setelah membaca ulang bab 2 buku Austin

Berbuka dengan segelas teh manis hangat dan tiga buah kurma (dan, tetap saja, dengan sebatang rokok samsu), saya rasa, adalah yang paling pas untuk saat ini. Berbuka dengan menu yang berlebih seperti hari-hari sebelumnya—menyantap lebih dari lima tahu goreng lalu ditambah semangkuk sop buah dan makanan-makanan kecil lainnya—ternyata tidak berdampak baik bagi tubuh. Di titik ini, saya percaya ucapan bibi: buah kurma itu baik untuk kesehatan.

Suasana sore hari tanggal 17 Mei 2019 di dapur Forum Lenteng: Ufik (kiri) dan Dhuha (kanan) sedang memasak menu buka puasa.

Untung saja, maghrib ini, meskipun masih terbangun siang hari dengan kepala yang berat dan hidung yang sakit—saya bahkan beberapa kali mengeluarkan ingus yang begitu kental—saya merasa kalau badan saya lumayan segar dan ringan. Karenanya, saya harus segera memulai kegiatan menguraikan beberapa pemikiran tentang performativitas itu lagi.

Sebenarnya, sudah ada beberapa poin yang tersimpan di kepala saya setelah membaca makalah Freddie Rokem, berjudul “Catastrophic Constellations: Picasso’s Guernica and Klee’s Angelus Novus”, yang dimuat di International Journal of Arts and Technology tahun 2008, sampai selesai. Penjelasan Rokem membuat saya cukup yakin untuk berargumen mengapa, misalnya, Man with a Movie Camera (1929) karya Dziga Vertov bisa diacu sebagai salah satu contoh karya moving image yang performatif. Sedari awal, ketika menelaah prinsip-prinsip performativitas, saya menduga dengan begitu kuat bahwa film tersebut sangat performatif—tapi tentu saja, seperti yang saya akui pula, karya itu juga auratik terutama bagi para maniak sinema. Namun, lebih dari seminggu yang lalu, saya belum menemukan kuncian untuk menguatkan argumentasi saya. Literatur Austin cukup berbelit-belit dengan skema teoretiknya dan sangat susah untuk diaplikasikan pada contoh-contoh yang berbau visual daripada bahasa lisan/tulisan. Metode analisis yang diterapkan oleh Rokem sangat membantu. Dan memang, argumen itu belum lagi saya susun dengan apik dan baru direncanakan akan saya selesaikan malam ini, hingga akhirnya nanti sampai pada argumen saya mengenai “performativitas @masdalu”.

 

Jakarta, 17 Mei 2019, pukul 18:09 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: