membaca benjamin dan mengurus perut yang kembung

Perkembangan esai keempat tentang @masdalu hanya bertambah dua paragraf. Saya menunda lagi pengerjaan esai itu karena perlu meyakinkan diri soal sebuah pemikiran, dan karenanya saya membaca lagi sampai habis esai Walter Benjamin tentang reproduksi mekanis yang sangat terkenal itu. Saya takjub, logika yang diutarakan di dalam esai itu benar-benar masih relevan hingga sekarang.

Kiri ke kanan: Dhuha, Maria, Otty, dan Fuad.

Kegiatan tadi pagi juga cukup baik. Dhuha dan Maria bangun pagi—tadi pagi saya malah dibangunkan oleh Dhuha. Bersama Otty dan Fuad, Dhuha dan Maria duduk rapat membiarakan perkembangan program AKUMASSA. Tahun ini, kami berniat akan menghidupkan lagi sirkulasi artikel di website AKUMASSA, dan akan kembali meng-highlight produktivitas Sibawaihi dan Fuad sebagai penulis untuk rubrik Bernas. Kegiatan rapat AKUMASSA itu disambung dengan kegiatan rapat mingguan Forum Lenteng. Masing-masing orang memberikan update terkait program yang mereka kerjakan masing-masing. Rapat berlangsung hingga sekitar pukul dua belas.

Saya lanjut membaca esai Walter Benjamin usai makan siang. Saya senang, bukan karena berhasil membaca esai itu sampai selesai, tapi bisa membacanya hingga benar-benar tuntas dan—merasa lebih yakin—juga mengerti esensi dari reproduksi mekanis itu, serta mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan argumentasi mengenai “performativitas”.

Namun, pukul empat sore, saya mengantuk dan tak mau memaksakan diri untuk melanjutkan esai. Badan saya juga sedang tidak fit. Saya pun tidur. Baru lima belas menit yang lalu saya dibangunkan oleh hawa ruang yang begitu gerah dan batuk-batuk memuakkan. Setelah meminum obat lambung—yang harus diminum sebelum makan—saya segera membuat catatan ini. Saya masih belum kepikiran akan makan apa malam ini. Sejak semalam, saya juga sudah menyadari bahwa rasanya penyakit yang kali ini membuat saya jengkel bukan semata radang, tetapi perut yang kembung. Itulah yang menyebabkan saya terbatuk-batuk sekarang ini—batuk berdahak. Saya sendiri bingung, kenapa dokter tidak memberikan obat lambung yang lebih ampuh, karena obat lambung yang sudah saya minum dua hari belakangan ini tidak membuat perut saya terasa lega.

Setengah jam lagi sebelum pukul tujuh malam, waktu buat saya dan beberapa kawan di markas untuk duduk bersama berdiskusi tentang The Godfather dalam rangka kegiatan “Roman Picisan”.

Sudah tiga hari saya tidak merekam bunyi terlalu banyak. Untung saja, dalam rules yang saya buat untuk proyek Bunyi ini, saya tidak mesti mengunggahnya setiap hari. Pengunggahan arsip Bunyi bisa kapan saja, tetapi kegiatan merekamnya harus setiap hari. Rekaman yang kemarin dan hari ini belum saya unggah. Seharusnya, saya mengunggahnya setelah mengunggah catatan ini, tapi saya tak tahu apakah masih ada cukup waktu untuk mengurus arsip bunyi itu sebelum kegiatan “Roman Picisan” dimulai.

Sibawaihi (paling kiri), Ama (baju hitam), dan Anggra (di depan laptop).

Malam ini, Forum Lenteng kedatangan Sibawaihi dan Ijtihad, dua teman-saudara-keluarga kami dari Lombok Utara. Sejak dua hari lalu, Forum Lenteng juga kedatangan teman-saudara-keluarga dari Palu, yaitu Ama si orang terdepan di Forum Sudutpandang. Saya rencananya ingin berbincang-binang dengan mereka, sebelum kelas “Roman Picisan”. Tapi, aduh! Perut saya benar-benar kembung! Sialan!

 

Jakarta, 30 April 2019, pukul 18:40 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: