tentang bunyi hari ini

Tema untuk kelas seni performans tadi pagi di Forum Lenteng—saya senang sekali—adalah bunyi. Hafiz, fasilitator 69 Performance Club, meminta para partisipan mengumpulkan benda-benda yang dianggap dapat menghasilkan bunyi. Meskipun temanya bunyi, materi kelas tersebut tetap menekankan eksplorasi tubuh, relasinya dengan performativitas ruang, dan bukan sekadar membunyi-bunyikan benda. Sebab, yang kami pelajari bukan “pertunjukan bebunyian”, tetapi seni performans dengan menjadikan bunyi sebagai elemen bahasa (selain tubuh, tentu saja).

Kegiatan kelas seni performans di kelas 69 Performance Club, Forum Lenteng, tanggal 4 Mei 2019. (Foto: Hafiz)

Benda-benda yang dikumpulkan itu, antara lain: tong sampah yang terbuat dari sejenis besi, kuali yang terbuat dari alumunium, baskom, galon, bungkusan plastik, kotak perkakas (berisi paku, mur, dan baut-baut), belasan sendok dan garpu, wajan, payung, dan radio.

Di antara semua penampilan, sebenarnya saya tertarik dengan performans Dhuha. Mengapa? Karena, sebelum ia tampil, saya sebenarnya sudah memikirkan ide performans yang hampir sama dengan yang ia lakukan, tapi saya kalah cepat.

Saya, waktu itu, punya pikiran untuk memilih empat objek, yaitu baskom, kuali, tong sampah, dan paku-paku atau mur atau baut dari kotak perkakas. Ketiga benda yang berfungsi sebagai wadah itu rencananya akan saya letakkan di salah satu sisi ruangan (di posisi yang dekat ke dinding) sementara saya (menggenggam setumpuk besi-besi kecil itu) berdiri di sisi seberangnya. Dari posisi itu, saya akan melempar satu per satu benda-benda kecil ke dalam tiga wadah. Niatan itu untuk menghadirkan tiga tekstur bunyi yang berbeda. Jika lemparan dilakukan dengan intens, dari jumlah paku/mur/baut yang sedikit hingga memuncak menjadi banyak, konstruksi seperti itu mungkin akan menimbulkan kejadian yang puitis.

Seperti yang saya bilang tadi, ide itu tidak jadi saya tampilkan karena Dhuha, yang tampil di urutan kedua, melakukan performans yang idenya hampir serupa. Bedanya: Dhuha memilih empat objek, yaitu kuali, baskom, plastik, dan kotak perkakas beserta isinya (paku/mur/baut). Kuali digantung di dinding, baskom diletakkan dengan posisi terbalik di atas lantai. Di sisi seberang ruangan, Dhuha (mengenakan plastik sebagai pakaian) membuka kotak perkakas dan mengambil benda-benda kecil di dalamnya lalu melemparkannya satu per satu ke arah kuali yang digantung di dinding. Kadang lemparan itu mengenai sasaran, kadang tidak. Benda kecil yang jatuh ke lantai menghasilkan bunyi, yang tidak mengenai kuali (dan malah menumbuk dinding) juga menghasilkan bunyi. Kadang, paku/mur/baut itu memantul ke atas baskom yang tertelungkup, menghasilkan bunyi dengan tekstur yang berat atau dalam (seperti bass). Sementara itu, gerakannya ketika melempar juga menghasilkan bunyi karena plastik yang ia kenakan sebagai pakaian berkeresek-keresek.

Dhuha ketika menampilkan karya seni performansnya di kelas 69 Performance Club, Forum Lenteng, tanggal 4 Mei 2019. Tema kelas ialah “Tubuh, Bunyi, dan Performativitas Ruang”. (Foto: Hafiz)

Sampai di situ, seni performans Dhuha sangat menarik. Saya takjub dia mempunyai ide demikian, dan menepuk-nepuk jidat di dalam pikiran karena saya kalah cepat. Namun, sayang sekali, Dhuha tidak menjaga intensitas lemparan. Alih-alih terus melempar hingga ke momen dramatik, Dhuha justru mengalihkan perhatian audiens ke kotak perkakas yang ia buka tutup, banting, dan kemudian ia jinjing saat berjalan dengan arah diagonal, membelah “ruang representasi” (area tempat ia melakukan performans itu). Potensi puitik dari performans tersebut hilang seketika. Kelemahan ini, seperti yang saya duga lebih dulu, juga terbaca di mata para partisipan lainnya. Hampir semua dari komentar yang keluar—ketika menanggapi performans tersebut setelah Dhuha mengakhirinya—adalah: ketegangan dari performans Dhuha terasa menurun menjelang akhir penampilannya.

Theo ketika menampilkan karya seni performansnya di kelas 69 Performance Club, Forum Lenteng, tanggal 4 Mei 2019. Tema kelas ialah “Tubuh, Bunyi, dan Performativitas Ruang”. (Foto: Hafiz)

Ufik ketika menampilkan karya seni performansnya di kelas 69 Performance Club, Forum Lenteng, tanggal 4 Mei 2019. Tema kelas ialah “Tubuh, Bunyi, dan Performativitas Ruang”. (Foto: Hafiz)

Dalam seni performans, menghindari “keterpelesetan” dan kegagapan dalam menyelesaikan penampilan (agar performans yang dilakukan dapat dirasakan oleh audiens sebagai bungkusan yang apik) merupakan tantangan paling berat. Menurut saya, berdasarkan apa yang saya tangkap dari materi yang satu setengah bulan ini coba diberikan Hafiz dalam pertemuan kelas-kelas seni performans kami, kepiawaian untuk menghindari keterpelesetan itu dapat dicapai bukan hanya lewat pemahaman atas konsep seni performans, tetapi juga melalui olah tubuh. Bukan “olah tubuh” dalam pengertian disiplin tari atau teater, tetapi “mengolah tubuh sebagai statement”. Itu bisa dilakukan dengan mengakrabkan diri kita dengan tubuh kita sendiri, tubuh dengan ruang/lingkungan di sekitarnya, tubuh dengan visual-visual lainnya di luar tubuh itu (terutama yang melekat di badan), atau dengan benda-benda apa pun yang akan digunakan dalam performans; bahkan, dengan persepsi audiens.

Maria ketika menampilkan karya seni performansnya di kelas 69 Performance Club, Forum Lenteng, tanggal 4 Mei 2019. Tema kelas ialah “Tubuh, Bunyi, dan Performativitas Ruang”. (Foto: Hafiz)

Robby ketika menampilkan karya seni performansnya di kelas 69 Performance Club, Forum Lenteng, tanggal 4 Mei 2019. Tema kelas ialah “Tubuh, Bunyi, dan Performativitas Ruang”. (Foto: Hafiz)

Pandji ketika menampilkan karya seni performansnya di kelas 69 Performance Club, Forum Lenteng, tanggal 4 Mei 2019. Tema kelas ialah “Tubuh, Bunyi, dan Performativitas Ruang”. (Foto: Hafiz)

Karena ide saya yang pertama sudah terlanjur direalisasikan oleh Dhuha, saya pun memaksa diri untuk mencari konstruksi yang lain. Tapi, saya ingin bermain-main dengan persepsi penonton mengenai bunyi. Saya tak mau aksi membanting benda ke atas lantai—seperti yang saya lakukan minggu lalu dalam pertemuan kelas seni performans yang mengangkat tema “warna”—menjadi hal yang stereotipikal. Lagipula, secara visual, aksi membanting itu rada-rada ketinggalan zaman (paling tidak dalam kurun waktu satu minggu terakhir dalam konteks praktik seni performans yang saya lakukan). Saya ingin sebuah kejadian yang berbeda. Maka, bukannya membanting, saya malah memilih untuk melambungkan benda ke udara. Hitung-hitung, “ruang udara” di atas kepala kami itu jarang tersentuh oleh “aksi seni”.

Saya mencoba bermain-main dengan kuali dan sendok-garpu untuk mengeksplorasi bunyi dalam konteks seni performans, tanggal 4 Mei 2019, di kelas 69 Performance Club.

Saya memilih dua objek, yaitu kuali dan sendok-garpu. Pertama-tama, saya meletakkan sendok-garpu di atas lantai, di depan posisi kaki saya. Sambil berdiri, saya memegang kuali dengan posisi seperti seseorang yang menggendong lipatan bendera. Lalu kuali itu saya jatuhkan, tapi dengan cepat saya tangkap sebelum ia menyentuh lantai atau sendonk-garpu yang ada di bawahnya. Gerakan yang hampir sama saya ulangi. Bedanya, di aksi yang kedua, kuali itu saya lambungkan sedikt sebelum saya tangkap dengan posisi jongkok. Ketiga, lambungannya agak lebih tinggi. Keempat, lambungan tinggi. Kelima, sambil melompat saya lambungkan kuali itu untuk saya tangkap dengan posisi jongkok. Itu semua adalah premis pertama.

Foto: Hafiz.

Premis kedua, saya mengambil satu sendok untuk diletakkan di dalam kuali. Lalu saya mengulangi gerakan dengan urutan yang sama sebagaimana premis satu. Seketika, bunyi yang muncul jelas sekali berbeda. Jika pada premis satu, orang-orang mendengar bunyi benturan antara kuali dan tangan saya, pada premis kedua orang-orang mendengar gesekan bunyi yang lain yang dihasilkan oleh sebuah sendok di dalam kuali tersebut. Selain itu, karena saya berintensi untuk menangkap kuali sekaligus juga menangkap sendok ke dalam kuali, terkadang usaha itu gagal sehingga kuali dan sendok itu benar-benar jatuh ke atas lantai, menghasilkan bunyi yang lain pula—menghentak. Jatuhnya kuali dan sendok bukan karena dibanting, tapi karena saya gagal menangkap. Memang begitulah seni performans yang saya maksudkan tadi pagi itu, seharusnya, bekerja.

Foto: Hafiz.

Premis ketiga, saya mengisi sekitar enam sendok-garpu ke dalam kuali, lantas melakukan gerakan melambungkan dan menangkap kuali dengan posisi jongkok, sebagaimana premis kedua. Tekstur bunyi yang dihasilkan lebih berisik; usaha untuk menangkap kuali beserta sendok-garpu itu juga membutuhkan daya tahan yang lebih tinggi daripada premis kedua. Nyatanya, hampir semua lambungan kuali gagal saya tangkap di premis ketiga tersebut.

Premis keempat, puncak dari seni performans saya tadi pagi: saya memasukkan semua sendok-garpu ke dalam kuali. Tapi, saya hanya melakukan satu gerakan, yaitu langsung melambungkan kesemua benda itu sembari melompat, dengan intensi untuk menangkap mereka kembali dalam posisi jongkok.

Tangkapan di premis keempat gagal.

Kegagalan tersebut bukan kecelakaan dalam konstruksi seni performans saya, melainkan hal yang sudah diprediksi sejak awal. “Tangkapan yang gagal” justru menjadi bahasa bunyi. Melalui konstruksi itulah saya berusaha membangun ketegangan melalui eksplorasi bunyi, tubuh, dan performativitas ruang.


Saya sudah sempat mencatat kesan saya pribadi terhadap bunyi, pada tanggal 16 April 2019. Kegiatan untuk berkutat dengan bebunyian memang menyenangkan. Bukan berarti visual tidak lebih menyenangkan, tapi bunyi memberikan pengalaman yang berbeda buat saya. Selain itu, jika direfleksikan dalam konteks visual, bunyi akan menjadi lebih imajinatif. Misalnya, ketika saya mendengarkan kembali arsip-arsip bunyi saya yang terkumpul dalam proyek Bunyi, yang sudah saya muat di https://bunyi.bandcamp.com/, saya bisa mengimajinasikan visual yang lain, yang lebih liar dan bebas, tanpa terikat oleh beban-beban pengalaman visual yang saya miliki ketika melakukan aksi merekam bunyi itu. Nah, aksi-aksi merekam bebunyian tersebut juga melatih kepekaan. Dan kepekaan ini, rupa-rupanya, berguna juga.

