irama yang tenang dan rencana sepuluh puisi

Dari beberapa film yang saya tonton hari ini, ada satu film—belum bisa saya sebutkan judulnya di sini—yang cukup menyentuh perasaan saya. Film itu berkisah tentang sebuah lingkungan masyarakat yang tinggal di sebuah pulau di Amerika, yang konon akan segera digusur. Si pembuat film merekam pandangan orang-orang yang tinggal di pulau itu. Meskipun komentar yang keluar dari mulut mereka adalah kekhawatiran sekaligus kegelisahan tentang isu yang akan terjadi, juga harapan mereka agar rencana penggusuran itu tidak terealisasi, si pembuat film dapat menjaga proporsi komentar-komentar itu dengan pas di sepanjang film. Lainnya, kita justru akan melihat rutinitas sehari-hari orang-orang tersebut: memancing, memasak, bernyanyi, bermain-main di padang berumput, dan duduk bersantai di siang hari.

Kamera dari film itu tidak menggurui, tapi lebih berperan sebagai mata pengamat, yang juga tidak menuntut keberpihakan penonton atas narasi yang “semestinya” dibangun—membela tanah. Tidak. Sutradara film tersebut tampaknya tidak berada dalam intensi semacam itu. Impresi yang kemudian menerpa mata saya ialah tentang irama tenang dari suatu lokasi yang tak tahu akan nasib masa depannya.

Selain itu, film berbahasa Inggris tersebut tidak memiliki subtitles. Berhubung pagi ini saya digelisahkan oleh kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya—ketika bangun dari tidur, saya memeriksa sejumlah situs penyedia jasa kursus bahasa Inggris dan menimbang-nimbang biaya, durasi, dan waktu belajar di kursus-kursus yang saya selancari situsnya itu—maka film yang saya ceritakan ini mendapat perhatian yang lebih dari saya sendiri. Saya pun menyimak dengan saksama setiap ucapan orang-orang yang diwawancarai sutradara. Meskipun tak semuanya bisa saya tangkap dengan benar (dalam arti terjemahan bahasa Indonesianya), tetapi aksi menyimak ini membuat saya larut ke dalam film. Dan dalam aksi menyimak ucapan-ucapan mereka itulah mata saya lantas memperhatikan memik mereka, garis-garis di wajah mereka, gestur mereka, diiringi oleh ambiens yang tertangkap ke dalam bingkai kamera. Film ini sebenarnya tidak menakjubkan dari segi sinematik, tapi mood hari ini mampu mendorong saya menikmati film itu.

Sudah begitu lama sepeda ini tergeletak begitu saja di sana, tanpa dihampiri oleh pemiliknya.

Sampai di sini, saya teringat lagi kata-kata Ugeng T. Moetidjo, bahwa ada kalanya kita bisa merasakan suatu keintiman dengan sebuah film—menikmati film itu—tanpa harus terbebani oleh teori-teori film atau beban-beban sejarah kebudayaan film itu sendiri. Menurut saya, dalam situasi semacam itu, sebenarnya, estetika sedang bekerja pada titik terpuncaknya.


Semalam, saya begadang hingga sahur, dan baru memejamkan mata setelah melaksanakan sholat subuh. Soalnya, buku Michael Gardiner yang berjudul Critique of Everyday Life (Routledge, 2000) benar-benar menyita perhatian saya. Membacanya dalam rangka menambah pisau bedah demi membuat sebuah esai yang akan mengulas praktik Dalu Kusma yang mengoperasikan karya Instagram @masdalu, saya menemukan keasyikan tersendiri ketika membaca bagaimana gerakan Dada dan Surealisme memilih “yang-sehari-hari” sebagai sumber energi mereka untuk berkarya. Dalam pengantar kritis-nya, Gardiner juga menyebut bahwa pembahasannya mengenai teori-teori “the everyday” itu akan sampai pula pada gerakan Situationist International; saya tak sabar untuk bisa sampai pada bagian itu. Bagaimana gerangan gerakan tersebut, yang oleh Hafiz disebut sebagai gerakan dunia yang menginspirasi dirinya dalam mengembangkan seni, membingkai isu “yang-sehari-hari”…? Karenanya, saya membaca terus iBook tersebut usai sholat subuh hingga tertidur. Saya baru membuka mata pada pukul setengah satu, segera sholat zuhur, dan baru setelahnya mencari-cari informasi tentang les bahasa Inggris atau persiapan untuk mengikuti tes IELTS.


Sekarang, saya ingin membuat sepuluh puisi. Saya baru mendapat saran dari Asti ketika menikmati gorengan pada saat buka puasa tadi. Katanya, membuat puisi sekarang ini mungkin bisa mengobati apa-apa saja yang bolong di kepala saya, terutama tiga bulan belakangan.

Sarannya itu menarik juga untuk dicoba. Hitung-hitung… yah, kita coba bikin sajalah dulu.

 

Jakarta, 9 Mei 2019, pukul 18:44 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: