menjadi generasi performatif

Tiga hari yang lalu, saya terniat ingin menulis sebuah esai yang mengulas proyek pameran tunggal Dhanurendra Pandji yang berjudul Remembrance of Things Past. Niat itu terhenti saat saya menyadari bahwa novel Marcel Proust sebanyak tujuh volume (dengan jumlah halaman lebih dari empat ribu), yang judulnya diambil Luthfan—si kurator pameran—sebagai judul pameran Pandji, belum pernah saya baca. Tak layak, rasanya, jika ingin mengulas karya-karya oil pastel Pandji tanpa terlebih dahulu membaca novel fenomenal itu.

Setelah menulis esai tentang contoh-contoh karya seni yang performatif, saya juga berniat ingin benar-benar memulai pembuatan esai keempat tentang @masdalu. Tapi, lagi-lagi itu terhenti karena saya belum membaca tuntas buku Lev Manovich yang berjudul Instagram and Contemporary Image (2017). Padahal, perspektif dari si penulis “bahasa media baru” itu perlu ditinjau untuk berbicara lebih jauh mengenai “performativitas media sosial”. Oleh karena itu, saya pun mengikhlaskan diri untuk menyediakan waktu sekitar dua atau tiga hari untuk menuntaskan kegiatan membaca buku tersebut sebelum memulai kembali menulis tentang @masdalu.

Sekarang, di depan saya, Pandji sedang menyelam ke alam novel Marcel Proust itu. Bukan sekadar membacanya, tapi ia mencoba menerjemahkannya lewat suatu interpretasi yang menggunakan metode seni ketimbang sekadar translasi bahasa. Pandji sedang menggarap sebuah proyek seni, yaitu “performans baca buku”, mungkin bisa disebut “Membaca Proust” atau “Tadarus Proust”. Kegiatan membaca itu akan dilangsung sekali seminggu setiap hari Jum’at. Ia akan mengajak beberapa orang untuk berpartisipasi ke dalam performans yang ia conduct tersebut, untuk membaca sejumlah halaman yang sudah ia terjemahkan, lalu nantinya para partisipan (dimoderasi oleh Pandji sendiri) akan mendiskusikan interpretasi yang telah dibuatnya. Proyek performans ini, katanya, menjadi bagian (dalam rangka proyek seni berkelanjutan) yang menyambung proyek oil pastel yang telah dipamerkan pada pameran tunggalnya bulan Maret lalu. Saya sudah menyatakan kesediaan untuk menjadi salah satu partisipan di dalam proyek itu—menjadi partisipan tetap untuk setiap hari Jum’at membaca terjemahan-terjemahan novel Remembrance of Things Past yang [akan] dibuat Pandji. Mungkin sekali, jika proyek setiap minggu ini berjalan konsisten, finalnya baru akan terjadi lima hingga tujuh tahun lagi. Namun, saya yakin jika Pandji disiplin menggarapnya, proyek ini akan menjadi proyek seni yang penting dan bernilai besar, dan dari situ Pandji pasti akan menjadi lebih produktif dan bisa menghasilkan karya-karya yang bukan hanya bagus tapi penting, relevan, dan berdasar.


Kemarin dan hari sebelum kemarin, saya, Pandji, Luthfan, Dhuha, dan Walay berdiskusi tentang beberapa karya teman-teman di Milisifilem Collective. Kami sudah mulai berpikir untuk bagaimana membangun wacana dari praktik-praktik kesenian yang sudah kami kerjakan sejak satu tahun terakhir. Untuk memenuhi itu, dibutuhkan banyak output-output tekstual. Beberapa orang sudah meresponnya dengan melakukan beberapa proyek seni kecil di luar kegiatan kelas Milisifilem. Selain proyek “Membaca Proust”, Pandji juga sedang menggarap proyek Kelab Klub (@kelab.klub) menggunakan medium Instagram. Begitu pula Dhuha, ia kini tengah mengelola akun Instagram @estetikadunia. Jenis respon yang seperti itu, saya rasa, cukup relevan dengan apa yang kami pelajari di Milisifilem Collective. Saya sendiri meresponnya dengan meningkatkan produktivitas dalam membuat tulisan-tulisan di blog pribadi.

Niatan untuk melakukan ini, sebenarnya, muncul karena adanya kesadaran untuk tidak menjadi pelaku kesenian yang ngarang. Sebab, kami tahu, ada kebolongan sejarah dan ilmu pengetahuan antara wacana Modernisme Barat dan situasi aktual di tempat kami berada. Karena sistem pendidikan seni di Indonesia tidak baik, cara-cara alternatif seperti ini adalah cara yang paling mungkin untuk direalisasikan. Pelaku seni lokal harus membuka jalurnya sendiri untuk mengakses pengetahuan yang berjarak sangat jauh itu. Berhubung teknologi komunikasi dan informasi sudah canggih, aksi untuk berlari mengejar ketertinggalan itu sudah pasti bisa dilakukan. PR-nya hanyalah tinggal bagaimana membingkai informasi-informasi itu agar sesuai dengan apa yang dibutuhkan dalam konteks skena seni di sini.

Saya dan beberapa teman sedang berusaha menjadi “generasi performatif” yang dicita-citakan oleh Otty Widasari. Harus lebih, tidak kurang.

Dan tahukah kau, saya ingin menyatakan di sini: sebuah lagu yang kiranya mengiringi kesadaran ini ialah Kamar Gelap dari Efek Rumah Kaca. Bukan karena teromantisasi oleh permusikan-indie ala jaman now… bukan! Lagu itu memiliki relevansi dengan wacana yang kami bayangkan karena menggaungkan karakteristik dari sebuah medium yang mendorong lahirnya Milisifilem Collective: Kamar Gelap adalah tentang fotografi. Lagu itu mengandung suatu militansi dalam konteks aktivisme estetika dan aktivisme puitik, daripada sekadar aktivisme banal yang diteriakkan oleh beberapa band baru yang, saya kira, tak sadar esensi vokabulari citra vertikal yang ada di genggaman tangan kita setiap hari.

 

Jakarta, 25 Mei 2019, pukul 18:19 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: