aktivitas “menulis setiap hari” ini. Mood adalah persoalan lainnya. Meskipun saya bertekad untuk menulis setiap hari, ternyata mood tidak selalu mendukung tekad itu. Dampaknya, hanya karena ingin memenuhi rules yang saya tetapkan sendiri—tidak boleh ada postingan yang bolong, tidak jarang saya malah menerbitkan catatan-catatan super singkat tak berarti apa-apa di kolom Diary.


Tadi siang, usai sholat Jum’at, saya dan Dhuha menghampiri rumah yang dikenal dengan nama “Kampung Inggris” oleh orang-orang di sekitar rumah saya. Si pemiliknya juga memperkenalkan identitas rumahnya seperti itu. Rumah tersebut memang tempat kursus bahasa asing, mulai dari Malaysia, Jerman, Inggris, hingga Arab (sebagaimana yang saya lihat tertera pada spanduk-spanduk di pagar rumah tersebut).

Adalah H. Musang, bernama asli H. Abdul Rozak, yang saya tahu merupakan kepala keluarga di rumah itu. Kemarin, katanya, H. Musang mengundang perwakilan kolektif kami untuk menghadiri hajatan yang akan ia selenggarakan, yaitu sore tadi. Saya dan Dhuha memenuhi undangan itu, mewakili organisasi kami. Awalnya, saya kira acara pengajian terkait syukuran akan sesuatu, tapi ternyata acara yang diselenggarakan oleh H. Musang adalah silaturahmi antara keluarganya dan calon besan. Anak perempuannya dilamar oleh seorang pemuda asal Surabaya. Katanya, nama ayah dari calon suami anaknya adalah Abu Sayyaf. Tentu, yang dimaksud bukanlah teroris Filipina. Saya rasa itu hanya kebetulan.

Dhuha berencana akan menulis sosok H. Musang karena menurut pandangan kami, karakternya unik. Kalau kata guru kami, H. Musang itu performatif. Kalau di mata saya, dia orang yang tampak aneh, tapi bukan dalam artian negatif. Beberapa gelagatnya terlihat begitu spesifik, terutama dalam hal menjalin komunikasi dengan orang-orang. Contohnya, dari salah seorang tamu yang ikut hadir ke acara lamaran anaknya tadi sore itu, saya mendengar cerita bahwa H. Musang sengaja datang pada dini hari, pukul tiga pagi, ke rumah temannya untuk mengabarkan hajatan yang ia rencanakan dan secara khusus mengundang temannya itu. Mengapa pukul tiga pagi? Tidak ada yang tahu alasannya.

Saya kira, saya cukup menyinggung H. Musang sepintas saja. Semoga Dhuha bisa menulis cerita yang lebih lengkap dengan bingkaian yang lebih menarik. Kita doakan juga, semoga Dhuha bisa menguraikan kisahnya dengan jujur, tidak terjebak pada hal-hal yang dikesan-indah-puitis-kan sebagaimana yang sering saya alami jika harus menulis esai-esai teoretis.


Satu minggu ini, saya tidak bertemu Ijul. Kegiatan di markas kami cukup padat, mulai dari diskusi, ditambah dengan utang-utang tulisan saya yang menumpuk (tulisan-tulisan yang saya janjikan ke beberapa teman dan ke diri saya sendiri), membuat saya hampir tak bisa beranjak jauh-jauh dari laptop. Kebiasaan ini cukup membuat beberapa orang gerah. Mereka selalu mengingatkan saya untuk “bergembiralah sedikit” dan “jangan mumet terus”. Nah, itu dia! Saya memang harus memotong kebiasaan ini, tapi saya belum menemukan kuncian yang pas untuk bagaimana caranya bisa banyak-banyak bergembira tapi niat untuk membuat tulisan sebanyak mungkin juga bisa terlaksana. Masalah utama saya memang persoalan bagaimana cara mengatur waktu. Bahkan, saya belum juga mempersiapkan diri untuk belajar intensif sebelum mengikuti tes IELTS.


Hari ini, saya juga lupa mengambil foto untuk kebutuhan catatan harian ini. Sebenarnya saya punya stok foto, tapi sudah saya gunakan untuk cover pada salah satu materi di Bunyi. Ya, sudahlah, saya gunakan foto itu saja. Foto itu adalah dokumentasi aksi kami merapikan batu-batu kerikil di rumah H. Musang. Saya yang mendorong Dhuha untuk mengambil cangkul dari tangan H. Musang dan menggantikan beliau untuk merapikan halaman parkir rumahnya itu. Soalnya, selain tak tega karena seharusnya beliau bersia-siap menunggu tamu calon besannya, saya juga ingin merekam bunyi-bunyi yang dihasilkan dari benturan antara mata cangkul dan kerikir-kerikil itu.

Maka, jadilah foto Dhuha tertangkap oleh kamera saya, seperti di bawah ini:

dan di bawah ini:

Ya, udah! Segitu dulu catatannya. Setidaknya catatan hari ini tidak pendek.

 

Jakarta, 26 April 2019, 22:26 WIB.

2 Responses to “jadi kepikiran soal gamblang”

  1. satanicnebula

    “saya belum menemukan kuncian yang pas untuk bagaimana caranya bisa banyak-banyak bergembira tapi niat untuk membuat tulisan sebanyak mungkin juga bisa terlaksana.”

    Setuju, sepertinya gue terlalu banyak bergembira dan kurang menulis 😔

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply to Manshur Zikri Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: