021 – Ambang Kesadaran di Senja Hari

Meskipun mereka sudah mendapatkan petunjuk dari Si Burung Tukan, merakit mesin sayap untuk Si Gajah ternyata tetap tidak mudah. Petunjuk dari burung itu sebenarnya masih sangat kurang. Ia hanya memberikan sebuah gambar yang menunjukkan bentuk mesin sayap yang seharusnya mereka buat. Tidak ada keterangan apa pun di gambar tersebut. Selain itu, soal anjuran si burung agar Sarah dan si kakak menggunakan jeruji kipas angin, kabel-kabelan, sarung bantal, dan plastik kresek, kebenarannya juga masih diragukan. Benda-benda itu, kalau dirujuk ke cerita-cerita fantasi, biasanya jarang digunakan oleh para pengarang sebagai simbol berkekuatan gaib.

Hari sudah sore. Kelihatannya, Sarah tidak terlalu memusingkan Si Burung Tukan yang menghilang dari sangkar. Beberapa menit yang lalu, Ayahnya panik karena burung itu hilang dari sangkar. Ibunya juga ikut-ikutan panik. Seolah-olah kedua orang tua itu telah kehilangan harta karun yang baru saja mereka temukan. Sedangkan Sarah dan kakaknya, mereka santai saja menghadapi situasi itu; mereka sepertinya tahu ke mana kiranya Si Burung Tukan pergi dan tidak khawatir sama sekali dengan keselamatannya.

Sementara, aku semakin yakin bahwa aku sedang berada di alam mimpi. Sarah pasti sedang terlelap di kamarnya, dipeluk oleh kakaknya. Ayah dan Ibu mereka juga pasti sedang mendengkur di kamar yang berbeda. Aku, pastinya, sekarang ini berada di bawah selimut. Buku-buku cerita milik Sarah yang kubaca pasti terserak di sebelah alas tidurku. Sampai di sini, aku cukup takjub karena ternyata buku-buku cerita itu bisa memengaruhi alam bawah sadarku hingga imajinasinya menyusup ke dalam mimpi ini, sekarang.

Ya, sekarang ini aku pasti sedang bermimpi. Mana mungkin seekor burung tukan bisa hidup di Korea?!

“Aduh!” si sosok kecil berteriak, kaget, tersadar dari lamunannya, kemudian mengeluh kesakitan karena tulang keringnya dibentur sesuatu. Dia melihat ada sebongkah batu yang baru saja tergeletak di dekatnya. Batu itulah yang membentur tulang kering kaki kirinya. Batu itu sengaja dilempar oleh…

“Hei, Aghy!” seru si sosok kecil, sedikit kesal. “Mengapa kau lempar batu itu?”

“Kamu sedang apa di situ?” tanya si kakak.

Si sosok kecil pun melihat ke sekelilingnya. Ekspresi wajahnya seakan tak percaya, bahwa lingkungan fisik yang ada di sekitarnya terasa begitu nyata. Bukan mimpi.

(‘Yah, mengapa dia sekarang terlihat begitu tolol?!’ Sarah, yang memperhatikan mereka dari jarak yang lebih jauh, menepuk jidatnya ketika melihat reaksi di wajah si sosok kecil yang kebingungan.)

“Sarah…?” si sosok kecil kemudian menyadari keberadaan Sarah; gadis mungil itu sedang berjongkok di dekat sebuah tumpukan barang-barang; susunan tumpukannya mirip patung-patung di Junkopia—tampak lebih seperti rongsokan daripada patung yang cantik.

“Kalian…? Mengapa masih di sini?!” seru si sosok kecil kemudian. “Hari sudah sore. Ayo, kita masuk! Ayah dan Ibu kalian pasti sudah mencari-cari kalian dari tadi…”

Mereka bertiga sedang berada di balik pagar kayu yang membatasi jalan setapak di depan rumah dan sebuah bilik yang biasa digunakan oleh orang-orang setempat untuk merokok.

“Kita harus menyalakannya sekarang juga!” kata Sarah, menunjuk patung rongsok yang ada di depannya.

“Wah, itu…?!” si sosok kecil terbelalak, karena menyadari kalau patung itu adalah mesin sayap yang mirip dengan gambar yang dibuat oleh Si Burung Tukan jadi-jadian. “Kenapa bisa…?!”

Tidak menjawab pertanyaan si sosok kecil, kedua bocah itu malah tersenyum menyeringai, demikian girang (atau justru mengolok-olok?) sementara si sosok kecil merasa kalau dirinya sedang dikerjai oleh mereka berdua.

Di Suwon, senja tampak sangat ambigu. Tidak ada suara di langit yang menandakan ambang batas antara Ashar dan Maghrib. Sebelum menyiapkan diri masuk ke dalam rumah bersama kedua bocah itu, aku membingkai keriangan mereka dengan kamera ponsel. Sekelabat gagasan melintas di pikiran, bahwa kiranya mimpi tak melulu hanya menghampiri manusia dalam keadaan mendengkur. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.