014 – Langit dan Laut; Tentara dan Burung Gereja

Seperti biasa, aku berdiri di ujung tangga kecil. Rumah ini rumah petak. Kecil sekali, sebenarnya. Tapi bagiku, dan juga bagi saudaraku (aku yakin sekali), ruang sekecil ini sudah lebih daripada istana. Aku bisa merasakan suasana yang penuh bahagia di antara mereka, di sini. Tapi, suasana itu juga bercampur aura kerinduan terhadap bumi pertiwi. Aura itu terasa paling kuat di saudaraku sendiri.

Nah, sekarang aku malah menatap langit. Entah apa pula maksud bocah itu, menyeru-nyeru ingin bertemu langit…?! Kurasa, permintaannya akan menimbulkan gonjang-ganjing yang membuat geli orang tua mereka. Mereka tidak tahu saja, betapa konyolnya dulu kami bertiga bermain di halaman belakang rumah, membuat senjata mainan dari pelepah pisang, dan bercita-cita ingin menjadi tentara—tapi sekarang aku tak suka tentara karena terpengaruh oleh cerita sejumlah teman yang punya pengalaman pahit dengan mereka. Berurusan secara administratif dengan tentara pun, aku tak pernah, apalagi beradu fisik. Temanku pernah berkelahi dengan…, bukan tentara, sih, tapi polisi. Kepalanya dipentung gara-gara membela kaum pedagang yang pada suatu hari sedang terancam akan digusur dari stasiun kereta.

Apakah kedua bocah itu tahu kalau sewaktu kecil ayah mereka malah bermimpi ingin ke laut, bukan langit? Ayahnya ingin menjadi tentara angkatan laut. Akulah yang bercita-cita ingin menjadi tentara angkatan udara, sedangkan saudaraku yang satu lagi bermimpi ingin jadi tentara angkatan darat. Atau jangan-jangan, itu alasan mengapa si gadis mungil, yang sekarang sedang melompat-lompat di dalam kamarnya, meminta bantuanku untuk membuat temannya bisa terbang? Alah, mak, jang! Ada-ada saja!

Mendongakkan kepala justru membuatku ingat Shikamaru yang begitu mengenal awan. Baginya, awanlah yang paling damai di dunia ini. Awan seakan menyetujui kita yang bermalas-malasan. Tapi aku tahu dengan pasti, pikiran Shikamaru tidak semalas gelagat fisiknya. Justru, karena pikirannya begitu rajin, ia kemudian jatuh hati kepada awan.

Dan dari penampakan awan itu, pikiranku melayang ke sebuah footage yang dipungut si sutradara, bernama Peter Snowdon, dari lautan arsip dunia maya, yang di dalam footage itu kita bisa melihat sorak-sorai para revolusioner yang tengah menantang tentara. Sekelebat kita akan melihat tiga-empat pesawat tempur membelah langit, diikuti oleh segerombolan burung yang terbang membentuk formasi tak kalah gagahnya. Tapi, lagi-lagi, kerumunan itu bukan kerumunan burung gereja. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.