ngobrol soal feminis

Tadi pagi, kelas seni performans kami berurusan dengan warna. Semalam, Hafiz, fasilitator kami, sudah memberitahukan bahwa “warna” menjadi topik latihan olah tubuh kami sehingga ia menyarankan semua partisipan mempersiapkan benda-benda berwarna. Benda apa saja.

Dalam konteks latihan performans itu, “warna” dibingkai menjadi suatu pernyataan tentang “bentuk” (form), “gerak” (movement)”, “aksi” (happening), dan komposisi serta konstruksi.

Tampilan objek-objek yang saya komposisikan lewat seni performans. (Foto: Pingkan Polla).

Ketika saya mendapat gilirian untuk mencoba berbagi ide terkait performans saya, saya berusaha juga menghadirkan persoalan “tempo” dengan merujuk pada yang pernah dipraktikkan oleh John Cage dalam karyanya yang berjudul Water Walk. Di antara para partisipan yang hadir, saya kira cuma Dhuha yang menyadari itu. Hampir 80% penafsiran dan analisanya, ketika ia diminta berkomentar, sesuai dengan konstruksi yang saya coba hadirkan.

Kegiatan latihan seni performans di kelas “69 Performance Club”, Forum Lenteng, tanggal 27 April 2019. (Foto: Hafiz).

Saya melakukan seni performans saat kegiatan latihan seni performans di kelas “69 Performance Club”, Forum Lenteng, tanggal 27 April 2019. (Foto: Hafiz).

Penampakan karya seni performans saya ketika saya melakukannya di kegiatan latihan seni performans di kelas “69 Performance Club”, Forum Lenteng, tanggal 27 April 2019. (Foto: Hafiz).

Usai latihan seni performans, pukul dua belas siang, saya lanjut membaca kumpulan cerpen Romo Mangun yang berjudul Rumah Bambu. Saya pikir, beberapa cerpennya mengindikasikan bahwa Romo berpaham feminis. Setelah mebaca dua cerpen, saya pun tidur siang hingga pukul tiga. Saya terbangun karena dering handphone berbunyi—Ijul menelpon saya. Kami berjanji akan pergi kencan pada sore hari ke TIM. Saya menyarankan TIM karena ada satu buku yang ingin saya beli, yaitu buku berjudul Moving Image Theory yang dituis oleh Matius Ali. Beberapa teori film yang diulas dalam buku itu sudah saya ketahui, tapi saya ingin mengoleksi buku itu ke dalam arsip pribadi saya.

Suasana tongkrongan malam hari di bata merah, Taman Ismail Marzuki.

Usai membeli buku, saya dan Ijul duduk di batmer (‘bata merah’—nama bagi tempat nongkrong di TIM) menikmati makan malam. Kami berbincang tentang feminism, terpicu oleh peristiwa hari ini: orang-orang melakukan Women’s March tadi pagi. Ijul dan Dini tidak hadir di kelas seni performans yang diadakan di organisasi kami karena mereka berpartisipasi dalam peristiwa itu.

Saya bertanya-tanga di dalam hati, dan juga sempat bertanya kepada Ijul, apakah teman-teman segenerasi saya membaca tulisan-tulisan Kartini dan tulisan-tulisan tentang Kartini dengan baik…? Karena, buat saya, literatur Kartini adalah yang terpenting di antara yang terpenting; dan itu ditulis oleh anak bangsa kita.

 

Jakarta, 27 April 2019, pukul 22:59 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: