di sela-sela membaca buku manovich

Pukul sepuluh malam kurang empat menit, di dekat saya ada Diki, Asti, Robby, Otty, Pandji, dan Dhuha. Diki sedang fokus di hadapan layar laptopnya. Asti baru mulai membuka laptop dan buku catatan, entah apa pekerjaan yang ingin ia selesaikan. Robby berjalan menuju ruangan lain. Pandi terdiam setelah mendengar cerita Otty tentang prestasinya pada umur enam belas tahun: menulis empat artikel di koran dan penghasilan dari menulis itu menjadi modal bagi berdirinya Menara untuk wall climbing di SMA-nya. Dhuha, seperti Diki dan Asti, fokus di hadapan komputernya.

Robby muncul lagi. Sekarang dia duduk di sebelah Dhuha. Pandji, yang sebelumnya duduk di sebelah Dhuha, sudah pergi ke ruangan yang lain, begitu juga dengan Otty. Oh, iya! Saya lupa mencatat bahwa Robby dan Asti sudah resmi menjadi pasangan. Saya lupa, sudah berapa hari mereka jadian.

Suasana sepi setelah semua orang kembali ke pekerjaannya masing-masing. Di teras belakang markas kami, hanya ada saya dan Dhuha saja.

Sementara itu, saya sedang membaca buku Lev Manovich yang berjudul Instagram and Contemporary Image (2017). Saya mulai membaca buku ini sejak seminggu yang lalu. Ternyata, untuk memahami sejumlah konteks yang ia bicarakan, seperti estetika snapshot, konsep selfiecity, dan sejarah fotografi (dan contoh kasus kamera Kodak), dan lain-lainnya, saya harus membaca sejumlah jurnal yang disebut oleh Manovich. Dari satu jurnal, saya merasa harus membaca jurnal-jurnal lain yang disebut di dalam jurnal yang tengah saya baca. Ini seakan menjadi proses membaca yang tak akan pernah berhenti karena ada begitu banyak ulasan dan pengembangan perspektif dalam memahami citra-citra kontemporer, sebanyak ribuan juta citra itu di alam internet.

Saya juga kepikiran untuk menulis sebuah esai tentang @visual.jalanan, menggunakan satu teori yang saya pelajadi ketika masih kuliah di UI dulu, yaitu teori “kriminologi konstitutif”. Sayangnya, buku tahun 1996 yang membahas teori ini sulit diakses secara online. Mau tak mau, saya menghubungi dosen pembimbing saya, Irvan Olii, yang seingat saya mempunyai buku itu. Saya sudah mengatur jadwal pertemuan: besok pukul sembilan malam. Niat untuk menulis esai itu tiba-tiba melinta setelah berbincang tentang Andang terkait pengalamannya mempresentasikan makalah di Ceko minggu lalu. Dan ini agak berbahaya sebenarnya—niat saya ini—karena pada kenyataannya saya masih punya utang untuk menyelesaikan esai keempat @masdalu. Saya menjadi semakin merasa aneh karena takjub betapa esai keempat itu tak kunjung selesai.

Waduh! Saya belum makan malam.

 

Jakarta, 28 Mei 2019, pukul 22:06 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: