mendengar foreign affair

Dini hari tadi, Hilary bercerita kepada saya tentang tempat penampungan para imigran yang berlokasi di dekat Sekolah Dian Harapan. Menurutnya, kapan-kapan saya harus main ke sana karena isunya sangat pas untuk AKUMASSA. Saya pikir-pikir, ada baiknya juga, hitung-hitung mencari tambahan konten untuk website itu (meskipun saya harus mendahulukan kegiatan perbaikan sistem pengarsipannya.)

Bukannya bercerita lebih jauh tentang kampung imigran, Hilary malah menyoroti kebiasaan James Riyadi yang katanya selalu menaiki helicopter jika datang ke sekolah tersebut.

Siang harinya, saya dibikin suntuk gara-gara peristiwa matinya sumber tenaga listrik se-Jabodetabek. Saya pun gagal menghubungi narasumber, Sri Nasti Rukmawati, via telepon, untuk dimintai beberapa keterangan. Saya saat ini sedang membantu seorang kenalan dari Australia untuk mengakses beberapa arsip milik Mia Bustam.

Beberapa saat sebelum listrik mati se-Jabodetabek itu, Hilary bercerita kepada saya tentang pengalamannya menyaksikan pertunjukan di Jicomfest 2019. Bagi pecinta humor receh—yang bisa guling-guling mendengar humor ala kencrotawn—ini, acara semacam Jicomfest adalah hal yang penting. Menanggapi ceritanya—sebenarnya saya yang bertanya tentang Jicomfest itu lebih dulu—saya berbagi pengetahuan tentang comedy dan fenomena Ridwan Remin yang jadi musuh bersama. Di lingkungan pertemanan saya, isu ini sepertinya tidak populer. Saya sendiri bukan penggila stand-up comedy. Kebetulan saya, mau tidak mau, harus mengikuti fenomena ini karena kebutuhan untuk mencari pisau analitis yang tepat dalam mengulas karya Dalu Kusma.

Lalu, mati lampu se-Jabodetabek. Ule dan Ufik pulang dari kegiatan car free day dengan muka masam gara-gara jaringan internet juga mengalami gangguan. Mungkin karena kesal, Ufik memilih tidur siang. Saya dan Ule memilih membersihkan kulkas yang ada di markas, mencuci piring, dan masak.

Usai makan siang, saya tidur hingga maghrib, tepat ketika lampu menyala. Malam hari saya lanjutkan dengan menyelesaikan penerjemahan artikel yang harus dikirimkan ke Anggra. Dan setelahnya, saya berdiskusi dengan Otty mengenai “weird loop” dan “wanderlust”.

“Planes and trains and boats and buses characteristically evoke a common attitude of blue,

unless you have a suitcase and a ticket and a passport, and the cargo that they’re carrying is you.” Otty mengutip lirik Forewing Affair-nya Tom Waits yang rilis tahun 1977.

Yang saya tulis di atas, adalah lirik yang menarik perhatian saya, sedangkan pokok yang digarisbawahi oleh Otty untuk meluaskan wacananya mengenai “weird loop” adalah bait terakhir lagu itu: “A foreign affair, juxtaposed with a stateside, and domestically approved romantic fancy, is mysteriously attractive due to circumstances. Knowing it will only be parlayed into a memory.”

Sementara itu, saya malah menawarkan konsep memetics kepada Otty, berharap itu bisa membantunya untuk mencari bingkaian yang tepat dalam mengulas film karya Alexander Cooper yang berjudul WeirdLoop.

 

Jakarta, 4 Agustus 2019, pukul 23:59 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: