menjaga nalar

Suara petasan terdengar. Saya baru saja usai menonton sebuah film berjudul Speak Out! (2018) karya Jan van Opstal. Isunya penting, tentang keterbukaan kita terhadap persoalan HIV-AIDS, tetapi konstruksi filmnya tak istimewa. Terlepas dari itu, ada hal yang terpikirkan di kepala saya ketika menyimak orang-orang Afrika itu berbicara ke hadapan kamera (beberapa di antaranya terkontrol oleh kamera, beberapa yang lain bisa membangun hubungan yang setara dengan kamera tersebut). Si sutradara, seperti terdengar di salah satu adegan wawancara, ternyata juga pengidap HIV-AIDS. Yang terpikirkan oleh saya ketika menyimak ungkapan-ungkapan terbuka mereka ialah: betapa kejamnya sistem, dan betapa malangnya kita yang tidak kritis terhadap sistem.

Dari menonton film itu, saya melompatkan ingatan ke sebuah percakapan antara saya dan Ule di saat kami berjalan pulang dari warteg menuju markas, beberapa hari lalu. Sambil berjalan santai pada dini hari menjelang azan subuh terdengar itu, kami berbincang tentang demonstrasi tanggal 21 dan 22 Mei lalu. Kami menyoroti biang-biang provokator berkedok pemimpun agama. Lalu saya berujar: “Jika pemimpin-pemimpin umat itu memang benar berkata dan bertindak secara tulus, dan hanya karena ketidaktahuannya akan faktor-faktor sosial dan politik yang lain, mungkin kita masih bisa menerimanya. Tapi, bagaimana dengan mereka yang dengan sadar melakukan tindakan yang jahat, tapi berpura-pura menjadi pemimpin agama? Sebesar apa dosa mereka, ya?” Dari kalimat itu, yang menjadi perhatian saya justru pertanyaan yang pertama: tentang subjek yang tidak sadar tengah dikontrol oleh sistem, tapi ia bertindak secara tulus…(?) Betapa rumitnya.

Pukul sepuluh malam lebih sembilan puluh menit sekarang. Saya duduk di teras belakang; sendiri. Walay sedang menonton pertandingan bola antara PSIS dan Persija yang disiarkan di Indonesiar. Ketika saya mengetik kalimat ini, Persija menempati posisi yang kalah dengan skor 2-1. Di dalam ruangan di sebelah meja tempat saya meletakkan laptop, adalah ruang kerja Yuki. Dari tempat saya duduk, saya bisa mendengar suaranya menyuap nasi menggunakan sendok.

Satu minggu terakhir, sejumlah pikiran mengusik saya—beberapa kenangan lama yang menjengkelkan (satu dua di antaranya menghampiri saya ke alam mimpi). Karena kesibukan membaca teks-teks tentang performativitas dan tekanan personal gara-gara belum juga menyelesaikan esai keempat @masdalu, serta kegelisahan untuk ingin segera masuk ke kelas pertemuan pertama di tempat kursus bahasa Inggris (yang itu baru akan terjadi pertengahan bulan depan), serta pekerjaan-pekerajaan lainnya yang harus diselesaikan, perhatian saya terhadap pikiran menjengkelkan itu bisa dikesampingkan. Tapi, kemarin, gangguannya memuncak. Bukan…, bukan! Ini bukan tentang hal-hal yang digosipkan beberapa kawan. Bukan sama sekali! Lalu tentang apa? Aduh, saya enggan menuliskannya di sini. Sebab, semestinya, ingatan menjengkelkan itu sudah harus dilupakan sama sekali karena saya sudah memutuskannya demikian. Hanya gara-gara sebuah arsip video yang tak sengaja terbuka tadi malam, saya jadi teringat lagi (meskipun seminggu lalu tiba-tiba saja ingatan itu muncul di mimpi). Saya pun merasa dungu. Arsip memang tak boleh dihapus, tapi mengapa saya tak bisa santai menghadapi ingatan itu sebagai arsip…(?) Sial!

Jauh…, jauh! Pergi jauh hal-hal yang akan membuat saya membuang-buang waktu karena ketidakterimaan itu. Sungguh, saya memohon kepada Tuhan.

 

Jakarta, 26 Mei 2019, pukul 22:28 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: