malam tarawih pertama

Saat saya mulai menulis kalimat ini, muazin masjid yang ada di belakang markas kami—suaranya terdengar akrab di telinga saya—baru saja mengumandangkan seruan untuk melaksanakan sholat tarawih berjemaah. Nah, sekarang si imam membacakan surat At-Tin dengan cepat sekali. Dan ketika jemari saya menari di kalimat ini, posisi jamaah di masjid itu sudah dalam gerakan “berdiri kembali” dari sujud. Sekarang si imam sedang membaca surat Al-Fatihah untuk rakaat kedua—lalu seruan “Amiiin!”. Imam kemudian membaca surat Al-Ikhlas.

Saya menyulut rokok sebentar. Agak hening, karena jamaah di masjid itu sedang dalam posisi duduk tahiyat akhir. Sayup-sayup, suara imam dari masjid lain yang berada lebih jauh dari markas kami, juga terdengar. Saat saya menyalakan rokok saya yang padam—karena api pada sulutan pertama tidak begitu lengkap—imam di masjid tetangga markas kami sudah membaca surat Al-Fatihah lagi untuk rakaat kedua pada bagian kedua dari semua bagian total solat tarawih. Jamaah di masjid itu sepertinya membagi-bagi jumlah rakaat yang banyak itu menjadi dua-dua rakaat. Saya belum tahu, berapa rakaat biasanya orang-orang di masjid itu melaksanakan sholat tarawih, apakah delapan atau dua puluh. Kalau di masjid di dekat rumah di kota kelahiran saya, Pekanbaru, biasanya orang-orang melaksanakan sholat tarawih sebanyak delapan rakaat.

Muazin masjid sekarang sedang melantunkan doa—suara imam terdengar menyeru-nyerukan “amin”. Ini adalah doa jeda yang biasa dilantunkan di antara satu bagian (yang terdiri dari dua rakaat) dan bagian lainnya—mungkin sekali mereka sedang melaksanakan delapan rakaat sholat tarawih.

Pada seruan “amin” dari makmum ketika setiap kali imam selesai membacakan surat Al-Fatihah, saya juga mendengar suara anak-anak kecil—seperti yang juga sering kita dengar di masjid-masjid lain—yang selalu berteriak kencang-kencang.

Jemaah di masjid yang saya ceritakan ini sekarang sudah mencapai rakaat kedua untuk bagian ketiga.


Perhatian saya terlepas dari catatan ini selama lima belas menit—begitu juga dari bunyi aktivitas sholat tarawih di masjid tetangga—karena ibu saya menghubungi saya via telepon. Tradisi dari tahun ke tahun, sehari sebelum hari pertama puasa: kalau bukan saya yang menelepon terlebih dahulu, ya, ibulah yang menelepon. Menanyakan kabar dan menu lauk untuk sahur pertama, serta bertanya pula mengapa tidak sholat tarawih ke masjid. Saya bilang ke ibu, saya tidak ikut sholat tarawih ke masjid karena saya sedang berusaha menyelesaikan sebuah tulisan. Ibu lantas mengingatkan saya, “Jangan hanya baca buku saja; Al-qur’an juga harus dibaca!”

Sepanjang percakapan via telepon, saya batuk berkali-kali. Ibu khawatir—dia tahu benar kondisi fisik saya dan penyakit langganan anak-anaknya. Jadilah ia memberikan saran ini-itu, terutama mengharuskan saya untuk membuat air jahe yang dianggapnya berkhasiat menghalau batuk-batuk berdahak. Kami sempat pula membicarakan hasil perolehan suara partai-partai dan calon presiden dan wakil presiden dari masyarakat Pekanbaru, khususnya di RW 03 di kelurahan tempat orang tua saya sekarang berada. Percakapan kami mengarah ke topik itu karena saya menanyakan kabar saudara saya yang merupakan anak kedua dari lima orang bersaudara—saya adalah anak keempat. Kata ibu, abang saya itu baru saja pulang dari pekerjaannya sebagai relawan KPU.

Ketika percakapan via telepon kami berakhir, jamaah di masjid tetangga sudah masuk di sesi sholat tarawih bagian yang entah ke berapa. Saya pun jadi tidak bisa menyimak, berapa total rakaat sholat tarawih yang sedang mereka laksanakan. Dan ketika paragraf ini saya tulis, muazin sudah mengumandangkan seruan untuk melanjutkan sholat tarawih itu ke bagian yang urutannya sudah tak bisa saya lacak.

Maria sedang membaca buku.

Lalu, Maria datang (entah dari mana; mungkin dari rumah). Dhuha sekarang duduk di sebelah saya, menonton film dokumenter tentang Miles Davis (?). Di ruangan yang lain, saya mendengar suara bersin-bersin Ufik—sepertinya gejala penyakit di antara kami belum akan mereda. Ijul masih khusyuk—mungkin—dengan jurnal-jurnal ilmiah yang katanya harus ia baca (sejak tadi pagi…?).

Sekarang pukul tujuh malam lebih lima puluh enam menit. Maria sedang membaca buku katalog ARKIPEL tahun 2013. Sedangkan saya, tidak tahu mau menulis apa lagi.

 

Jakarta, 5 Mei 2019, pukul 19:57 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: