024 – Mengaum Wafda di Tengah Hari

Konon, Wafda mendapatkan apa yang Wafda mau. Mungkin tidak selalu begitu. Tapi, karena lima orang perempuan dewasa yang sering ada di sekelilingnya melihat kejadian itu tidak hanya sekali, mereka berkata kepadaku, “Wafda mendapatkan apa yang Wafda mau.” Bunyi suara mereka mencampurkan pujian dan kritik, tapi dalam hari-harinya kalimat mereka berfungsi sebagai harapan sekaligus terkaan masa depan.

Saat hujan turun di desa Kelinti Capung, tiga hari setelah obor dermaga dinyalakan selama tak lebih dari enam jam pada suatu malam yang oleh media massa nasional secara keliru dikabarkan sebagai malam seribu cahaya, suara-suara mereka tertawan di alam jeda, begitu juga dengan bunyi dapur dan bocah-bocah jenaka, tapi tidak untuk suara tendangan bola.

“Aaaaaargh!” Wafda berusaha menahan gerutuan; ia mencampur bunyi gemeretak gigi dan geraman. Ia duduk gelisah di atas berugaq; kakinya yang masih pendek menggantung di atas tanah yang becek. Matanya memicing tajam. Kedua tangannya dengan gemas mencengkram kepala. Lalu, masih belum menghentikan geraman, ia menjambak rambutnya sendiri; jemari mungilnya menarik-narik berhelai-helai rambut tipis itu ke udara, tinggi-tinggi. Ekspresinya justru tampak lucu dan jauh dari nuansa yang mengerikan.

Kira-kira seminggu sebelum sebuah perahu marinir membawa empat pendendang sejarah desa melintas sepintas di atas laut menuju dermaga, Wafda pernah jengkel karena sebuah ingatan melarikan diri dari pikirannya. Yang tersisa hanya kata-kata hutan, harimau, dan buaya. Ia sudah bertanya kepada orang-orang dewasa, tetapi tak ada satu pun yang tahu ke mana ingatannya itu lari bersembunyi.

Wafda ingin mendapatkan kembali ingatan tentang nama sebuah lagu. Karenanya, ia menggeram. Ujung lidahnya sungguh sulit mengingat gerakan yang bisa menghasilkan bunyi-bunyi dari Barat, itu sebabnya ia menjambak rambut. Ayah dan ibunya tidak mengenal suara harimau ataupun buaya yang ia coba jelaskan maka jemarinya menarik-narik rambut ke udara, tinggi-tinggi. Hutan di balik kebun di belakang rumahnya pun enggan bernyanyi lagi, jadi wajar saja ia menolak menjawab pertanyaanku tentang legenda gajah terbang.

“Bagaimana kalau kita menggambar saja?” tanyaku, keesokan harinya. Saat itu, Wafda berjalan dengan riang gembira melewati halaman rumput di depan huntara. Di belakangnya, Lili mengikuti, melihatku dengan tatapan curiga. Aku sedang berjongkok, merokok, dalam posisi yang goblok, di atas teras huntara yang nyaris bobrok. “Aku punya banyak pensil lilin berwarna-warni untuk kalian,” kataku lagi, merayu.

Wafda berhenti sebentar. Ia menoleh ke belakang, meminta pendapat Lili. Karibnya itu melangkah lebih cepat, mendekatinya, lantas bersembunyi di balik bahunya sembari melemparkan senyum jahil. “Gambar apa?” tanya Wafda kemudian kepadaku.

“Gajah terbang!” jawabku bersemangat. Sesaat, muncul harapanku bahwa kedua bocah ini akan memberikan jawaban yang bermanfaat.

“Nggak mau!” sergah mereka berdua, serentak.

“Mengapa?”

“Kue saja!” kata Wafda.

“Kue?” tanyaku bingung.

“Ya, gambar kue saja!”

“Dan bebek,” Lili menimpali.

“Mengapa kue dan bebek…? Gajah terbang saja!” aku masih belum mau mengalah.

“Nggak mau! Kue saja, bebek juga. Bebeknya makan kue,” kata Wafda, sembari melangkah mendekatiku dengan hentakan kaki yang keras dan kedua tangan di pinggang.

“Oke, kita menggambar bebek yang makan kue,” kataku, waspada. “Tapi setelah itu kita menggambar gajah terbang, ya…?!” dengan cepat aku melanjutkan kata-kata.

“Kalau tidak mau menggambar kue dan bebek, ya, sudah!” kata Wafda tak acuh, melangkah mundur mendekati Lili.

“Oh, baiklah! Nanti sore kita menggambar bebek makan kue,” tanggapku, mengalah.

Tapi rencana itu tak pernah terjadi karena sore harinya Wafda justru pergi mengaji sementara Lili menyeberang ke Gili.

“Sudah kau ingat judul lagu itu?” tanyaku, sesaat sebelum kedua bocah pergi meninggalkan halaman rumput depan huntara.

Wafda mengangguk, dan mengaum.

Aumannya adalah jawaban untuk pertanyaanku.

Wafda mendapatkan apa yang Wafda mau. Aku jarang bisa begitu.

Tatkala mereka sudah berada jauh di seberang sawah, aku mengulang syair yang dinyanyikan empat pendendang sejarah desa: “Pong pang kelinti capung, umba anak tengari desa…” *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.