005 – Membuka Buku

Si sosok besar —”Bukan! Sosoknya terlihat kecil sekarang!” kata Sarah dalam hati— duduk di sana, di ruangan di seberang dapur; dia sedang membuka-buka halaman buku.

“Itu buku kesayanganku!” kata Sarah. Tapi sosok yang membuka bukunya itu diam saja. Sesekali dia melirik, menggerak-gerakkan alis matanya saat melihat ke arah Sarah.

“Hei, itu bukuku! Jangan ganggu teman-temanku!” gertak Sarah, memicing mata galak.

Sosok itu memang diam saja, tapi terlihat benar-benar mengamati buku-buku Sarah. Dia membolak-balik halaman buku dengan tidak anggun sama sekali, tapi menyimak setiap kata dan gambar pada setiap halaman dengan begitu saksama. Sarah sebenarnya tahu, sahabat-sahabatnya tidak merasa terganggu sama sekali.

Di sana, di dunia buku, sahabat-sahabat Sarah hidup dengan gembira. Ibu yang pertama kali mengenalkan mereka: Si Kuda Nil, Si Gajah, Si Singa, Si Burung Gereja, dan Si Kukang.

“Nanti akan kukenalkan mereka lain waktu!” begitulah kata Sarah setiap kali ada orang yang datang ke rumah dan jika orang itu tertarik ingin mengenal sahabat-sahabatnya.

Tapi, sosok yang besar itu—”Ck! Bukan! Sosoknya sudah terlihat kecil sekarang!” gerutu Sarah lagi dalam hati—…Oke…, si sosok kecil itu, menurut Sarah, sudah begitu lancang. Dia menyapa sahabat-sahabatnya tanpa sedikit pun meminta izin kepadanya.

“Hei, ayo, sini!” kataku, kepada Sarah si mungil, tetapi ia tidak menyahut. Kakak lelakinya yang justru menyahut. “Kamu tahu siapa mereka?” tanya si kakak. Sejak usianya lebih kecil, aku tahu si kakak ini memang ringan suara, kadang-kadang lebih pas disebut “bermulut besar”. Tapi tak ada satu pun yang terganggu oleh kemulutbesaran anak kecil. Semua orang pasti menyenangi anak-anak kecil yang penuh semangat; aku juga.

Keringansuaraan si kakak, Aghy, namanya, adalah penanda betapa gemilangnya masa depan yang kini tengah menanti mereka. Sarah si mungil kiranya juga punya bakat yang sama. Tapi, sedari tadi, saat aku mulai mencoba membaca buku-buku yang terserak di samping alas tidur, Sarah tak henti-hentinya berseru-seru, “Aaa…! Aaa…!” sembari menunjuk-nunjukku dan menoleh berkali-kali ke ibunya.

Sekarang, saat si kakak sudah begitu nyaman duduk di sampingku—dia yang lebih bersemangat menceritakan tokoh-tokoh di dalam buku itu (dan hampir semua ceritanya menyimpang jauh dari apa yang tertulis di setiap halaman)—si mungil Sarah semakin cemberut. Iba sekali rasanya.

“Ayo, sini!” panggilku lagi. Namun, sama saja seperti semalam, jawabannya hanyalah…

“Maaa…!” Sarah menoleh ke Ibu untuk yang ke sekian kalinya. Ia ingin Ibu mengulangi kata-kata yang sudah diucapkannya berkali-kali, lebih keras: “Sosok kecil ini sedang mengganggu Si Kuda Nil, Si Gajah, Si Singa, Si Burung Gereja, dan Si Kukang, Maaa…!”

(Tapi semua orang juga tahu, Sarah pun tahu, kelima binatang itu sepertinya malah bersemangat melihat kehadiran si sosok besar ini—”Bukaaan! Sosoknya keciiiiiiil…!!!”—… Sarah marah). *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.