023 – Tepukan di Paha Ayah

“Heeeiii…!” Lili berseru, sambil berlari. Ia dan Wafda sedang berlari-larian di halaman rumput, di depan sebuah gedung olahraga, tempat dua huntara mungil didirikan entah untuk berapa lama. Tanah yang mereka injak tampak kering, mungkin karena matahari begitu terik. Padahal, kemarin, hujan cukup lama bertahan merintik di desa Kelinti Capung. Walau turunnya segan-segan, sang gerimis sudah bisa membuat tanah dan udara yang menampungnya kedinginan, dan tiga-empat manusia yang semalam ada di sana juga ikut merasakan.

Sedang hari di saat Lili berlari menerjang ayahnya itu, matahari bersinar lebih semangat daripada semestinya. Sekitar satu jam setelah tengah hari, waktu itu.

Aku memperhatikan (dan kemudian terus saja memikirkan) betapa Lili bisa bersikap begitu santai dan berekspresi demikian lepas di hadapan ayahnya. Bagiku, situasi semacam itu justru sebuah berkah bagi si gadis kecil yang enerjik ini.

“Hei!” teriaknya sekali lagi, sementara langkahnya semakin tegas. Tap tap tap; ia berjalan mantap, mendekati ayahnya yang duduk tepat di depanku, asyik bercakap-cakap.

Awalnya kukira ia akan bercerita kepada ayahnya tentang Wafda, karibnya, yang tadi siang menemaninya duduk di depan pintu belakang huntara sambil penasaran menunggu Polla selesai membuatkan sketsa tinta cina untuk mereka. Atau, mungkin ia akan bersembunyi di balik punggung ayahnya, menghindari kejaran Wafda lantas menjulurkan lidahnya untuk memprovokasi teman sepermainannya itu agar bisa mengejarnya dengan lebih sigap—tapi aku tahu ketangkasan mereka berdua sama imbangnya.

Yang kulihat, justru: Lili menepuk keras tangan kanannya ke paha ayahnya yang mengenakan celana pendek. “Hehehe!” tawanya kemudian, cukup nyaring, dengan senyum lebar dan gigi-gigi putihnya yang kelihatan, matanya seakan terpicing; ia ternyata menggoda ayahnya, temanku, yang sesaat kemudian menghentikan ceritanya sejenak dan menoleh ke Lili, membalas godaan si anak dengan senyuman yang tak kalah lebar.

Lalu, Lili kembali berlari menjauhi sang ayah, menghampiri Wafda yang juga sedang berlari ke arahnya. Ketika mereka bertemu di satu titik, kedua tangan mereka saling menepuk. Adegan itu memuncak di tawa mereka.

Kejadian itu sederhana lagi singkat, namun sempat mengasingkan pikiranku dari inti cerita yang sedang dikisahkan ayah Lili yang masih ingin bercakap penuh semangat, dari sayup-sayup angin yang sedikit melegakan kulit, dari tatapan sapi-sapi yang sedang mengunyah rumput (yang hingga sekarang aku tidak mengerti apa arti tatapan mereka), dan dari bunyi-bunyi kuali di dapur tetangga yang beradu dengan bunyi mesin penyedot air di dapur kami, juga dari aroma rokokku sendiri.

Aku bahkan harus tergopoh-gopoh menelusuri kembali alur cerita temanku itu—tampaknya ia tak menyadari momen sinematisku yang terjadi sangat sesaat. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.