Notabene Generasi Performatif

Mari kita garis bawahi terlebih dahulu di sini: media sosial hadir sebagai “dunia performatif” mutakhir kita.

Rencana awalnya, saya membuat teks ini sebagai esai keempat yang akan dimuat di situs web http://masdalu.com/. Namun, saya pikir artikel ini terlalu panjang sebagai latar belakang pemikiran untuk sebuah esai, tapi saya enggan pula menghapusnya. Jadi, dimuatnya artikel ini di blog ini lebih sebagai usaha untuk mengenali kembali konstruksi ide yang hendak saya buat untuk mengulas @masdalu.

Di dalam pembahasan-pembahasan tentang seni media di Indonesia, misalnya yang membingkai perkembangan seni video, beberapa kali kita dapati pernyataan bahwa semuanya bermula dari fenomena MTV. Ronny Agustinus, salah satunya. Di dalam esai panjang berjudul “Video: Not All Correct…”, ia berargumen bahwa Seni Video Indonesia bukan bermula dari Teguh Ostentrik dan Krisna Murti, tetapi dari generasi yang akrab dengan MTV.

Menurutnya juga, Seni Video Indonesia berkembang tanpa beban-beban gigantis yang dibawa oleh Bapak Seni Video dunia, tetapi dengan kegembiraan dan kegairahan terhadap layar kaca anak muda, musik alternatif, dan oprek-oprek software bajakan; dalam situasi itu, generasi ini mengulik peluang dan potensi dari kanal tunggal dan tidak latah membuat karya-karya instalatif. Saya pikir, esai—yang di mata saya seminal—itu adalah salah satu tonggak sejarah pemikiran seni Indonesia yang terpenting. Terbit di tahun 2000-an, esai Ronny menguatkan “narasi teknologis” yang dibutuhkan untuk mengurai perkembangan wacana seni media (dan, tentunya, seni kontemporer) di Indonesia. Sebab, perlu kita sadari, “narasi-narasi teknologis” terbilang masih kurang berkembang dalam wacana seni kita saat ini.

Tentang Generasi

Jika seni video, yang bisa dibilang merupakan lompatan awal perkembangan dari seni media di Indonesia, tumbuh oleh kegairahan generasi MTV, lantas generasi apakah yang akan memberikan lompatan baru di era sekarang? Kita mungkin bisa menyebut “generasi YouTube”, “generasi Facebook”, “generasi Twitter”, dan “generasi Instagram” —sayang sekali “generasi Kaskus” sudah tidak relevan— (boleh juga menyebut “generasi TikTok” dan lain sebagainya). Di artikel bertahun 2009, “Apa Ada Generasi Ipod Kita?” (Surat, Vol. 35, hal. 10-13), Grace Samboh pernah mengulas “generasi Ipod” untuk mengurai kondisi generasi yang mengalami transisi akibat mewabahnya “media pemutar portabel dan komputer saku serbaguna” itu. Atau, secara lebih umum, bisa kita gunakan saja istilah “generasi media sosial”, untuk menegaskan bahwa generasi millennial—generasi penggandrung gadget dan internet—tidak kurang potensial dibandingkan generasi terdahulu, terutama kaitannya dengan keberadaan bentuk-bentuk baru dari teknologi media.

Oh Parmitu (atau The Supper, 2018) karya Otty Widasari, dipresentasikan di Ilmin Museum of Art, Seoul, Korea Selatan. Otty menggunakan teknologi live straming YouTube sebagai salah satu elemen utama dalam penampilannya.

Yang menarik, dalam salah satu esainya mengenai perkembangan seni performans di Indonesia, Otty Widasari menggunakan istilah “generasi performatif” untuk merujuk fenomena zaman sekarang, yaitu fenomena di masa ketika anak-anak muda, sehari-harinya, selalu berinteraksi dengan perangkat-perangkat digital-internet-mobile dan hidup sebagai digital native. Menurut saya, Otty menggunakan istilah itu justru demi membingkai dengan sudut pandang optimis peluang dan potensi dari generasi yang, nyatanya, sudah terlanjur percaya kepada User-generated content (UGC) ini. Ia menghimbau “generasi performatif” untuk melakukan pemberontakan terhadap situasi yang absurd—yaitu kehidupan yang hampir semuanya selalu termediasi—dengan bentuk ke-absurd-an lainnya. Terinspirasi oleh Camus tentang absurditas, Otty berpendapat bahwa absurditas bisa menjadi suatu pendekatan untuk memetik manfaat dari absurditas itu sendiri. Menyetujui pandangannya, maka kita harus menggugah kebiasaan bermedia hari ini—yang selalu hadir secara performatif dan kian menjadi “tradisi”—melalui aksi memproduksi bahasa yang performatif pula.

Tentang Performativitas

Makalah-makalah J. L. Austin yang mengulas gagasan tentang “ungkapan performatif” dikumpulkan menjadi sebuah buku berjudul How to Do Things with Words. (Gambar: sampul buku terbitan Martino Fine Books, 2018. Diakses dari situs jual-beli online www.amazon.com).

Gagasan performativitas kian relevan hari ini, terutama untuk menelaah bagaimana bahasa memiliki kekuatan untuk menciptakan efek tertentu pada dunia riil kita. Gagasan ini melihat bahwa bahasa bukan saja sesuatu yang mendeskripsikan keadaan dunia, tetapi juga memiliki fungsi sebagai tindakan sosial. Indikator termudah, untuk menilai apakah sesuatu memiliki energi atau unsur yang performatir, diutarakan oleh Austin melalui teorinya tentang performative utterance; lewat contoh ungkapan “I do!” yang diucapkan mempelai laki-laki ketika melaksanakan ijab kabul dalam ritual pernikahan. Merujuk penjelasan Jillian R. Cavanaugh tentang teori Austin tersebut, dapat kita pahami bahwa ungkapan “I do!” tidak berfungsi deskriptif, melainkan aktif. Ungkapan itu mentransformasi status si laki-laki dari “belum menikah” menjadi “menikah”. Kata-kata “I do!” menjadi aktif bukan hanya karena diungkapkan oleh si pengucap, tetapi kata-kata itu bertindak sebagai dirinya sendiri—sebagai Bahasa—dan menghasilkan efek “perubahan [status]” pada diri subjek yang mengucapkan kata-kata itu.

Judith Butler. University of California, Berkeley [CC0]

Logika yang bekerja pada contoh yang disebutkan Austin, sebenarnya, juga terjadi pada ragam bahasa lainnya selain “kata-kata” atau “ungkapan”. Ragam bahasa yang saya maksud itu mencakup lisan, tulisan, visual, bunyi, ruang, ataupun kejadian. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Cavanaugh, Butler menegaskan pemikiran tersebut dengan berpendapat bahwa genderisasi tubuh merupakan konstruksi sosial. Dalam artian, Bahasa yang kita gunakan sehari-hari (atau yang digunakan oleh media massa, misalnya) ketika mengartikulasikan “apa itu perempuan dan laki-laki”, pada dasarnya bersifat performatif karena membentuk wacana yang membatasi perempuan dan keperempuanan. Pemahaman kita tentang perbedaan antara gender perempuan dan gender laki-laki—termasuk juga soal persepsi kita tentang kekuasaan [patriarki] yang bekerja pada tubuh—dibentuk oleh Bahasa yang mewujud dalam ucapan sehari-hari ataupun perilaku manusia dalam interaksi-interaksi sosialnya. Bahasa, jika kita merujuk Butler, memiliki fungsi sosial yang menentukan batas-batas tertentu, dan bekerja sebagai kekuasaan, pada tubuh.

Solaris (1972) karya Andrei Tarkovsky adalah salah satu contoh imajinasi sinematis tentang simulasi dan performativitas.

Seri karya instalasi Harun Farocki yang berjudul Serious Games I-IV (2009/2011) adalah salah satu contoh artikulasi puitik tentang bagaimana imajinasi perang berkaitan dengan hubungan bolak-balik antara dunia nyata dan dunia simulasi. (Gambar: Serious Games I: Watson is Down. Image diakses dari situs Harun Farocki).

Jika mengacu teori di atas, bisa pula kita berpendapat bahwa “media” (sebagai bahasa) juga berperan aktif menciptakan efek tertentu—entah itu mengubah atau membentuk—dunia riil kita. Sudah menjadi pengetahuan umum, memang, ada banyak filsuf yang memandang media sebagai penentu kehidupan manusia. Kita sering mendengar istilah “simulakra” atau “simulakrum” dikutip-kutip oleh mahasiswa-mahasiswa baru di ranah ilmu sosial dan humaniora untuk menggaungkan bahwa dunia kita sebenarnya hanyalah simulasi—meski tak jarang kutipan itu keliru konteks. Terlepas dari banyaknya kritik terhadap pemikiran Jean Baudrillard tersebut, kita tidak bisa untuk tidak mengakui bahwa “bahasa [yang dihasilkan/digunakan] media” berperan signifikan bukan hanya di tataran pembentukan citra atau status seseorang, tetapi juga dalam pembentukan cara berpikir manusia yang kemudian terwujud dalam perkataan dan perilakunya sehari-hari. Manusia awalnya meletakkan suatu energi mental dan empati ke dalam teknologi media, tetapi repetisi yang dilakukan manusia terhadap teknologi media tersebut, pada akhirnya, akan membentuk persepsi, sikap, dan perilaku manusia itu sendiri. Dunia representasi, dengan kata lain, bukan lagi semata gambaran tentang dunia, tetapi juga berpengaruh terhadap bagaimana dunia kita terbentuk sekaligus membentuk pandangan kita terhadap dunia.

Di masa teknologi internet dan media sosial, dampak media bagi interaksi sosial terasa demikian nyata. Media sosial, bahkan, bukan lagi sekadar “bahasa yang memengaruhi”, tapi agaknya telah menjadi “bahasa sehari-hari” dunia riil kita. “Dunia yang termediasi” telah menjadi fakta. Sebagai bahasa yang performatif, kita bisa mengacu banyak contoh peristiwa tentang bagaimana tagar, misalnya, merupakan faktor penting bagi terpicunya suatu gerakan sosial; kita pun bisa meninjau bagaimana “click activism” juga telah menjadi wacana yang menunjukkan hubungan antara “bahasa/perilaku termediasi” dan “bahasa/perilaku di luar media”. Status seseorang, baik awam maupun elite, di masyarakat, sering ditentukan oleh tingkat apresiasi netizen lain terhadap akun media sosial yang dimilikinya. Berdasarkan keterangan-keterangan itu, kita bisa garis bawahi di sini: media sosial hadir sebagai “dunia performatif” mutakhir kita.

Tentang Aura

Dari Walter Benjamin, kita tahu bahwa aura merupakan inti keunikan sebuah karya seni; “nilai unik dari karya seni yang ‘autentik’ memiliki basisnya di dalam ritual—mulanya magis, kemudian religius.” Dalam perkembangan konsepnya, tentu, ritualitas magis dan religius itu kemudian berevolusi menjadi ritualitas seni. Aura bisa dirasakan atau ditangkap oleh penonton karena adanya “jarak” (baik secara material maupun konsep) antara objek beraura dan orang yang melihatnya, persis seperti ketika kita menikmati sebuah pemandangan pegunungan.

Benjamin pun berpendapat, reproduksi atas karya seni, yang dilakukan menggunakan mesin (atau yang ia sebut “reproduksi mekanis”), merupakan faktor yang meluruhkan aura karya seni itu. Alasan manusia mereproduksi karya seni adalah obsesi untuk membuat karya seni menjadi lebih dekat, baik secara spasial (meruang) maupun manusiawi. Berger mengklarifikasi peluruhan aura itu dengan mencontohkan bagaimana image sebuah lukisan yang kita lihat di dalam sebuah foto (yang bisa kita kantongi atau simpan di dalam lemari pribadi), telah memiliki kodrat yang berbeda sama sekali dengan lukisan asli yang biasanya kita lihat langsung di dalam museum. Image lukisan di dalam foto tidak memicu rasa merinding karena, sebagai sebuah representasi, lukisan yang ada di dalam foto itu sudah tidak lagi memiliki aura yang biasanya dipancarkan oleh lukisan asli dan menyentuh indra-indra manusia yang melihatnya.

Tentang Kepengarangan,
Reaksi Massa, dan Akses Publik

Dari keseluruhan isi esai berjudul The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction itu, kita bisa mengesampingkan sejenak bingkaian Benjamin tentang wacana politik seni yang berhubungan dengan perkembangan estetika, yaitu soal “penerjemahan estetika” ala Fasis dan “politisasi seni” ala Komunis. Di sini, kita justru fokus pada penafsiran Benjamin tentang revolusi dari modus produksi dan karakteristik medium yang diciptakan alat-alat mekanis, yaitu terkait fenomena peluruhan kontemporer dari aura yang disinggung di subjudul sebelumnya. Fenomena peluruhan itu perlu kita setujui sebagai gaung optimis, alih-alih pesimis.

Benjamin menyatakan: “reproduksi mekanis membebaskan karya seni dari ketergantungan parasit pada ritual”—reproduksi mekanis adalah emansipasi.

Poin tersebut, sebenarnya, menjadi lebih menarik jika kita mengaitkannya dengan pendapat Hikmat Budiman yang pernah saya dengar beberapa tahun lalu, bahwa teknologi media—dalam derajat tertentu—seakan telah menjadi “agama baru” bagi manusia kontemporer. Di masa media sosial, orang-orang bahkan bisa “meritualisasikan” isu agama lebih khusyuk dibandingkan berzikir. Tapi, tentu saja, pembahasan lebih jauh mengenai itu akan membuat kita semakin keluar konteks dari gagasan yang ingin diuraikan dalam tulisan ini. Mari kita urai maksud Benjamin saja!

Pernyataan Benjamin tersebut menegaskan bahwa meluruhnya aura karya seni di era reproduksi mekanis merupakan awal potensi baru dari seni dan kesenian, apalagi jika kita mengelaborasi kemungkinan dan potensi itu di masa media sosial, tatkala kecenderungan untuk mereproduksi beragam hal terjadi semakin massal karena kerja mesin-mesin digital yang saling terhubung melalui internet. Terkait hal ini, kita perlu menggarisbawahi dua perubahan yang muncul akibat reproduksi mekanis, sebagaimana yang dijelaskan Benjamin: (1) berubahnya reaksi massa terhadap seni, dan (2) terbukanya akses publik seni terhadap kepengarangan.

Tentang poin pertama, revolusi yang disebabkan oleh reproduksi mekanis mengubah “sikap reaksioner” publik seni menjadi “reaksi yang bersifat progresif”. Artinya, ketika karya-karya seni tereproduksi, tafsiran awam berpadu dengan tafsiran para ahli; reaksi individu akan ditentukan oleh respon massa; pakem-pakem kritisisme yang kolot digeser oleh terjemahan-terjemahan publik yang lebih emansipatif dan egaliter. Orientasi para ahli yang eksklusif lambat laun akan bersepakat dengan kenikmatan emosional dan visual dari khalayak umum. Sebab, reproduksi mekanis meningkatkan minat massa terhadap karya seni. Benjamin menyatakan bahwa, jika respon individu dan massa itu termanifestasi secara serempak, mereka akan saling mengontrol satu sama lain. Sampai di sini, bisa kita simpulkan bahwa situasi yang demikian akan menciptakan desentralisasi wacana.

Bertalian dengan simpulan di atas, ialah poin kedua: “terbukanya akses kepengarangan” berarti juga terdesentralisasinya alat produksi-reproduksi. Setiap orang berpeluang menjadi “pembuat karya” atau “melakukan sesuatu terhadap karya”. Kondisi ini justru memberikan dampak berupa terbentuknya rasa kepemilikan bersama terhadap seni sehingga, jika ini disadari secara positif, akan memicu suatu perombakan revolusioner di tataran institusional dalam rangka membuat seni menjadi lebih inklusif bagi siapa saja. Benjamin mencontohkan, pengetahuan tentang senirupa, film, atau sastra, misalnya, akan menjadi penting tidak hanya bagi para mahasiswa di bidang sosial, politik, dan humaniora, tetapi juga penting bagi mereka yang berkuliah di wilayah eksakta, ekonomi, atau teknik.

Kondisi yang tergambar pada paragraf di atas menunjukkan karakteristik masyarakat yang aktif, dengan kata lain: performatif (terutama dalam wacana kesenian). Delapan puluh tiga tahun kemudian setelah esai Benjamin terbit, manusia hidup di tengah-tengah sarana dan prasarana serta hubungan-hubungan produksi yang sangat mendukung optimisme itu: dunia digital-internet-mobile, atau, meminjam istilah Otty: “dunia yang saling terhubung” dan “tidak satu arah”.

Performativitas Generasi Sekarang:
Bagaimana generasi performatif sebaiknya diartikan?

Tentu saja, menurut saya pribadi, menjawab pertanyaan tersebut adalah sebuah keharusan, tetapi pengertian yang hendak saya utarakan di sini bukanlah suatu kemutlakan. Ini adalah sebuah himbauan untuk memikirkan kembali posisi generasi kita sekarang ini.

Menurut saya, karakteristik dari keberhinggapan teknologi media masa kini di dalam keseharian masyarakat, bisa dibilang, seakan “memenggal sebagian besar jarak” antara masyarakat itu sendiri dan superstruktur yang menaunginya. Relasi kekuasaan mengalami transformasi dari vertikal menjadi horizontal, dan dalam situasi itu, masyarakat justru memiliki peluang untuk membenturkan hegemoni yang ada dan membangun wacana menurut versi mereka sendiri.

Sementara itu, seperti yang diutarakan Benjamin, karena aktivitas produksi artistik tidak lagi mengacu kepada kriteria keaslian (‘autentisitas’), fungsi seni sebenarnya telah berubah, dari yang awalnya berdasarkan kepentingan ritual menjadi sesuatu yang berdasar pada kepentingan/alasan lain, yaitu politik. Tentunya, yang perlu kita bingkai adalah “politik warga umum”, bukan “politik elite”, dalam artian bahwa warga yang berpolitik adalah warga yang mengupayakan kesetaraan pengetahuan, atau yang mengupayakan hak untuk bisa menciptakan pengetahuannya sendiri. Dalam konteks seni, ide tentang “politik seni oleh warga” menaruh perhatian pada bagaimana warga (contohnya: yang berafiliasi ke dalam suatu komunitas akar rumput) bisa membangun wacana keseniannya tanpa bergantung pada kanon-kanon seni yang sudah ada.

Menyikapi media sosial sebagai “hal performatif” berarti memahami media sosial sebagai suatu “entitas/bahasa” yang aktif, yang dengan sendirinya memberikan “efek tertentu” pada dunia, termasuk diri kita. Jika kita ingin mengafirmasi media sosial sebagai sarana performatif baru, yang bisa kita manfaatkan untuk membangun wacana kesenian, itu berarti kita terlebih dahulu harus membebaskan diri dari belenggu media sosial. Kita harus menyiasati—bahkan melawan—kekuasaan media sosial terhadap tubuh kita, terhadap pola pikir kita. Kitalah yang harus menggenggam potensi dari “performativitas media sosial”, bukan justru tergenggam di dalamnya.

Jika aura dianggap sudah menjadi persoalan masa lalu, gagasan tentang performativitas agaknya bisa diolah dalam rangka melampaui (to transcend) “auratisisme”. Harapan untuk menciptakan “objek beraura” ke dalam dunia media (dunia simulasi) merupakan hal yang tidak lagi relevan (dan hampir tidak mungkin). Maka, penggunaan media sosial sebagai medium seni akan menemui esensinya justru jika para pelaku kreatif dengan sadar bermain-main di ranah performativitas…

to perform the performativity to be more performative.

“tiga pasang kaki”, image fotografi dalam proyek Diorama, Forum Lenteng, 2016.

Mari kita kritisi keadaan sekarang dengan kelakar: cukuplah aura saja yang berhak menelan manusia ke dalam ruang-ruang kontemplasi usang, sedangkan performativitas harus menjadi jalan keluar dari dunia simulasi yang selama ini membaurkan pandangan kita terhadap dunia yang sebenarnya. Istilah “generasi performatif” harus menjadi kunci imajinasi tentang “generasi yang aktif bertindak secara sosial” daripada sebagai identitas atau kategori “generasi yang hidup di era media sosial (era paling performatif)” saja.

5 Responses to “Notabene Generasi Performatif”

Leave a Reply to setelah membaca ulang bab 2 buku Austin | manshur zikri Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: