020 – Mesin Sayap ala Si Burung Tukan

Begitulah Sarah, bocah mungil yang sejak hari itu aku percaya memiliki karakter yang selalu antusias terhadap hal-hal baru. Ia duduk sejak pagi di depan sangkar baru yang dibelikan ayahnya kemarin sore untuk seekor burung yang mereka temukan tidak sengaja kemarin siang di depan pintu rumah. Tak ada satu pun di antara kami, orang dewasa di lingkungan perumahan ini, yang tahu apa jenis burung itu meskipun Sarah percaya, seperti yang aku duga-duga dari kemarin, kalau itu adalah burung tukan. Aku sendiri mulai meragukannya.

“Nanti akan kucoba tanya ke orang-orang di kampus,” kata Ayah Sarah kepada Ibu, kemarin sore, waktu berusaha memasukkan si burung tukan ke dalam sangkar. “Mungkin saja burung ini tersesat atau kabur dari laboratorium…”

Dan si burung tukan pun ikut bermalam bersama kami, mengejar lelap sembari waspada dengan angin-angin di Suwon. Kalau aku tidak salah ingat, burung ini beberapa kali mengepakkan sayap, seakan berusaha menarik perhatianku. Tapi, burung jenis apa pula yang mau mengajak orang asing berbincang. Burung itu jelas sekali bukan satu jenis dengan burung merpati ataupun burung beo. Hanya burung tukan yang paling mungkin, meskipun aku mulai meragukannya.

Dan ketika pagi hari, Sarah bangun dengan riang gembira dan raut muka yang berbeda. Ya, pagi hari itu, ada hal yang membuatnya penasaran: seekor burung tukan aneh dari alam antah-berantah yang membuat bingkaian memoriku, nantinya, menjadi semakin absurd.

“Kalau begitu kau harus segera pulang, ya!?” kata Sarah, setelah mendengar kisah panjang Si Burung Tukan, tentang alasannya mengapa secara tiba-tiba muncul di atas kusen pintu rumah mereka.

“Sekarang, ceritakan padaku tentang Si Gajah!” kata Si Burung Tukan. “Mengapa dia ingin terbang?”

“Dia ingin bertemu Langit!” jawab Sarah. “Si sosok kecil bilang, konon gajah-gajah bisa terbang kalau kita bisa membuatkan mesin sayap untuk mereka. Kau tahu itu?”

“Ya, itu benar sekali!” kata Si Burung Tukan. “Aku tahu karena mendengar obrolan kalian bertiga kemarin. Mesin sayap yang terbuat dari ranting pohon jati yang dipadukan dengan bulu angsa, adalah yang terbaik.”

“Tapi, kakak bilang, di sini tidak ada ranting dan bulu angsa,” kata Sarah, mengeluh. (‘Kakakmu tahu dari aku, bodoh!’ Si Burung Tukan berkata dalam hati.)

“Sebenarnya, kalian bisa membuatnya dari jeruji kipas angin dan plastik kresek,” kata Si Burung Tukan.

“Ya, kami sudah mengumpulkannya, tapi kami tidak tahu cara merakitnya.”

“Kasihan sekali kalian ini!” Si Burung Tukan berkata sambil menggelengkan kepala. Sedetik kemudian, buku gambar dan alat tulisnya muncul dari balik sayapnya yang sebenarnya tidak terlalu besar. Dia menggambar cepat sekali.

Aghy tiba-tiba datang bersama Ayah. Mereka baru saja pulang dari suatu tempat. Ayah mereka—laki-laki tampan yang perutnya mulai buncit, tapi tetap bisa bergerak sigap sebagai seorang yang masih muda, meskipun pembawaannya sudah sangat kebapakan—bergegas melangkah menuju kamar, menemui Ibu yang sedang menyeterika baju. Aghy segera duduk di samping Sarah—gadis mungil itu acuh tak acuh ketika kakaknya menghampiri.

“Apa kabarmu hari ini, hei, Burung Tukan?!” tanya si kakak. Si Burung Tukan tidak menjawab, begitu juga dengan Sarah yang diam saja mengamati si burung yang sedang menggambar. Si kakak pun ikut diam, kemudian dia mengambil posisi duduk bersila seperti Sarah, mengamati Si Burung Tukan. Mereka diam cukup lama; begitu khidmat.

Tidak lama kemudian, Si Burung Tukan menyobek selembar halaman dari buku gambarnya, dan menunjukkan hasil yang baru saja ia gambar. “Kalian harus membuatnya seperti ini!”

Aku baru saja akan terlelap sebelum sedetik kemudian terjaga kaget, karena dua bocah itu—Sarah dan Aghy—lagi-lagi melompat-lompat riang. Burung yang ada di dalam sangkar itu juga melompat-lompat. Sangkar itu, yang digantung di atas rak sepatu yang mengantarai kamar tidur Sarah dan ruang tengah (tempat di mana aku biasa tidur beberapa hari ini), bergoyang-goyang pelan. Entah karena goyangan yang disebabkan oleh lompatan kedua bocah itu atau karena burung di dalamnya yang juga melompat dengan tak kalah heboh, sangkar itu tampak kian ringkih dan pengait kunci pintunya mulai melonggar. Aku pun mulai khawatir burung itu akan kabur. 

“Dia pasti sudah tak betah,” ujarku dalam hati. “Mana mungkin burung tropis bisa hidup di negeri empat musim?!”

Aku duduk dan melihat mereka. “Aaa…! Aaa…!” Sarah berlari ke arahku, dengan langkah kakinya yang kecil-kecil itu. Tangan kanannya menunjuk-nunjuk sangkar dan burung yang ada di dalamnya.

“Iya…!” sahutku. “Itu buuurung…!” aku mencoba menjelaskan.

“Aaa…! Aaa…!” kata Sarah, matanya terbuka demikian lebar, keningnya juga semakin lebar. Dia sedang menjelaskan sesuatu kepadaku.

“Ayo, kita harus buat mesin sayap sekarang!” tiba-tiba si kakak menarik-narik tanganku, mengajakku segera keluar rumah.

Aduh…! Kenapa lagi kedua bocah ini…? *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.