Atap studio di markas kami bocor.

Sekitar pukul setengah tujuh malam, hujan deras di Jalan H. Saidi. Petir bergeletar. Saya mengabadikan momen bebunyian itu; merekam hujan dan petir, merekam bunyi air yang jatuh ke lantai.

Hujan terjadi bukan hari ini saja. Sejak awal April, hujan sudah sering menghampiri hari-hari saya sehingga, bisa dibilang, saya akrab dengan tekstur bunyi hujan yang biasa saya dengar di Forum Lenteng. Nah, dua jam yang lalu, ada satu tekstur bunyi yang berbeda. Ada bunyi hentakan air di lokasi yang tidak seperti biasanya. Ternyata, atap di ruang studio gelap (black box) yang ada di markas kami bocor. Dan jika melihat tumpukan kertas lembab yang berada di bagian yang tidak terkena tempiasan air di waktu saya menemukan kebocoran ini, dapat diduga bahwa ada genangan air yang tumpah ke sisi meja di hari-hari sebelumnya. Artinya, sudah ada air di sana sebelum hari ini. Dari mana air itu berasal? Bisa jadi dari hujan-hujan di hari-hari sebelumnya. Dalam satu minggu terakhir ini, hujan tidak datang sekali. Tapi, tak ada yang menyadari bahwa ruangan itu sudah lama bocor. Baru malam ini kami menyadarinya.

Berantakan!

Aksi menemukan kebocoran atap itu sebenarnya biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Lambat laun, kebocoran atap itu pasti akan disadari juga, entah itu oleh saya atau oleh anggota lain yang ada di markas kami. Tapi, yang membuat saya excited adalah, saya menemukan kebocoran itu karena bunyi yang saya dengar, bukan karena alasan yang lain.


ponsel saya, setiap hari, menerima banyak notifikasi, tapi tak pernah berbunyi karena memang saya senyapkan. Notifikasi-notifikasi itu tak pernah muncul di layar jika ponsel saya dalam posisi terkunci, kecuali jika pesan atau telepon datang dari Ijul. (Meskipun begitu, saya sebenarnya jarang bersentuhan dengan ponsel, karenanya sering pula pesan dari Ijul terlewatkan).

Saya pun baru tahu hari ini kalau kondisi badan Ijul benar-benar menurun, ketika tak sengaja melihat wajahnya yang pucat, saat ia mengikuti kelas Milisifilem tadi sore. Ijul tidak mengabari saya soal kondisinya yang demikian ketika ia masih berada di kosannya. Ia beralasan, kondisi badannya menurun karena sedang mengalami menstruasi. Menolak diajak ke klinik dan kehilangan nafsu makan, akhirnya saya membelikannya pisang, roti, dan (sebagaimana request-nya) obat merek sangobion. Lekas sembuh, Ijul…

Suasana makan malam di Forum Lenteng, 4 Mei 2019. Orang-orang memesan burger. Ijul (berbaju pink) sedang berusaha menghabiskan pisang dan rotinya.

Ya, seminggu terakhir ini, beberapa orang di markas kami memang dalam kondisi yang tidak fit. Selain saya (yang menderita radang dan lambung kembung), ada Pingkan dan Theo. Keduanya saya dengar sudah mulai batuk-batuk. Batuk-batuk seakan menjadi bunyi baru, sedangkan keberisikan omongan mengalami cuti sementara waktu. Frekuensi kedatangan Go-food juga sedikit berkurang karena Pingkan lebih memilih untuk memasak di dapur markas kami. Selain itu, pagar besi di teras belakang juga lebih sering berdentang karena Pingkan sering keluar-masuk. Ia lebih sering istirahat di kamar kosannya (yang berada di belakang markas kami), bukan di rumahnya. Maria juga lebih sering menginap di kosan Pingkan sekarang.

Ya, begitulah! Jika semuanya sudah fit kembali, bunyi-bunyi pun pasti akan berubah lagi.

 

Jakarta, 4 Mei 2019, pukul 21:05 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: