dari bangun tidur hingga ke jepretan

Hari ini adalah hari pertama bagi proyek terbaru Dhanurendra Pandji: “membaca Proust”. Mengajak sejumlah partisipan untuk sama-sama membaca hasil penerjemahannya atas novel Proust yang berjudul Remembrance of Things Past, Pandji menggarap sebuah performans diskusi mingguan (setiap hari Jum’at) untuk mendalami lapisan-lapisan persoalan yang terkandung di dalam deskripsi-deskripsi detail milik Proust itu. Proyek yang merupakan bagian dari kelanjutan dari pameran tunggalnya bulan Maret lalu (yang juga dijuduli Remembrance of Things Past) yang diniatkan menjadi sebuah proyek jangka panjang. Catatan-catatan yang didapatkannya setiap minggu lewat kegiatan diskusi performans (dalam bentuk kegiatan membaca bersama; tadarus) tersebut akan dikumpulkan dan diolah menjadi karya-karya lainnya di masa depan.

Saya ikut terlibat menjadi salah satu partisipan yang berdiskusi pada penyelenggaraannya yang pertama ini. Selain saya, juga ada Asti dan Robby, serta Pandji sendiri sebagai penyelenggara. Sejak seminggu yang lalu, Pandji sudah menerjemahkan sekitar sepuluh halaman dari volume pertama dari novel Proust, yang berjudul “Jalan Swann”. Pandji punya rencana, ia hanya akan menerjemahkan setidaknya sepuluh halaman setiap minggu, yang akan dibaca oleh dirinya dan para partisipan yang terlibat di dalam diskusi.

Kiri ke kanan: Asti, Robby, dan Pandji.

Dari sepuluh halaman setiap minggu itu, arah diskusi bisa berbeda-beda. Di hari pertama ini, diskusi kami, setelah membaca terjemahan Pandji, berkisar tenatang kesan-kesan terhadap apa yang dialami pada beberapa saat sebelum dan sesudah tidur, sebagaimana yang diutarakan tokoh “Aku” pada novel Proust, volume pertama, tersebut. Berangkat dari isu itu, perbincangan kami menyasar konsep “ambang” (antara keadaan sadar dan keadaan tidak sadar), tentang konsep “imobilitas benda”, tentang ingatan, tentang tubuh sebagai aparatus pengingat paling kuat, tentang keadaan dunia atau kenyataan lingkungan kita yang kerap mengintervensi universalitas mimpi, juga tentang sorotan detail atas hal-hal kecil yang kerap terlewatkan.

Menurut Pandji, cara Proust mendetailkan hal-hal yang kecil lewat kalimat yang dipanjang-panjangkan, sangat menarik dan mengusik mata pembaca. Dan gaya semacam itu, sebagaimana yang ditelusuri Pandji, memiliki kaitan dengan estetika senirupa di Era Keemasan Belanda, yaitu pada masa-masa Johannes Vermeer.

Tentang “hal-hal kecil”, yang kerap terlewatkan, atau yang disadari hampir selalu dalam sifat yang sekejap. Memercik. Saat Pandji mengutarakan itu, saya ingat pembahasan di dalam buku Lev Manovich, Instagram and Contemporary Image (2017), tentang “estetika snapshot”. Sebuah gaya ambilan gambar yang berkembang tatkala kamera mobile mewabah di masyarakat, dan ketika para fotografer mencoba mencari bentul ideal lain dari bahasa fotografis dengan turun ke jalan, menangkap peristiwa sehari-hari yang sesungguhnya: snapshot! Jepretan yang sekejap, tanpa aba-aba, tanpa persiapan, tanpa digaya-gayakan. Dalam satu bagian pembahasan buku Manovich, disebutlah seorang penulis yang mengulas secara panjang lebar tentang “estetika snapshot”. Menurut si penulis yang mengulas itu, yaitu Jonathan Schroeder, estetika snapshot bisa dibilang telah tampak sejak Era Keemasan Belanda, terutama di ranah senirupa (lukisan). Schroeder menulis seperti ini:

“Like contemporary snapshot aesthetics, Dutch paintings portray consumer lifestyles, filled with friends, lovers, consumer goods, and entertainment. Dutch art is often seen in moral terms—the images provide instructions in how to live a pious life. Along the same lines, one might say that contemporary advertising delivers instructions on how to live a prosperous life. The style of Dutch art profoundly influenced painting, and in turn, advertising. Dutch genre art relied on a realist style; domestic scenes were generally void of classical or mythical iconography. Dutch art showed recognizable people in quotidian settings. Many Dutch paintings picture interiors, presenting a vision of single family home, a women’s domestic space, and a way of life that included orderliness, possession, and display. These kinds of scenes fill contemporary marketing communication—now called the slice of life, that reify the everyday, the vernacular, and the captured moment.” (Jonathan Schroeder, “Snapshot Aesthetics and the Strategic Imagination”, InVisible Culture, Issue 18, 10 April 2013).

Suatu kebetulan yang menyenangkan. Studi Pandji terhadap Proust ternyata memiliki singgungannya dengan perkepoan yang saya lakukan terhadap modus-modus perfotoan pada Instagram.

Saya tidak sabar menunggu pertemuan diskusi performans “membaca Proust” pada Jumat minggu depan.

 

Jakarta, 31 Mei 2019, pukul 19:30 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: