026 – Legenda Benda Temokan

Di desa Kelinti Capung, badan si sosok kecil mungkin sekali tidak terlihat kecil, tapi sudah pasti pula tidak bisa dinilai besar. Bahkan, di awal ketibaannya dengan kondisi yang terkapar sakit, bisa dibilang akibat perjalanan melompati ingatan ke masa depan, ukuran badannya pun terlihat biasa-biasa saja. Tak pernah ada gejala-gejala yang disebutkan dalam mitos-mitos layar kaca—tentu saja itu hanyalah efek dari ketidaklengkapan ilmiah yang tak jarang diakui secara terburu-buru sebagai kebenaran hiburan dalam realitas populernya. Orang bilang, perjalanan melintasi waktu akan mengubah ukuran badanmu. Nyatanya, si sosok kecil tidak mengalami hal-hal seperti itu. Desa ini memang membuat nafsu makan menjadi lebih besar dibanding hari-hari biasanya. Namun, frekuensi makan yang lebih sering dan jumlah nasi yang lebih banyak tak juga membuat badan si sosok kecil menjadi lebih besar, apalagi jika ukurannya dinilai dari sudut pandang mata Sarah.

Di suatu siang, pada saat kekuatan badannya telah pulih oleh aroma daun bambu dan bising serangga-serangga pohon, si sosok kecil memutuskan untuk berjalan-jalan barang sebentar, melawan terik, untuk menemui beberapa kawan. Ia melintasi setapak yang bisa diduganya sudah sering dilintasi roda sepeda motor, langkah pejalan kaki, dan anjing-anjing, juga sapi-sapi. Di kanan-kiri setapak itu berderet semak-semak hijau yang di baliknya berdiri lemah pagar-pagar bambu dan pepohonan kelor. Setapak itu menghubungkan sebuah rumah kayu di tengah kebun dan berpetak-petak lahan bekas sawah yang juga diduduki oleh beberapa rumah kayu yang lain. Pada jarak langkah keseratus, setapak itu dibelah oleh parit yang—saat ia melewatinya—terlihat tak berair tapi berdaun-daun kering.

Itulah hari pertama ia berjalan-jalan di desa ini, di kali keempat kunjungannya ke wilayah tenggara negeri kita. Si sosok kecil belum tahu bahwa beberapa hari kemudian, langit akan mengolok-olok dirinya. Langit sudah punya rencana untuk menghasut awan agar mau menurunkan hujan di waktu-waktu yang tak seharusnya. Akibatnya, pada minggu kedua keberadaannya di desa yang tak mengenal legenda gajah terbang itu, si sosok kecil mau tak mau harus menghadapi sejumlah peristiwa menyebalkan: kehilangan sandal, terjerembap satu kali di atas lumpur, sedangkan kakinya berkali-kali terbenam ke dalam becek, celana yang kotor tak berkesudahan, diserang kutu pohon hampir tiap malam, dan handuk yang terbang dibawa angin lalu basah di tengah hujan, dan jemuran yang tak kering. Tak kurang dari seminggu, si sosok kecil merasa desa Kelinti Capung seakan-akan terus menegur—kalau bukan menolak—keberadaannya.

Namun sebenarnya, seperti yang selama ini ia tahu, desa Kelinti Capung sejak dahulu tak pernah memancing kecurigaan siapa pun meskipun tradisi saling berkelakar sudah lama menjadi bagian dari hari-hari penduduknya. Suatu saat nanti, pada sebuah peristiwa akibat lompatan pengetahuan—sekali lagi kita mencatat jenis lompatan lainnya di sini—tradisi berkelakar itu agaknya akan menjadi sebuah bahasa komunikasi yang revolusioner dalam menjaga kewarasan di tengah-tengah kegilaan politik dan kejahilan media; tradisi itu bisa saja merupakan strategi lain untuk mengempang pengaruh buruk dari cerita dan berita palsu. Sekarang ini, peluang itu mungkin memang belum disadari benar oleh para pengelakar dusun. Akan tetapi, tenang saja, empat pendendang sejarah desa telah mengabarkan itu dalam beberapa kesempatan pertemuan.

Seorang temannya sudah menanti di salah satu petakan tanah bekas sawah. Di situlah berdiri dua buah huntara. Pada salah satunya, ada teras ringkih tempat temannya itu duduk menikmati segelas kopi sembari menghindari cahaya matahari yang terik—tentu saja pada hari itu langit belum mulai mengolok-olok si sosok kecil. Manusia yang menanti di teras itu adalah seorang teman lama; teman yang mengajarkannya cara mencari kerang di pinggiran pantai, juga orang yang pernah bercerita kepadanya tentang benda-benda pusaka yang bisa terbang. Si sosok kecil ingat, pada suatu hari di waktu yang lebih lampau di tengah-tengah kebun, temannya itu bercerita bahwa di desa Kelinti Capung, orang-orang mengenal apa yang disebut benda-benda tradisi yang diwariskan turun-temurun. Si sosok kecil pernah mendengar istilah untuk benda semacam itu dari temannya ini, yaitu sebuah kata yang terdengar seperti “temokan”. Entah benar istilah itu yang digunakan atau tidak, tapi kata yang berbunyi “temokan”-lah yang menempel di kepalanya.

Konon, “benda temokan” harus dijaga oleh orang yang menjadi ahli warisnya. Tidak boleh hilang. Jika hilang, dia harus ditemukan—dan pasti akan memang ditemukan, karena memang begitulah sifat dari “benda temokan”. Ia akan selalu ditemukan oleh orang-orang yang berhak atau yang membutuhkan. Jika ada orang yang mencuri atau mengambil tanpa izin sebuah “benda temokan” yang bukan miliknya atau menjadi haknya, dia tidak akan tenang selama “benda temokan” yang diambilnya itu tidak dikembalikan ke pemilik aslinya. Ada juga yang percaya bahwa “benda temokan” dapat membantu pekerjaan apa saja menjadi lebih mudah atau membuat suatu keadaan menjadi lebih baik dan berkualitas. Contohnya, jika “benda temokan” yang dimaksud berupa parang (dengan kata lain, “parang temokan”), maka pekerjaan membelah kayu dan bambu akan menjadi lebih mudah dan cepat, karena “parang temokan” sudah pasti adalah parang paling tajam di antara yang paling tajam. Jika dia berbentuk pakaian, “baju temokan” adalah yang terbaik di antara yang terbaik. Jika benda itu adalah “sepeda temokan”, mungkin dia adalah sepeda terlincah di antara yang terlincah.

Niat si sosok kecil mengunjungi temannya itu memang untuk mencari tahu lebih jauh tentang “benda temokan” yang legendaris. Lebih khususnya: “benda temokan” yang bisa terbang.

Dulu, temannya itu berkata bahwa, biasanya, “benda temokan” memiliki pasangan atau kawanan. Temannya mengaku bahwa pamannya mempunyai sebuah “pisau temokan” yang sebenarnya adalah salah satu dari “empat pisau temokan”. Tiga pisau lainnya dimiliki oleh saudara-saudara pamannya yang tinggal di daerah yang berbeda. Jika paman dari teman si sosok kecil itu tinggal di utara, masing-masing saudaranya tinggal di selatan, timur, dan barat. Jika mereka bertemu di satu titik, dan saling menunjukkan masing-masing pisau yang mereka pegang, maka keempat “pisau temokan” itu tiba-tiba akan bergerak sendiri saling mendekat sesuai dengan arah empat penjuru mata angin. Saat keempatnya sudah berdekatan, “pisau-pisau temokan” itu akan berputar-putar dan terbang dengan membentuk formasi menyerupai gasing yang melayang-layang di udara.

Si sosok kecil sedang menimbang-nimbang, jika saja benda seperti itu memang ada di desa ini, dan jika dia bisa mendapatkan atau menemui orang yang mempunyainya—khususnya yang seperti “pisau temokan” itu—setidaknya dia bisa mendapatkan peluang untuk membuat atau mengetahui cara membuat benda terbang; dia akan bisa membuat mesin sayap untuk menerbangkan Si Gajah. Mungkin saja paman-paman dari temannya itu masih hidup dan masih menyimpan “pisau temokan” yang diceritakan kepadanya, jadi dia bisa meminjam setidaknya selama satu bulan, bukan hanya satu pisau tapi keempat-empatnya, untuk diteliti atau digunakan untuk menerbangkan banyak hal. Mungkin saja, kan? Si sosok kecil sadar bahwa tentu tidak sembarangan untuk bisa memiliki ataupun meminjam “benda temokan”, karena pasti ada syarat-syarat tertentu yang harus dia penuhi atau lalui. Tapi, masa bodohlah dengan itu semua sekarang ini, yang jelas dia harus bertemu dengan paman-paman pemilik pisau-pisau itu.

“Kau sudah sehat?” tanya temannya, saat si sosok kecil sudah berada di depan huntara.

“Sudah…” jawab si sosok kecil.

“Duduklah!” kata temannya sopan. “Mau kopi…?”

“Bisakah kau pertemukan aku dengan orang yang menyimpan ‘benda temokan’ di desa ini…?!” tanya si sosok kecil, sembari duduk, tanpa basa-basi.

Temannya itu menatapnya dengan mata terbelalak. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.