025 – Langkanya Petuah Burung di Desa Kelinti Capung

Hari ini hujan turun lagi di desa Kelinti Capung. Semalam, hujan pun betah menyisir bumi hingga senja digantung.

Angin bertiup kencang di atas tanah-tanah basah; ada banyak orang merasa tak nyaman melangkah. Tanah yang dahulunya petakan sawah itu telah menjadi lahan bersemak yang disesaki bangunan-bangunan kayu, ada yang terlihat rapi sebagai kediaman mewah di antara sampah, ada juga yang sungguh ringkih bak gunungan sepah tak berlembah. Melalui celah pintu belakang huntara yang tidak sebuah, terdengar embikan kambing dari balik kebun pisang di seberang parit kecil yang penuh dengan rerumputan kering, botol-botol plastik, dan rongsok pecah-belah. Daun pintu depan huntara-huntara itu bergerak ke sana kemari, dipermainkan angin, menghentak-hentak pada ambangnya yang kuyup karena tempias dari langit yang berkeluh kesah.

Di dalam salah satu huntara, aku berbaring di atas lantai semen beralas kain hijau, menatap ujung batang kelapa yang mengantarai pepohonan pisang itu. Nyaris mendekati parit, seorang lelaki muda bertelanjang dada berjalan pelan membelah area pandangku; tangan kanannya memikul karung berisi rumput sementara tangan kiri menjinjing celurit berjumlah lebih dari satu. Hujan dan angin mendorongnya pulang malu-malu. Saat ia lenyap dari pandangan, area tanah bekas sawah ini kemudian sepi, lalu membisu di hadapan udara yang terus saja menggerutu. Jikalau anak-anak burung hanya menciak di kala terik matahari, adakah burung-burung dalam legenda-legenda besar juga berhenti bersuara di waktu yang sendu?

Aku merasa langit menjadi tak sabar melihatku yang mulai tampak pasrah. Sementara itu, kukira gajah terbang hanyalah fiksi dari fiksi dalam fiksi dari fiksi dalam fiksi yang dipercaya sebagai sejarah. Sampai detik ini, belum juga kutemukan cercah yang bisa dilihat sebagai jawaban untuk Sarah. Bocah perempuan itu—dan kakak laki-lakinya—mungkin belum benar-benar mengenal gelisah, berbeda dengan ibu dan ayahnya yang, satu minggu sejak insiden hilangnya seekor burung tukan yang mereka temukan di halaman rumah, masih menyisakan gundah di wajah. Langit melihat kegulanaanku sebagai bagian dari perihal untuk harus merasa bersalah.

Persoalannya sekarang, mengapa aku mesti ikut-ikutan memikirkan nasib Si Gajah? Dan apa pula alasan Langit ini menambah-nambah masalah…?

Hei, Langit, kalau memang kau adalah dia yang menurut Sarah ingin ditemui Si Gajah, maka berhentilah mendecak lidah! Lebih baik kau suruh awan-awan itu berbenah sebelum hujan yang mereka tumpahkan seharian ini membuat lantai dapur digenangi air cokelat berlimpah-limpah!

Tak terasa, walau hujan belum berhenti, langit yang siang tadi berwarna abu-abu kini telah berubah jadi biru. Sudah berapa lama aku berbaring kaku layaknya batang bambu…? Aku pun tak tahu. Suara kodok sekarang mulai sahut-menyahut mengiringi lantunan jangkrik yang mula-mula merdu, tapi aku tahu sekali bahwa lama kelamaan paduan suara mereka akan menjadi bunyi yang mengganggu.

Kutatap lekat-lekat ujung batang kelapa karena senja akan digantung kembali di situ. Bukan senja yang jingga, tapi biru yang semakin lama semakin mengungu, lalu menghitam menjadi gelap yang melaluinya beberapa menit lagi suara lolongan anjing terdengar mendayu-dayu. Jangankan burung tukan, di desa ini belum pernah kudengar ada burung hantu.

Sementara, aku juga masih begitu kaku memikirkan kemungkinan-kemungkinan semu yang terkandung dalam saran si burung tukan yang, menurutku, tidak jitu.

Anehnya, Sarah mempercayainya dan menaruh harapan yang besar padaku.

Aku kira Wafda dan Lili bukan menolak gajah terbang. Aku yakin, jika mereka mendengar cerita itu, mereka pasti juga ingin membuat mesin sayap agar sapi-sapi dan kambing-kambing di sini bisa terbang. Tapi apakah bahan yang akan mereka pilih untuk membuat kerangka dan daun sayap yang bisa membuat kita melayang? Jenis burung yang mana pula yang tahu-tahu akan datang—lengkap dengan pertunjukan kepakan sayap yang memalukan dan bualan tentang kepiawaian melompat—ke depan pintu rumah mereka untuk akhirnya menyerahkan secarik kertas yang digambari sketsa cemerlang?

Kuharap, Wafda, detik ini, atau Lili, bisa muncul tiba-tiba dari balik pintu yang sudah tenang, berhenti berderak-kertak—gerak angin malam yang mengiringi hujan di kala gelap ternyata tak sekencang tariannya tadi siang. Bayan tak sejauh itu, kan? Aku harus bertemu mereka sekali lagi sebelum melompati sang waktu, kembali ke ambang pintu rumah di Suwon. Sebenarnya, sejak dua hari lalu, aku menduga-duga bahwa, jangan-jangan, berbagai jenis burung yang suka memberikan petuah—kepada orang-orang yang membutuhkan—tidak mau ikut-ikutan menjadi korban perjudian sebagaimana yang dialami burung puyuh di desa ini. Dengan kata lain, burung yang akan memberikanku sketsa tak akan pernah kutemui di sini. Burung terakhir yang kudengar sudah kabur ke Meno. Jadi, satu-satunya yang bisa membuatkan sketsa untukku hanyalah Wafda dan Lili. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.