saya ingin dea menulis lebih banyak

Saya sempat membuat puisi tentang rumah sebagai analogi mengenai cita-cita dan diri. Tapi puisi itu sudah tidak berada di tangan saya. Puisi itu saya berikan ke tangan orang yang istimewa, sangat istimewa. Dan saya hanya mengharapkan yang baik-baik saja di kemudian hari, kebaikan bagi orang yang istimewa itu. Jika senja dituang mampu menunjukkan kepastiannya yang lain di waktu-waktu yang mustahil, atau ketika bintang bisa muncul mengelilingi pelangi, mungkin harapan-harapan yang tak mungkin akan menjadi kemungkinan baru untuk melihat persoalan-persoalan dengan lebih tenang.

Semalam, Hilary tidak jadi datang ke pameran Maria. Tentunya hari ini; malam ini. Dan dalam perjalanan kembali ke Jalan H. Saidi dari Slipi Kemanggisan, saya ingin sekali bus Transjakarta ini melambatkan gerak rodanya. Sungguh. Jangan terlalu cepat sampai di kolong Tanjung Barat. Sungguh.

Ah, sialan! Mengapa buku Dea Anugrah begitu tipis. Seharusnya, dia menulis lebih banyak lagi, agar saya bisa mencari alasan lain untuk tidak berpikir-pikir rumit. Tulisan Dea itu seperti jalanan macet ini: ribet dan sesak, tapi entah mengapa memberikan kesejukan di tengah-tengah kepenatan yang monoton.

 

Jakarta, 18 Juli 2019, pukul 23:34 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: