022 – Melompat ke Kajang Lapuk

Lumayan susah juga membujuk kedua bocah itu agar mau masuk ke dalam rumah mereka. Udara dingin di Suwon menjelang senja, hari itu, benar-benar membuat pipiku perih. Apakah Sarah dan Aghy tak merisaukan keperihan yang sama di pipi mereka? Sejak awal bertemu, aku mengira daging-daging mereka nantinya akan menjadi daging masyarakat kota ini. Tapi agaknya dugaan itu akan meleset karena kusempat mendengar rencana ayah mereka untuk pindah selamanya dari Korea ke Jakarta. Aku cukup menyayangkan, sebenarnya, ketika saudaraku itu mengambil keputusan untuk tidak meniti karir Doktor-nya di Negeri Ginseng.

Adakah kita masih perlu percaya kepada “lembaga unggul yang sebenarnya tak unggul” di kampung sendiri? Ayah Sarah, sepertinya, menjawab, “Ya.”

Melangkahkan kaki terakhir dari sepetak pasir basah di depan pintu rumah, lantas mengesatkan tapak sepatu di “keset bukan selamat datang”—karena memang tak ada kata semacam itu terpampang di keset polos berwarna biru milik rumah sederhana berruang tiga yang kami masuki—ingatanku justru melompat ke masa depan. Seberapa jauh…? Satu tahun dua bulan kemudian; ke sebuah peristiwa kecil di atas berugaq, di antara gedung retak yang saling bertetangga, di desa Kelinti Capung, di bagian tenggara negeri kita. Aku melihat cengkerama dua bocah yang lain: Lili dan Wafda.

Suatu ketika selepas makan siang, kami duduk di antara burung dan ayam, sapi dan kambing, meski bukan di antara buruh dan sayur, petani dan ikan. Sanggar dan sangkar…? Mungkin nanti. Yang jelas, menurut ceritanya, entah ilham dari manalah datangnya, aku seakan dibisikkan informasi bahwa jawaban dari pertanyaan Sarah dan kakaknya ada pada dua gadis kecil yang mengemban energi siq-siq o bungkuk itu.

Tentang desa yang menilai ulang siq-siq o bungkuk-nya pada masa surutan ini, sebenarnya, telah ditulis ke dalam bingkaian yang lebih baru oleh si Semut Rangrang. Beberapa bulan sebelum si sosok kecil bertemu Sarah di kampus Ajou, mitos energi itu pun juga coba dikisahkan kepada Suitcasekid dan Pascalita walaupun, kukira, mungkin hanya Kalmirama yang mengerti semuanya.

Di Kelinti Capung memang tidak ada sejarah tentang gajah terbang. Karena bunyi serangga pohon lebih nyaring daripada petuah burung-burung, dan lonceng di leher sapi-sapi berdentang segan-segan di sela-sela lolongan anjing-anjing liar dini hari di dekat pantai, kenyataan dongeng di desa itu justru lebih berarti dibandingkan tabulasi metodologis orang-orang berwibawa.

Dan tahukah kau, Sarah, aku baru mampu memilah kejadian-kejadian tersebut, untuk diceritakan kepadamu, pada seratus enam puluh delapan hari kemudian, setelah aku membuat dan membagi-bagikan catatan tentang percakapan kita yang terakhir kali…?

Pada suatu sore, dua hari setelah aku melihat Lili dan Wafda, kurang dari dua puluh menit menjelang isin angsat digaungkan lagi, enam ekor ayam masih memburu remah-remah nasi yang berserakan di lantai tanah dapur yang tampak ringkih dari balik pintu huntara, namun kokoh di hadapan rintik hujan. Sekilas, kulihat seorang pemuda, yang kerap mencoba mengejangkan tradisi yang lapuk di bagian barat negeri kita, memasuki dapur yang terlihat bak kajang lapuk di tengah hari yang lembab, pasca-gerimis yang belum sepanjang tahun. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.