sekilas tentang metode belajar-mengajar

Selain pertanyaan soal “kapan melanjutkan studi”—saya bersyukur karena pertanyaan “kapan menikah” tidak menyerang saya sejauh ini—yang cukup membuat saya menghembuskan napas—dan memang sudah saatnya saya memikirkan anjuran itu karena dari banyak segi saya sudah terlalu lama di “zona nyaman”—yang dilontarkan oleh abang kandung, sepupu, dan paman saya, acara buka bersama keluarga besar hari ini cukup membuat saya senang karena salah seorang bibi saya berdiskusi dengan abang kandung saya tentang “metode belajar-mengajar” dan kisah-kisah Nikola Tesla.

Suasana acara buka bersama keluarga besar saya di Talaga Sampiereun.

Abang kandung saya, si sulung, menjadi dosen honor di Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Ia belum mendapat hak untuk menjadi dosen tetap karena belum mengambil studi untuk tingkat Doktor. Katanya, untuk bisa menjadi dosen tetap di kampus itu, ia harus mengambil studi Doktor di luar negeri—ia berencana akan mencoba mengajukan beasiswa ke Kanada atau Korea Selatan dalam waktu dekat (kemungkinan besar tahun depan). Tapi, meskipun dia dosen honor di kampus itu, ia mengaku terlibat cukup banyak di praktik-praktik siginifikan dalam proses pengajaran dan riset yang diadakan oleh kampus. Dan dari situlah ia berbagi pengalamannya dalam menghadapi situasi dan perilaku mahasiswa-mahasiswanya yang, katanya, malas membaca buku.

Abang saya itu lantas berpendapat bahwa, untuk mendalami ilmu elektro, seorang mahasiswa juga harus membaca sejarah kehidupan para pemikir dan penemu di bidang itu. Dengan memahami sejarah kehidupan mereka, kita akan bisa berpikir dengan runut dan mampu menghindari kekeliruan konteks dari setiap pemikiran dan teori. Ia juga bercerita tentang caranya menantang para mahasiswanya: bagaimana mewujudkan sebuah karya konkret dari sebuah buku-buku teori (bagaimana buku-buku itu tidak hanya menjadi bahan bacaan). “Jika si mahasiswa bisa men-develop sesuatu dari sebuah buku,” kata Abang saya itu, “artinya dia sudah menguasai semua isi buku itu, kan?”

Cerita Abang saya itu, Fauzan namanya, menjadi refleksi penting bagi saya dan Otty—apakah saya pernah bercerita kalau Otty adalah bibi saya sekaligus menjadi partner kerja di Forum Lenteng?—terkait dengan kegiatan kami di organisasi. Sebagai lembaga alternative yang fokus pada pendidikan kebudayaan, penting juga rasanya untuk mengadopsi metode yang sedang diterapkan oleh Fauzan.


Pukul sepuluh malam lebih tiga puluh satu menit, saya sudah berada di Jakarta lagi. Acara buka bersama yang saya ikuti tadi maghrib itu dilangsungkan di Bintaro.

Suasana orang-orang berbincang tentang sepak bola di markas Forum Lenteng.

Di markas kami, orang-orang sedang berbincang-bincang tentang perkembangan pertandingan antara Brighton Hove Vs Manchester City dan Liverpool Vs Wolves. Saya yang tidak mengerti bola, melipir ke ruangan studio yang ada di bagian depan markas, membuat catatan ini. Saya berniat ingin melanjutkan kegiatan membaca buku Gardiner.

 

Jakarta, 12 Mei 2019, pukul 22:38 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: