galau jadwal

Ke grup obrolan WhatsApp, terkirim sebuah link untuk mengaplikasi program residensi seniman dan peneliti seni ke Kyoto. Biasanya, saya tidak terlalu tertarik dengan program-program residensi, kecuali kalau program itu berkaitan dengan kebutuhan pengembangan program di organisasi saya. Namun, untuk link yang kali ini, saya sungguh tertarik. Sebab, Kyoto adalah kota asal band Jepang favorite saya, Otoboke Beaver. Bukan berarti saya berharap akan bertemu band itu jika seandainya saya mendapatkan kesempatan ke Kyoto lewat program residensi ini. Alih-alih, saya ingin mengetahui dinamika masyarakat Kyoto untuk memahami bagaimana band sekeren itu bisa ada di masa saya hidup—masa yang tiga tahun terakhir sempat saya hujat sebagai masa kemandekan pelaku seni muda Indonesia. (Tapi sekarang, saya sudah mulai optimis dengan generasi sekarang, gara-gara mengkaji @masdalu secara otodidak).

Niat untuk turut serta mengajukan diri ke program itu, bisa dibilang, iseng-iseng berhadiah. Berharap,… iya. Tapi tak terlalu berobsesi juga. Soalnya, kepala saya sekarang ini justru lebih fokus menyiapkan diri mencari kesempatan untuk melanjutkan sekolah, entah itu ke luar negeri ataupun di dalam negeri saja. Apa pun. Saya pribadi sudah merasa sedang berhadapan dengan limit. Kepala ini harus diisi lagi dengan hal yang lebih baru, dan—mengamini nasehat (sekaligus warning) dari mentor-mentor saya di organisasi—harus bertarung di dunia yang lebih luar. Saya terbilang cukup banyak membuang-buang waktu karena terlalu asyik-masyuk dengan aktivitas non-sosial saya di depan laptop. Akibatnya, saya jadi kurang gaul.

Nah, sekarang, saya sedang galau mengenai jadwal. Awal bulan Juli, saya semestinya berada di Pekanbaru, karena kakak saya, Afifah, akan menikah. Tapi, tanggal nikahnya berbenturan dengan jadwal kursus saya. Jikalau saya ke Pekanbaru menggunakan jalur darat—untuk menghemat biaya—saya akan rugi enam pertemuan. Jika saya berangkat menggunakan pesawat—pilihan yang juga sangat sulit karena kantong saya menipis sudah—saya hanya punya waktu tiga hari meninggalkan Jakarta (supaya enam pertemuan pada kursus itu bisa saya hadiri). Aduh…, galau!

Berita baik hari ini: buku Afifah yang berjudul Aksara Tani sudah final. Teman-teman Pasirputih berhasil mendapatkan verifikasi dari Perpustakaan Nasional untuk menjadi penerbit, dengan nama Yayasan Pasirputih. Buku Aksara Tani hari ini sudah mendapat ISBN. Sekarang kami perlu memutar otak untuk mencari bantuan dana supaya bisa mencetak buku itu. Sebagai produk elektronik, berbentuk e-book, buku itu sudah bisa didistribusikan. Resminya, akan rilis bulan Juli nanti, tentunya, setelah Afifah melangsungkan pernikahannya. Saya tak sabar ingin bertemu Nawawi, calon suaminya, si pemuda yang suka membuat puisi itu.

 

Jakarta, 12 Juni 2019, pukul 23:56 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: