008 – Gajah dan Burung Kecapi

Suatu hari, Moetidjo bercerita kepada anak Semut Rangrang tentang gajah-gajah yang memakan burung kecapi di Australia. Di Afrika, entah apa lagi. Kepada Sarah, kisah yang sama diceritakan kembali oleh si sosok besar…

—”Hei! Aku sudah bilang, kan?!” Sarah menyela.

(‘Oh, ayolah, Sarah! Biarkan aku menyelesaikan paragraf itu dulu, setidaknya!’)

(“Tapi dia tidak besar…” kata Sarah, bertahan.)

(‘Baik, baik, baik! “Si sosok besar” ini sudah menjadi “si sosok kecil”. Begitu…?’)

(“Ya!” Sarah menjawab singkat, tegas, kemudian melipat kedua tangannya di dada. Sementara itu, si sosok kecil, yang sedang bercerita kepadanya, bertolak pinggang saja sembari menahan tawa.)

Jadi, cerita dari mulut Moetidjo dikisahkan kembali kepada Sarah, tentang gajah-gajah yang memakan burung kecapi. Di Afrika, entah apa lagi.

“Kenapa begitu?” Sarah bertanya dengan nada protes, bukan penasaran. Mungkin ia tak bisa membayangkan bagaimana peristiwa yang sama juga terjadi di antara para sahabatnya; bagaimana dua dari semua sahabatnya saling bertengkar; bagaimana yang satu bisa memangsa yang lain — Si Gajah memakan Si Burung Gereja? Itu tidak mungkin. Lagipula, ukuran Si Burung Gereja yang kecil tak akan cukup mengenyangkan perut Si Gajah yang besar.

Tapi burung-burung kecapi adalah jenis yang lain dari bangsa-bangsa yang bersayap. Mereka bukan jenis yang kerap bersiasat di antara awan yang sering kali tampak bersitumpuk itu.

Sedangkan tentang gajah yang memakan mereka, adalah kabar-kabar angin, sebuah memetika lisan, yang dibulatkan lewat bunyi, agar dapat ditangkap dan dipelajari oleh telinga yang menyimpangkan imajinasi hingga ke titik tak terduga.

Itu sebagaimana kerumunan burung kecapi jantan berpesta dan unjuk gigi di musim-musim kawin: bunyi-bunyi yang mereka tirukan agaknya merupakan cara menyapa yang menyertakan semilir angin yang berjalan melewati sela-sela ranting dan dedaunan hutan.

Dan cerita Moetidjo kepada anak Semut Rangrang, barangkali, mempunyai maksud yang sama.

“Tapi kenapa gajah memakan burung kecapi?” tanya Sarah. Ia mungkin merasa pertanyaannya belum dijawab.

Si sosok be… —Oh, maaf…!— si sosok kecil, ya, si sosok kecil…, yang berdiri bertolak pinggang di samping Sarah, sambil menggaruk-garuk hidungnya, lantas menelusuri layar sentuh di genggamannya, sebuah lempengan bercahaya; ia berusaha menerka jawaban untuk pertanyaan Sarah dengan bantuan kata-kata kunci yang kiranya bisa ditemukan dari telusurannya di hutan data. Tapi usahanya gagal. Pertanyaan Sarah sama rumitnya dengan Teka-teki Ikan Kaleng, sebuah teka-teki yang pernah disampaikan salah seorang teman dari anak Semut Rangrang. Nyatanya, si sosok kecil justru berharap jawaban dari Sarah.

Tapi Sarah dengan sekejap melupakan kehadiran si sosok kecil, dan juga melupakan pertanyaannya sendiri—mungkin ia sudah punya rencana untuk menanyakannya sendiri kepada Ibu dan Ayah, atau si kakak, nanti malam. Sarah malah kemudian berlari mengejar air mancur yang muncul dari bawah bumi beraspal di seberang sana, yang tampak lebih menggembirakan.

Langkahnya kecil-kecil, dan gesturnya yang penuh semangat itu belum banyak berubah dari apa yang kita lihat dulu di Suwon. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.