009 – Air Mancur dan Tentang Bermain Bola di Langit

“Lekaslah besar dan bisa berlari, agar kita bisa bermain bola di langit!” tulis Jean suatu hari, di atas kertas ucapan selamat ulang tahun, kepada anak Semut Rangrang. Begitulah kira-kira ucapannya, seperti yang kerap diceritakan Semut Rangrang kepada orang-orang yang ditemuinya, di mana saja, di setiap kesempatan, di kala topik obrolan menyinggung apa-apa saja pengalaman yang dirasanya manis dan menyenangkan untuk diutarakan.

“Aku juga sudah bisa berlari!” Sarah berseru.

“Bagus!” kata si sosok kecil. “Kau pasti juga bisa bermain bola dengan handal, karena ayahmu dulu adalah pemain bola amatir yang genial. Kalau kau suka, dan saat kau sudah setinggi anak Semut Rangrang, jadilah pemain bola!”

“Ya, dan kita bisa main bola di langit juga!” kata Sarah, melompat-lompat sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. “Kita ajak kakak, Ayah, Ibu, dan anak Semut Rangrang bermain bersama!”

Si sosok kecil menggaruk-garuk kepalanya, masih dengan gaya bertolak pinggang seperti biasa. “Aku tidak bisa main bola,” katanya kemudian. “Menonton pertandingan bola pun sekali-sekali saja. Aku suka berenang. Anak Semut Rangrang juga lebih sering berenang daripada main bola.”

“Aku dan kakak lebih suka air mancur,” kata Sarah.

“Kenapa?”

“Karena… whuuuuuusssss…!!!” Sarah menjawabnya dengan berlari, lagi-lagi meninggalkan si sosok kecil yang masih berdiri sambil mendelikkan matanya karena sedikit terkejut. Lalu, si sosok kecil tersenyum girang.

“Saaaaraaahh…!” dari seberang sana, si kakak memanggil. “Ayo, sini…! Air mancurnya sekarang lebih besar…”

Dari tempatku berdiri, aku melihat Sarah berlari mengitari air mancur itu. Tak hanya mereka berdua, ada banyak anak-anak yang lain seumuran mereka yang takjub dengan kehadiran air mancur yang sesekali muncul tiba-tiba, tapi lebih sering bersembunyi di bawah gorong-gorong yang penutup berjerujinya sedari tadi sudah dipukul oleh si kakak, layaknya seorang pawang atau wali yang berusaha berbicara dengan alam, memanggil mata air. Ketika air mancur itu muncul lagi, seketika kerumunan bocah yang menanti-nanti itu berseru, mengangkat tangan mereka ke atas, seakan-akan mereka adalah kerumunan peri hutan di negeri Bunyi-bunyian, yang konon ada di tanah melayu pada zaman dahulu kala, yang sedang menanti jawaban dari sang bumi.

Kemudian, Sarah berhenti di satu titik terdekat dari air mancur dan merentangkan tangan kanannya, mencoba menyentuh air yang terlihat seperti kaki-kaki gurita yang menelentang di lantai pasca-dipancing nelayan. Tangan kiri Sarah melambai-lambai ke arahku, lantas ia tersenyum—kini ia yang mengajakku bermain. Dia sudah tidak malu.

Percikan air akibat sentuhan tangannya pada air mancur itu menghasilkan butiran-butiran pelangi, menghiasi langit setinggi ubun-ubun dengan nirmana warna-warni yang bentuknya tak pasti. Di balik pelangi itu, sekelebat aku melihat Jean sedang menggiring bola entah ke mana. Awalnya, kukira itu halusinasi, tapi Sarah sepertinya melihat hal yang sama, karena ia kini melompat-lompat dengan lebih semangat, menunjuk-nunjuk langit, berusaha memberitahukan apa yang ia lihat kepada si kakak. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.