terpintas usulan untuk mencoba jadi performatif

Saya sudah sampai di bab kedua buku Michael Gardiner yang berjudul Critique of Everyday Life. Usai membaca bab pertama yang membahas ide-ide yang dibangun oleh gerakan Dada dan Surrealisme, saya mengalami gejala yang… [apa biasanya istilah yang digunakan orang untuk menyebut gejala ini, ya…?] … yaitu suatu keadaan psikologis ketika kau mulai merasa sudah dekat dengan sesuatu, misalnya sebuah ide atau pemahaman tertentu tentang sebuah topik, dan yakin akan bisa menggenggamnya lalu melumatnya habis-habisan, eh, apa yang kau kira sudah dekat itu malah melambung tinggi, tiba-tiba menjauhi dirimu. Rasanya, wujud konkret dari hal yang abstrak itu sudah begitu dekat, tapi ternyata masih sulit untuk diraih.

Perasaan itu berkaitan dengan esai yang saya muat di situs ini pada tanggal 5 Mei 2019, berjudul “Notabene Generasi Performatif”. Selesai menulis esai itu, hampir setiap hari saya justru jadi berpikir, apa contoh konkret dari “aksi membebaskan diri dari kuasa media sosial” dalam bentuk karya seni…? Mungkin, jawabannya, adalah membuat karya-karya seni media baru. Namun, kalau sekadar mengadopsi gaya bahasa media baru saja tanpa membuka ruang refleksi yang lebih visioner, tentu itu akan menjadi “jebakan sekunder” lagi. Paling tidak, kalau mengingat pemaparan saya di esai ketiga @masdalu, “Peta Majas Media @masdalu (Bag. 3)”, ada hal lain yang mesti kita pikirkan untuk menelaah bagaimana pengadopsian sebuah ide ke dalam praktik kritis atas media sosial. Orang-orang yang menemukan teknologi hypertext dan hyperlink, contohnya, berusaha mengaplikasikan ide Barthes tentang Text ke dalam ranah kajian internet dan database. Masalahnya, ide—terserah apakah itu lagi-lagi dari Barat atau tidak—yang dirasa cukup provokatif dalam kaitannya dengan usaha mengkritisi keseharian masyarakat media sosial sekarang ini, belum saya temukan sewaktu menulis esai ketiga @masdalu itu.

Nah, sebenarnya, saya menemukan istilah yang provokatif ketika membaca bab pertama buku Gardiner tersebut, yaitu exquisite corpse. Dengan intensi merayakan fungsi hashtag dan tagging, misalnya, yang bisa dibilang merupakan perkembangan paling lanjut dari teknologi hyperlink itu, saya kira kegiatan “sambung-menyambung” konten akan menjadi relevan untuk “dimainkan dalam kerangka seni” pada Instagram Stories. Tentu, hasilnya tidak akan menjadi karya visual yang aneh-aneh ala surealis (yang kerap disalahartikan oleh anak-anak muda kekinian), melainkan akan menjadi karya moving-image yang bisa jadi sangat eksperimental.

Kita bisa membayangkan: konten Instagram Stories dari akun yang satu direspon oleh konten dari akun yang lain, yang nantinya akan disambung lagi oleh akun-akun yang lain. Dari segi teknis, benang merahnya ialah sebuah hashtag dan dijait nyata oleh fungsi tagging akun. Dari segi substansi dan visual form, ialah bangunan konstruksi yang saling merespon satu sama lain antara akun-akun yang terlibat. Ini akan menjadi sangat menarik untuk dibahas karena moving-image yang akan tercipta sudah pasti bersifat happening (dan artinya akan performatif) jika para pemilik masing-masing akun menyadari nature dari Instagram Stories yang hanya bisa menyajikan konten selama dua puluh empat jam, tetapi juga akan bisa dinikmati di kemudian hari karena Instagram juga memiliki fasilitas Story Highlights. Artinya, imajinasi tentang mobile cinema bisa dilakukan melalui pendekatan yang benar-benar kolektif; dan ini, saya rasa, juga bisa memperluas diskusi tentang “collective unconscious” (yang sudah banyak dikritik para akademisi di ranah filsafat).

Dalam konteks eksperimen sinematik yang saya usulkan ini, ruang gelap tak lagi jadi persoalan, karena penekanannya justru bagaimana sinema bisa dihayati dengan cara yang komunal dan interaktif tanpa perlu pusing memikirkan kendala-kendala teknis. Tidak pula sesederhana mengamini Netflix sebagai “mobile cinema pasaran” yang mencoba menyajikan cerita-cerita interaktif itu. Melalui rancangan permainan yang saya coba usulkan (dengan mengadopsi falsafah Exquisite corpse), menurut saya akan terbuka kemungkinan bagi kita untuk “menjahili” media sosial. Sinema bisa dinikmati dalam logika “snap-content”—dan memang mesti dalam logika itu, saya kira, jika ingin ide ini menjadi konkret demi menggaungkan gagasan “generasi performatif”.

Tapi, ketika saya merasa ide itu sudah hampir bulat, saya dihambat oleh keraguan: apakah mungkin ide itu direalisasikan dengan hitung-hitungan yang pas? Realisasi dari ide ini, jika ingin mencapai hasil yang maksimal, pasti membutuhkan berbagai instruksi yang harus “ditaati” oleh masing-masing partisipan. Itu sangat merepotkan.

Namun, apakah mungkin? Mungkin, mungkin…

Saya percaya, jika ini dijadikan sebuah proyek bersama yang fun, setidaknya “Exquisite corpse ala jaman now” ini bisa memberikan informasi kepada generasi media sosial: bahwa Surrealisme tak sesederhana pengutipan image-image Dali ke dalam beragam bentuk meme lucu.

Sungguh…!

 

Jakarta, 11 Mei 2019, pukul 23:09 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: