secuplik tentang ngabuburit, film hari ini, ceramah hari ini, dan buku hari ini

Hari ini, seperti yang sudah pernah saya catat di hari-hari lain, saya habiskan dengan menonton film. Saya menonton film-film yang di-submit oleh para filmmaker ke festival kami, karena tahun saya menjadi salah seorang selektor di festival itu.

Saya menonton dari pukul sepuluh pagi hingga pukul setengah lima. Lebih dari itu tidak bisa, karena suara-suara toa masjid sudah kedengaran. Masjid-masjid itu memutar musik-musik sholawat, menanti waktu berbuka puasa.

Karena sudah tak bisa melanjutkan kegiatan menonton film, saya memutuskan untuk merekam bunyi. Ada dua rekaman bunyi yang saya buat. Pertama, saya menendang-nendang bola sendirian di sebuah lapangan futsal yang terdapat di Jalan Saidi (nama jalan tempat markas kami berada). Kedua, kegiatan saya berjalan-jalan di sepanjang Jalan Swadaya, semacam ngabuburit, melintasi sebuah masjid yang paling ramai jamaahnya di daerah tersebut. Ketika melakukan sound-walk untuk rekaman yang kedua ini, saya memperhatikan Jalan Swadaya belum ramai dihinggapi para penjual takjil. Saya ingat, tahun lalu, di bulan Ramadhan jalan ini selalu ramai oleh pedagang makanan setiap sorenya. Mungkin karena hari ini masih hari kedua bulan puasa, jadi belum banyak penjual takjil bertebaran.

Maria sedang membaca buku.

Suasana buka puasa di Forum Lenteng tanggal 7 Mei 2019.

Ketika azan maghrib terdengar, saya meminum segelas teh hangat sebagai pembuka puasa, lalu menyulut sebatang rokok Dji Sam Soe. Saya lihat, Maria sedang menonton beberapa film yang, katanya, disebut di dalam katalog festival ARKIPEL tahun 2013. Saya lihat ia menonton film yang lumayan berat. Karenanya, saya pun menyarankannya untuk menonton film karya Park Chan-kyong yang berjudul Bitter Sweet Seoul (2014) yang rasanya lebih mild. Film tersebut adalah film Korea favorit saya, sejauh ini.

Menonton Bitter Sweet Seoul (2014) karya Park Chan-kyon & Park Chan-wook.

Maria sekarang sedang menonton film Park Chan-kyong lainnya yang berjudul Night Fishing (2011). Ketika pertama kali dikenalkan oleh Otty tentang sutradara ini, film yang sedang ditonton Maria itu adalah karya pertama yang dianjurkan oleh Otty untuk saya tonton. Kemudian, ketika saya berkesempatan ke Korea pada tahun 2014 dan (dengan sengaja) menemui Park Chan-kyong, saya pun mulai kepo tentang karya-karyanya. Dari semua karya filmnya, Bitter Sweet Seoul adalah yang paling saya suka.

Film itu sederhana saja, tentang opini para penduduknya tentang kota Seoul. Dibuat dari kumpulan video yang didapatkan dari ratusan lebih partisipan. Jika kita perhatikan, film tersebut kemudian disusun dengan memperhatikan interkonektifitas setiap shot yang, sebenarnya, berbeda satu sama lain dari segi konten. Tapi, dengan pengetahuan montase yang mumpuni, video-video itu disusun menjadi sebuah film yang utuh. Kita akan bias menikmati irama gerak kota yang beriringan dengan gerak manusia-manusianya, fenomena urban yang bersanding dengan keberhinggapan teknologi di ruang-ruang sosial; juga tentang mimpi orang-orang Seoul dan penilaian-penlaian para diaspora terhadap kota itu. Di mata saya, film ini menghadirkan manis-pahit Seoul dengan sangat intim lewat bahasa vernakular dan gelagat kolektif penduduknya. Meskipun tidak terlalu tertarik dengan negara Korea, menonton film tersebut sering membuat saya bisa mengingat bagian-bagian yang menyenangkan dari kota itu.

Sekarang pukul tujuh malam lebih dua puluh lima menit. Dari posisi saya duduk, di teras belakang markas kami, saya bisa mendengar ceramah sholat tarawih di masjid tetangga (yang letaknya tepat di belakang markas kami). Sementara itu, Maria tidak menyelesaikan kegiatan menonton Night Fishing. Ia malah nimbrung ke ruang tengah markas kami, nongkrong dengan anggota organisasi kami yang lainnya.

Si ustadz yang sedang berceramah di masjid tersebut sedang memaparkan bagaimana seharusnya kita bersikap dalam menyambut bulan Ramadhan. Ia mengaitkannya dengan bagaimana kita harus menahan nafsu terhadap makanan, dan lain-lain.

Saya harus menyudahi catatan ini karena ingin melanjutkan kegiatan di depan laptop ini dengan membaca sebuah buku (dalam bentuk PDF) yang mengulas filosofi “yang-sehari-hari”. Literatur itu perlu saya baca untuk meluaskan pisau teoretik saya untuk menyelesaikan esai keempat @masdalu.

 

Jakarta, 7 Mei 2019, pukul 19:30 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: