frustrasi dengan rekaman ceramah-ceramah di youtube

Hampir sebelas tahun yang lalu, Hafiz Rancajale—pelopor dan pembaru seni rupa kontemporer, film, dan video di Indonesia—bercerita kepada saya, tentang bagaimana negara kita selama ini, tanpa kita sadari, mengajarkan kekerasan kepada masyarakatnya secara visual. Salah satu contoh kecilnya, ialah “gambar sosok pahlawan membawa parang” di lembaran uang kertas Rp 1000,-. Gambar sosok pahlawan itu tidak hanya ada di lembaran uang kertas, tapi juga tersebar dalam ukuran sebesar poster di dinding-dinding sekolah.

“Bayangkan!” kata Hafiz. “Anak-anak sudah ditanamkan pola pikir kekerasan sejak dini, bahwa yang keren itu, yang pahlawan itu, adalah ‘yang membawa parang’…? Itu, kan, ngajarin kekerasan, namanya…?! Nanti, lu pasti belajar tentang itu, kekerasan visual, di Kriminologi…”

Hafiz bercerita tentang lembaran uang seribu itu pada saat saya sedang menjalani proses bimbingan belajar intensif di Jakarta, bersiap-siap menghadapi SNMPTN, dan bidang studi yang saya incar kala itu adalah Kriminologi, FISIP UI. Ketika saya akhirnya berhasil menjadi mahasiswa Kriminologi UI, saya mempelajari (dan kemudian mendalami) apa yang dikenal sebagai “kekerasan [dalam/secara] visual”. Contoh yang diceritakan Hafiz kepada saya sewaktu saya belum berstatus sebagai mahasiswa itu, adalah salah satu contoh yang tepat. Poin yang dapat kita tangkap dari cerita Hafiz, adalah, bukan berarti kita tidak mengakui Patimura sebagai pahlawan nasional. Tapi, pertanyaannya: mengapa Patimura mesti dicitrakan sebagai orang yang memamerkan parang? Apakah tak ada visual yang lain, yang bisa menjauhkan kita dari pengagungan maskulinitas dan kekerasan, untuk legenda kepahlawanan Patimura…?

Agaknya, pembangunan pola pikir yang didasarkan kepada “wacana kekerasan” masih terus berlanjut hingga sekarang. Yang lebih menyedihkan, bukan saja oleh negara, tetapi oleh sejumlah kelompok-kelompok atau individu-individu berkepentingan. Tidak terkecuali, beberapa guru agama pun kerap mengajarkan hal-hal yang—tanpa mereka sadari—mengandung pola pikir yang mengamini kekerasan. Misalnya, penyampaian tentang kisah-kisah heroisme sahabat-sahabat Nabi SAW, biasanya, selalu mengacu pada kisah-kisah perang, seolah-olah tak ada kisah-kisah lain yang sifatnya lebih peaceful. Dan menurut saya, (saya yakin), interpretasi tentang sejarah peperangan itu pun tidak tepat (karena sangat hiperbolis) dan tentunya perlu peninjauan kembali berdasarkan ilmu sejarah yang relevan. Niat si ustad mungkin memang baik, yaitu dalam rangka menyampaikan sepetik atau dua petik hikmah dari “kisah heroik” para Sahabat, tapi—bisa kita lihat—ada kemandekan cara berpikir pada ustad-ustad semacam ini, yang pada akhirnya hanya akan melestarikan “konsep kekerasan” di kepala umat.

Saya bukan orang yang antiagama. Saya Islam tulen, dibesarkan dalam keluarga yang berpendidikan Islam, dididik dengan cara-cara Islam, juga mempelajari Islam lewat pendidikan formal. Saya pun dengan tegas menyatakan di sini: saya menyunjung tinggi Islam sebagai keyakinan saya. Namun, belakangan ini, saya sering kali frustrasi jika menonton ceramah ustadz-ustad dan/atau ustadzah-ustadzah yang tersebar begitu banyak di YouTube. Meskipun tidak semua, (tapi bisa dikatakan sangat banyak) ceramah-ceramah yang mengandung “wacana kebencian” dan “wacana kekerasa” nyatanya mendominasi daftar tontonan para pengguna internet. Mengapa saya bisa menyadari adanya “konsep kekerasan” yang mengiringi isi-isi ceramah yang disampaikan kepada jamaah itu? Karena saya mempelajarinya di Kriminologi, empat setengah tahun—dan kini malah mendalami bidang telaah visual di dunia kerja.

Nah, ceramah-ceramah semacam itulah yang justru menjadi penyakit, virus, pemupuk kemungkaran, yang pada akhirnya nanti justru akan memecah belah masyarakat. PADAHAL, sejauh yang saya pelajari, Islam itu keyakinan yang penuh kedamaian dan dengan keras menolak kekerasan. Makanya, saya bingung, mengapa ustad-ustad sekarang—beberapa bahkan membangun brand “ustad gaul” atau “ustad kekinian”—masih saja terjebak dalam pola pikir yang sempit, tidak intelek, dan malah mengajarkan hal yang bisa dibilang keliru kepada umatnya? Dan mereka populer pula…?! Ironis.

Saya tidak akan berniat mengulas soal konten-konten kekerasan itu di catatan ini. Sebab, catatan malam ini memang hanya sekadar untuk mengeluhkan fenomena itu saja. Barangkali, kalau ada waktu yang pas, saya akan mencoba membahasnya kapan-kapan.

 

Jakarta, 6 Juni 2019, pukul 22:12 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: