tiga seniman performans mampir ke markas kami

Kelas seni performans hari ini spesial. Kami kehadiran tamu undangan, tiga orang seniman performans dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Mereka adalah Ridwan “Rau Rau” (Jakarta), Arsita Iswardhani (Yogyakarta), dan Aliansyah Caniago (Bandung). Mereka bertiga diminta oleh tim 69 Performance Club untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka sebagai seniman performans kepada para partisipan yang ikut kelas seni performans di Forum Lenteng.

Ridwan Rau Rau (kanan) ketika memaparkan praktik keseniannya ke hadapan partisipan kelas seni performans yang tergabung dalam 69 Performance Club, Forum Lenteng, tanggal 29 April 2019. (Foto: Pingkan Polla).

Rau Rau lebih banyak berbicara tentang praktik-praktiknya mengenai intuisi sebagai pendekatan dalam mengolah bentuk dalam performans, dengan beranjak dari persoalan estetika, sedangkan Arsita berbicara tentang pentingnya riset sebagai metode untuk membingkai pendekatan personal mengenai memori dan sejarah. Sementara itu, Aliansyah berbicara tentang seni performans lewat pendekatan berbasis proyek yang berkelanjutan dan dilakukan dalam durasi yang cukup lama, dan bagaimana praktik itu memberikan dampak aktivisme dalam konteks sosialnya.

Arsita Iswardhani (baju merah marun) ketika memaparkan praktik keseniannya ke hadapan partisipan kelas seni performans yang tergabung dalam 69 Performance Club, Forum Lenteng, tanggal 29 April 2019. (Foto: Pingkan Polla).

Bertemu dengan ketiga seniman ini membawa perspektif baru bagi saya sendiri untuk melihat sudut kecil dari peta besar seni performans di Indonesia yang masih kekurangan kajian dalam bentuk tekstual itu. Karya Arsita di Singkawang cukup menarik perhatian saya, terutama tentang idenya mengukur jalan menggunakan langkah kaki yang rapat, dalam rangka usahanya berspekulasi mengenai jarak, entah itu jarak fisik maupun jarak sebagai konsep. Sementara, karya Rau Rau yang berjudul Vertikal Horizontal juga menarik karena, dalam hal mengolah tubuh dan objek, ia tidak lagi berkutat pada persoalan bagaimana tubuh mencari kemungkinan-kemungkinan bentuk dan hubungan dengan benda, tetapi ia masuk ke tataran konsepsi publik atas benda itu. Mengambil benda berupa pistol/senapan, ia kemudian membangun ketegangan lewat seni performansnya dengan bermain-main dengan pistol/senapan tersebut.

Aliansyah Cnaiago (tengah, berbaju abu-abu, di depan laptop) ketika memaparkan praktik keseniannya ke hadapan partisipan kelas seni performans yang tergabung dalam 69 Performance Club, Forum Lenteng, tanggal 29 April 2019. (Foto: Pingkan Polla).

Proyek-proyek yang dilakukan oleh Aliansyah, hampir semuanya, menarik perhatian. Karena ia selalu berbasis proyek (project art base), spekulasi yang dilakukan oleh Aliansyah tampak demikian konstruktif dan dapat diukur, baik dari estetika seninya maupun estetika sosialnya. Terutama proyeknya mengenai di Situ Ciburuy atau sejarah kota Barus. Ada lapisan lainnya dalam persoalan seni performans atau seni-seni berbasis proyek, yaitu persoalan negosiasi. Di dalam konteks itu, kepiawaian seorang seniman dalam menyiasati komunikasi berbagai elemen dan menghadapi kendala-kendala institusional, merupakan persoalan lainnya yang akan memengaruhi “estetika sosial” dari sebuah karya seni.

Suasana kelas seni performans di Forum Lenteng tanggal 29 April 2019. (Foto: Pingkan Polla).

Sekarang, sudah pukul enam lebih lima puluh empat menit. Pukul tujuh malam, akan diadakan penayangan film berjudul El Topo (1970) karya Alejandro Jodorowsky, dalam rangka program Senin Sinema Dunia. Rau Rau sudah pulang. Arsita dan Aliansyah masih ada di Forum Lenteng. Detik ini, Dhuha juga sedang berhadapan dengan empat orang mahasiswi dari Universitas Tarumanegara yang sengaja datang untuk mewawancarai dan meliput kegiatan-kegiatan di Forum Lenteng.

Esai keempat tentang @masdalu sudah setengah jalan. Saya rasa, jika malam ini saya masih bisa bersemangat melanjutkan esai itu usai penayangan film El Topo, seharusnya esai itu bisa selesai. Atau mungkin, besok pagi? Seperti tadi pagi, saya bangun pukul setengah tujuh dan merasa sangat produktif mengerjakan esai itu pada pagi hari.

Sekarang, saya harus bersiap-siap untuk ikut serta kegiatan menonton film SSD. Kata Hafiz, film El Topo adalah salah satu film penting yang harus ditonton untuk memahami apa itu performativitas. Referensi yang sangat berarti bagi orang-orang yang ingin mendalami bidang seni performans.

 

Jakarta, 29 April 2019, pukul 18:57 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: