esai tertunda di hari buruh

Saya sudah menulis hingga dua ribu kata, tapi masih merasa bahwa esai keempat tentang @masdalu belum selesai. Bahkan, saya juga merasa bahwa dua ribu kata itu hanyalah kutipan-kutipan teori saja, seperempat bagian terakhir malah terkesan sangat retoris dan seperti pidato, sedangkan kasus @masdalu-nya belum tersentuh sama sekali. Dan di kata ke dua ribu sembilan, saya masih juga merasa bahwa saya harus mencari pisau teoretik tambahan, yaitu tentang “filsafat sehari-hari”, agar bisa menguraikan argumentasi mengenai potensi “politik sehari-hari” yang saya yakin ada pada @masdalu.

Saya sempat bertanya kepada Dhuha: bagaimana—jika misalnya saya menyebut “media sosial sebagai medium seni”— semestinya media sosial bekerja dan diperlakukan? Belum berhasil menyumbangkan pemikiran yang bisa menginspirasi saya, dia tampaknya malah penasaran dengan kalimat Ronny Agustinus di esai yang berjudul “Video: Not All Correct…” itu: “Pada 1990-an, komputer memang baru dipergunakan sebagai alat dan belum sebagai medium. Orang menggunakannya sebagai perpanjangan kuas, cat, dan alat-alat lukis lainnya, lalu mencetak hasilnya di selembar kertas, lalu kertas itulah yang nantinya dipamerkan (baca: dianggap karya seni). Orang masih berkata ‘ukuran karya komputer saya 15 x 20 sentimeter’, dan belum ‘ukuran karya komputer saya 1024 x 768 pixel.’”

Saya juga belum bersedia untuk menyebut karya yang memanfaatkan data-data yang diraup dari internet sebagai sumber penggerak algoritma untuk menghidup-matikan lampu yang kemudian diinstal di dalam ruang pameran. Mungkin, karya semacam itu memang berkaitan dengan fenomena media sosial, tetapi saya kira karya itu belum sepenuhnya menjadikan “media sosial” medium yang utuh. Para komikus kondang dan street artist terkenal seantero skena kontemporer Indonesia pun, sebagaimana yang terlihat, menjadikan media sosial masih sebagai ruang pamer. Modus itu, saya kira, berbeda sama sekali dengan modus yang diterapkan seorang kawan di UI dulu—ia secara sadar bahwa medium yang ia gunakan adalah Twitter, dan “mental Twitter” itulah yang menjadi penekanannya.

Huft! Selamat Hari Buruh!

 

Jakarta, 1 May 2019, pukul 23:35 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: