015 – Inilah Si Sosok Kecil Itu

Ibu yang sedang sibuk menumis bawang dan cabai, untuk kemudian dituang tiga piring nasi, sesekali menyimak suara Sarah yang riang ditemani oleh teman barunya. Sudah beberapa hari teman baru Sarah itu tinggal di rumah mereka. Dia datang dari Seoul usai bertemu dengan seseorang yang istimewa, katanya. “Dia itu orang penting di sini!” teman baru Sarah itu menerangkan di malam pertamanya tiba di rumah. Ibu sudah mencari tahu, sedikit, dan konon orang penting yang dimaksud itu adalah dia yang kembali mengisahkan tragedi Jeju.

Ibu juga ingat, dulu sekali, teman baru Sarah itu pernah berbincang dengan suaminya ketika mereka belum menikah, di Depok. Dalam perbincangan dua bersaudara itu, suaminya mengomeli teman baru Sarah karena tak juga berhasil menghilangkan ketakutannya terhadap gertakan senior-seniornya di kampus. Dengan lagaknya yang agak menyebalkan, suaminya itu bilang, “Aku saja tak takut melawan tentara!” Pernyataan itu agak dilebih-lebihkan, sebenarnya.

Sarah yang riang, suaranya hanya terdengar, “Aaa…! Aaa…!” Tapi teman baru Sarah itu berusaha untuk mengerti apa gerangan yang sedang diceritakan Sarah, dan dia hanya mampu menanggapi, berkali-kali, dengan pertanyaan, “Apa itu…? Gajah…?! Iya, gaaajah…!”

Lalu, Sarah berdiri dan berjalan ke kamar, membangunkan si kakak. Seperti biasa, jika sedang akur, rumah ini pasti heboh. Sarah dan Aghy akan membuat rumah ini segera berantakan. Teman baru Sarah, seperti mendapat kesempatan untuk membebaskan diri dari rewelnya Sarah (yang sudah tidak malu-malu bermain dengan pamannya), segera bergegas mengambil jaket birunya, menuju ke luar rumah. Sama halnya dengan kebiasaan si suami, kalau sudah mati gaya seperti ini, tamu mereka itu lebih memilih melawan dingin hanya untuk menghisap rokok sebanyak yang mampu dihisap sebelum angin di Suwon memaksanya untuk masuk kembali ke dalam rumah.

“Ah, ya! Anak-anak harus mandi dulu sebelum sarapan!” kata Ibu dalam hati. Setelah ia menutup hidangan nasi goreng itu di bawah tudung mungil yang ia bawa dari Bogor, ia pun segera menghimbau kedua anaknya untuk bergegas mandi. Dengan cekatan ia melepas baju Sarah—si kakak sudah pandai melepas bajunya sendiri. Mereka bertiga kemudian berbondong-bondong ke kamar mandi, diiringi teriakan Sarah yang begitu semangat. “Apa gerangan yang menjadi agenda kedua malaikat kecilnya sekarang…?” sekali lagi, Ibu bertanya dalam hati. 

Ayah akan pulang lebih cepat hari ini karena berjanji akan mengajak mereka berjalan-jalan. Soalnya, tamu mereka, teman baru Sarah, adik kandung suaminya, dua hari lagi akan kembali ke Jakarta. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.