018 – Berkenalan dengan Si Burung Tukan

Mereka bertiga—Sarah, Aghy (kakaknya), dan si sosok kecil—diam sesaat. Telunjuk si kakak masih mengarah ke Si Burung Tukan sementara kepala mereka bertiga mendongak memperhatikannya. Sarah dan si kakak melihat dengan mata berbinar-binar dan senyum lebar. Tapi seketika si sosok kecil tersadar dari ketakjuban yang hanya berselang selama beberapa detik itu. Lalu ia menoleh dari Sarah ke Aghy, lalu ke Sarah lagi, ke Aghy lagi; berkali-kali. Ia lebih takjub dengan ketertarikan kedua bocah itu kepada Si Burung Tukan. Sementara itu, dari atas kusen pintu, burung tersebut masih memperhatikan mereka dengan saksama.

Seiring si kakak menurunkan tangannya, dengan mulut ternganga karena kagum, Si Burung Tukan mengepakkan sayap—sayap kanannya tidak membentang seutuhnya karena tampak sedang menggenggam sebuah buku gambar dan alat tulis. Awalnya, mereka bertiga mengira akan menyaksikan sebuah aksi pertunjukan “terbang yang cantik” dari Si Burung Tukan. Nyatanya, tidak demikian. Si sosok kecil malah menepuk jidatnya karena terpaksa menyaksikan Si Burung Tukan yang malah terpeleset ketika melompat dan tubuhnya terjatuh ke bawah menimpa bantalan rumput—untung saja rumput itu tebal dan sepertinya empuk.

Sarah ingat, Ibu pernah berkisah pada suatu malam ketika ia dan kakaknya masih menunggu kedatangan Ayah. Kata Ibu, burung tukan adalah binatang berparuh cantik, tapi penerbang yang buruk. Tapi jenis burung ini tidak sebodoh kelihatannya. “Kelak, kalau kamu bertemu salah satu dari mereka, kamu akan mendapati kejutan-kejutan!” kata Ibu. Kisah tentang burung tukan itu tidak hanya diceritakan sekali; Sarah ingat betul bahwa Ibu sudah menceritakan tujuh kisah tentang burung tukan. Tidak jarang pula, Sarah meminta Ibu mengulangi semua kisah itu dari cerita yang pertama hingga ketujuh, dalam satu malam.

Sarah segera berlari mendekati Si Burung Tukan yang berusaha berdiri, mengeluh kesakitan—walau tidak sesakit yang dikira karena rumput yang ia timpa sungguh nyata empuknya—dan menepuk-nepuk pinggang serta ekornya yang ramping. Tak lupa, ia juga mengusap paruhnya yang cantik itu. “Huft!” gerutunya. Lalu dia menoleh ke kanan dan ke kiri, melompat-lompat, mencari-cari buku gambar dan alat tulisnya. Sarah sangat cekatan; ia memungut buku gambar dan alat tulis itu dan memberikannya kepada sang pemilik ketika ia menghampiri Si Burung Tukan.

“Kau baik-baik saja?” tanya Sarah, sambil menyerahkan buku gambar dan alat tulis milik Si Burung Tukan.

“Ya, tidak apa-apa!” jawab Si Burung Tukan. “Aku sudah terbiasa jatuh. Aku memang tidak piawai terbang, tapi lompatanku lebih bagus dari burung mana pun.”

Aghy dan si sosok kecil juga datang mendekat, menghampiri mereka.

“Dia tidak sakit, kok!” kata Sarah, ketika menyadari kakaknya dan si sosok kecil datang mendekat.

“Kau suka menggambar?” tanya si kakak.

“Oh, ya!” jawab Si Burung Tukan. Kali itu, dadanya membusung. “Aku bisa menggambar apa saja yang ingin kugambar.”

“Kau mau membantu kami, kan?” tanya Sarah.

“Oh, ya!” jawab Si Burung Tukan. Kali itu, dia membusung dada dua kali lebih busung daripada sebelumnya. “Aku bisa membantu siapa pun yang butuh bantuanku.”

“Kau bisa membantu Si Gajah, teman kami, terbang…?”

“Oh, ya!” jawab Si Burung Tukan. Kali itu, dadanya membusung jauh lebih membusung daripada dua busung dada sebelumnya. “Aku bisa mengajarkan bagaimana caranya ter…” Si Burung Tukan terdiam — dia, kan, bukan si jago terbang…

Sarah dan si kakak juga ikut diam, menanti lanjutan jawaban Si Burung Tukan. Karena burung itu masih diam, mereka pun menoleh kepada si sosok kecil, yang sedang berdiri bertolak pinggang dengan satu tangan sementara tangan yang satu lagi menggaruk-garuk hidungnya. Mereka menanti satu saran, barangkali?

Siang itu, aku senyum-senyum sendiri memperhatikan Sarah dan Aghy, kakak laki-lakinya, bercengkerama ria sekaligus serius, seakan berdiskusi berat, ketika menemukan ada seekor burung tukan terjatuh tidak sengaja di depan pintu rumah mereka. Mereka menoleh ke arahku, seakan-akan memberi tahu bahwa burung itu adalah jawaban dari rencana-rencana gila mereka yang, sampai detik ini, kucoba untuk selami. Sementara, Ibu kedua bocah itu masih sibuk menyiapkan makan siang.

Langit Suwon terlihat cerah, tapi suhunya dingin dan angin yang berhembus masih membuat pipiku perih. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.